TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Sabtu, 06 Oktober 2012

Peran Kita yang Setia dengan Idealismenya


Peran yang Setia dengan Idealismenya
Oleh: Taufik Aulia Rahmat

Dunia kampus benar-benar memberi pemahaman yang sangat berbeda dibanding ketika dulu masih duduk di bangku sekolah. Pemahaman yang tidak lagi berkutat pada ‘aku’. Tapi pemahaman yang mulai peduli tentang ‘mereka’ dan ‘kita’ sebagai manusia dan bangsa. Pemahaman ini memberikan saya kesadaran tentang idealisme khas mahasiswa dan realitas yang kadang membuat idealisme tidak mampu berbicara banyak.
Idealisme khas mahasiswa yang saya maksud adalah sama seperti pemahaman dan keyakinan anak-anak muda generasi 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998, dimana mereka adalah orang yang bebas dan merdeka dalam berpikir, mengekspresikan ide dan gagasannya sebagai kaum intelektual. Dan menginginkan kemerdekaan dan kejayaan untuk bangsanya. Yang saya kagumi dari mereka adalah mereka orang-orang dengan kapasitas dan prestasi luar biasa, namun memiliki akar yang kuat, yang tetap menyerap sari-sari pati kehidupan dan kebaikan (grass root understanding but have world competence).
Idealisme tersebut mengakar kuat dalam jiwa dan muncul ke permukaan sebagai integritas dan kredibilitas yang tinggi sebagai anak bangsa. Idealisme ini selalu berlaku tanpa ada masa kadaluarsa, selalu diwariskan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan perubahan yang dinanti. Idealisme ini muncul tanpa dipaksa, murni dari dasar nurani dengan kesadaran tinggi dan kecintaan yang mendalam.
Tanpa perlu pretensi, setiap pemuda mewarisi idealisme ini dengan sepenuh hati. Idealisme yang menjiwai setiap perubahan. Idealisme yang mengajarkan turun ke jalan, bukan hanya sekadar demonstrasi dan orasi. Tapi aksi nyata membangun negeri berupa aksi kongkrit terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat tempat kita dibesarkan sebagai aktualisasi dari gelar kaum intelektual yang disandang. Idealisme ini mengajarkan keberanian dalam bertindak dan tanggung jawab bahwa masa kini dan masa depan negeri ini ada di tangan anak-anak muda.
Hingga sejarah bercerita kepada kita bahwa sejarah negeri ini adalah cerita anak-anak muda. Tahun 1908 menjadi momentum kebangkitan. Tahun 1928 menjadi momentum penyadaran tentang kesamaan(bukan perbedaan), persatuan, dan kesatuan. Tahun 1945 merupakan momentum yang dinanti dari perjuangan panjang untuk mengumandangkan kedaulatan di tanah sendiri. Tahun 1966 merupakan akhir dari PKI di Indonesia dan awal orde baru. Dan pada 1998 terjadi peristiwa besar yang menjadi momentum perantara kita menuju era sekarang.
Pada setiap momentum perubahan, pemuda terpelajar selalu ada di depan dan sangat penting perannya. Mereka menjadi inisiator sekaligus motor perubahan. Bahkan pada titik tertentu mereka menjadi katalisator yang memaksa dan memberi arah perubahan. Setiap jaman ada rijalnya.
Saya sadar betul bahwa rijal atau pemuda terpelajar di zaman ini salah satunya adalah saya. Berbeda ketika dulu di masa sebelum kuliah, saya adalah anak kecil ingusan yang fokus hidupnya hanya seputar ego dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Dan kini saya berada pada fase yang pernah dilalui orang-orang besar pengusung perubahan dulu, yakni mahasiswa.
Sebenarnya sudah sejak SMA saya dikenalkan dengan sesuatu bernama agent of change, iron stock, dan social control. Tapi ketika itu masih belum membekas dan hanya sekadar tahu saja. Dan sekarang saya hadir di lingkungan kampus yang mengajarkan banyak hal, termasuk idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa. Sepertinya saya benar-benar mewarisi idealisme tersebut.
Semakin kesini saya semakin sadar, idealisme warisan itu kini mendapat banyak tantangan seiring perkembangan zaman. Apa jadinya ketika idealisme tak sesuai realita atau realita tak sesuai idealisme?
Globalisasi yang menghantui
Saya sempat tertawa membaca ilustrasi di notes Facebook-nya Bang Ridwansyah Yusuf Achmad, Presiden KM ITB 2009-2010, tentang globalisasi. Seseorang sempat ditanya perihal globalisasi.
Pertanyaan : “Apakah contoh yang paling kongkrit dari Globalisasi?”
Jawaban : “Kematian Lady Diana.”
Penasaran : “Bagaimana bisa seperti itu?”
Jawaban : “Lady Diana adalah orang Inggris yang mempunyai pacar orang Mesir, mengalami kecelakaan di sebuah terowongan di Perancis saat mengendarai mobil buatan Jerman yang mesinnya berasal dari Belanda. Supirnya orang Belgia yang mabuk karena minum whiskey Skotlandia.
Saat terjadinya kecelakaan itu, Sang Putri sedang dikejar-kejar paparazzi asal Italia yang mengendarai sepeda motor buatan Jepang. Sebelum meninggal, Lady Diana dirawat oleh seorang doktor Amerika dengan obat-obatan yang diproduksi di Brazil. Dan tulisan ini mulanya dikirim oleh seorang Armenia menggunakan teknologi Bill Gate.
Ketika Anda sedang membaca tulisan ini kemungkinan menggunakan salah perangkat komputer atau handphone yg memakai chip buatan Taiwan dengan monitor buatan Korea yang dirakit buruh-buruh asal Filipina di sebuah pabrik di Singapura. Diangkut dengan kereta oleh orang India dan dibajak oleh orang Indonesia dan akhirnya dibeli oleh Anda.”
Nah, humor ilustrasi di atas mengambarkan betapa globalisasi seperti meniadakan batas antarnegara. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial tingkat dunia yang mempertemukan erbagai tempat (lokalitas) sedemikian rupa sehingga kejadia-kejadian yang terjadi di suatu daerah dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang berlangsung di tempat-tempat yang sangat jauh dan demikian pula sebaliknya [1].
Globalisasi mempengaruhi tiap aspek kehidupan. Dalam praktiknya arus informasi tiap detiknya dapat diakses kapan saja dan dimana saja, bahkan dalam perdagangan pun sudah diberlakukan kawasan perdagangan bebas (free trade area) yang bagi beberapa negara hal ini menjadi ancaman.
Sebuah konsekuensi logis yang tercipta dari globalisasi adalah jejaring kerjasama yang semakin lebar dan telah melewati batas geografis, etnis, agama, bahkan idealisme. Bagi Indonesia tampaknya hal ini masih menjadi ancaman. Kita semua menyaksikan banyak produk-produk luar negeri masuk ke pasar-pasar Indonesia. Mulai dari barang elektronik berwujud telepon seluler dilengkapi televisi hingga tusuk gigi pun diimpor. Masyarakat ekonomi di negeri ini seperti sangat sulit bersaing dengan produk-produk buatan Cina yang terkenal murah-meriah.
Sisi lain dari globalisasi adalah berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi. Siapapun bisa mengakses informasi yang terjadi di belahan bumi manapun. Berkembangnya jejaring sosial media pun membawa dampak yang luar biasa. Seseorang dapat menjadi sangat terkenal hanya dengan mengunggah video lipsing atau tarian caiyya caiyya ala Norman Kamaru. Bahkan revolusi Mesir hingga menumbangkan Husni Mubarrak tidak lepas dari peran jejaring sosial media.
Zaman sudah berubah, globalisasi memberi warna tersendiri bagi zaman ini dan orang-orangnya. Hadirnya globalisasi hari ini lebih seperti ancaman atau momok yang menakutkan. Semula globalisasi diharapkan mampu menjanjikan masa depan dunia yang lebih indah. Tapi kenyataannya dunia—termasuk Indonesia dipaksa untuk menerima bahwa sistim ekonomi yang paling produktif adalah sistim yang ramah pada pasar. Maka jadilah pasar Indonesia sebagai pasar dengan watak market-friendly. Kita dipaksa lupa bahwa pasar tak pernah punya nurani, seratus persen mencari profit tanpa mempertimbangkan apa pun juga. Bila kita cermati, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin cenderung makin menganga lebar. Di akhir dasawarsa 1990-an, 20 persen penduduk dunia yang hidup di negara maju menikmati 86 persen penghasilan dunia, sedangkan 20 persen paling bawah hanya mendapat 1 persen penghasilan dunia. Sekitar 1/6 penduduk dunia berpenghasilan kurang dari satu dolar sehari. [2].
Belum lagi di negeri ini terdapat banyak sekali korporasi-korporasi besar yang mencengkeram kencang tanah-tanahnya, bahkan sampai mencekik leher rakyat-rakyatnya. Korporasi-korporasi besar tersebut dengan mudah mendikte, bahkan kadang-kadang membeli pemerintah meloloskan keinginan mereka. Sebut saja Freeport yang sejak dahulu sudah mengobrak-abrik kesucian ibu pertiwi di Papua. Di sisi lain sumber daya alam kita terus saja dikeruk dan dihabisi. Menurut data British Petroleum Statistical Review, Indonesia hanya memiliki cadangan batubara sebesar 4,3 miliar ton atau 0,5 persen dari total cadangan batubara dunia menjadi pemasok utama batubara China yang memiliki cadangan batubara sebesar 114,5 miliar ton atau 13,9 persen dari total cadangan batubara dunia. Saat ini, Indonesia telah mengekspor 240 juta ton dari rata-rata produksi 340 juta ton per tahun. Di sektor migas, penguasaan cadangan migas juga masih didominasi oleh perusahaan asing. Dari total 225 blok yang dikelola kontraktor kontrak kerjasama non-Pertamina, 120 blok dioperasikan perusahaan asing, 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional, dan 77 blok sisanya dioperasikan oleh perusahaan gabungan asing dan lokal [3].
Globalisasi dapat menjadi ancaman juga sekaligus tantangan. Tergantung darimana sudut pandang kita melihat. Akan lebih baik jika kita memilih pendapat bahwa globalisasi adalah tantangan. Tantangan untuk lebih kreatif agar bisa survive dari serangan produk-produk luar negeri dan mampu bersaing di perdagangan internasional. Tantangan bagaimana pendidikan, riset, dan teknologi, kita mampu menyusul dan melampaui negara-negara maju. Tantangan untuk mampu menguasai teknologi informasi dan mengontrol masuknya nilai-nilai dari luar yang bisa mempengaruhi karakter anak-anak remaja khususnya dan masyarakat secara umum. Tantangan bagaimana membebaskan negara ini dari belenggu-belenggu asing atas penguasaan sumber dayanya.
Dengan demikian kita semua mafhum bahwa globalisasi yang terjadi dengan didukung perkembangan teknologi informasi dan komunikasi benar-benar membawa ekses yang besar bagi dunia. Ia bisa menjadi tantangan, tapi juga bisa menjadi ancaman bak momok yang menakutkan.
Konsolidasikan Gerakan Kita Segera
Kembali kepada idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa dengan realita kekinian yang menghadang di depan. Kemudian kita melihat globalisasi ini juga memiliki pengaruh yang demikian besar pula pada gerakan mahasiswa. Globalisasi juga menjadi tantangan bagi gerakan pemuda dan mahasiswa hari ini. Tapi seketika globalisasi bisa saja menjadi ancaman kala gerakan kita belum mampu membaca trend globalisasi dan masih terjebak pada romantisme masa lalu di jalanan. Globalisasi menuntut gerakan mahasiswa lebih terbuka, inovatif, dan dinamis agar dapat selalu mengikuti ritme perkembangan globalisasi. Memang menjadi sebuah dilema, apakah mahasiswa akan tetap bergerak dengan “gaya lama” yang bisa jadi selama ini telah menuai banyak sejarah romantis yang sulit dilupakan, ataukah mahasiswa bersedia mereposisi, dan merevitalisasi gerakannya agar dapat diterima dan bermanfaat untuk masyarakat. Kunci utama dari perubahan ini adalah: tetap dengan idealisme ala mahasiswa. Ini PR kita bersama.
Nah, berikutnya yang akan kita hadapi adalah mahasiswa itu sendiri. Perkembangan zaman juga telah mempengaruhi dan mengarahkan pola pikir mahasiswa terjebak dalam arus yang cenderung materialistis. Coba saja lakukan survei pada sebagian mahasiswa tentang apa tujuan mereka mencari ilmu di perguruan tinggi. Kebanyakan akan menjawab supaya mendapat pekerjaan yang layak, agar nanti dapat hidup dengan mapan dan nyaman. Tak ada yang salah. Hanya saja yang jelas tampak adalah mahasiswa amat terpikat dengan hal ini sehingga lupa dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Janganlah lupakan tanggung jawab dan idealisme ini!
Setelah idealisme warisan pusaka ini masih tetap terjaga dan terpelihara, selanjutnya gerakan mahasiswa harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan semua peluang dan fasilitas yang ada untuk mendukung idealismenya menjadikan negeri ini sebagai negeri mandiri dan sejahtera. Gerakan mahasiswa sangat diharapkan mampu menstimulus keinginan menyuarakan ide, gagasan, dan opini dari pikiran seseorang ke publik.
Zaman ini juga mengisyarakan bahwa gerakan mahasiswa sekarang tidak melulu adalah sekadar soal politik, kebijakan, dan kekuasaan. Tapi juga yang paling penting adalah menyiapkan diri kita sendiri untuk memberikan kontribusi nyata sesuai bidang-bidang yang ada ketika saatnya tiba kita memimpin.
Mahasiswa dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori minat dan potensi, yakni: aktivis, atlet, seniman, akademisi, dan entrepreneur. Bila setiap kategori ini mampu dibesarkan secara massif, maka potensi yang besar ini setidaknya melegakan kita sementara bahwa kita sudah siap untuk berkontribusi dan memimpin di segala bidang untuk membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Kita percaya Indonesia akan mandiri dan sejahtera manakala kelima potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik.
Jangan sampai gerakan mahasiswa tidak melibatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh mahasiswa yang ada. Karena salah satu tujuan keberadaan gerakan mahasiswa adalah untuk mengoptimalisasi dan mengsinergikan potensi. Bila gerakan mahasiswa hanya didominasi oleh sekelompok kecil mahasiswa yang menghegemoni, maka gerakan tersebut sangat dipertanyakan kredebilitas dan representasinya.
Tentu fokus kita tetap pada bagaimana Indonesia mampu benar-benar meraih kemerdekaannya secara riil sehingga kita bisa hidup mandiri dan sejahtera. Untuk bisa menjadi Indonesia yang mandiri dan sejahtera, ada beberapa parameter yang harus dipenuhi. Pertama, aspek ekonomi. Disini kita butuh sumber daya manusia yang unggul, teknologi tepat guna, dan kesejahteraan sosial.
Kedua, aspek politik. Merupakan hal yang penting dan perlu disegerakan adalah: kestabilan politik dalam dan luar negeri, pemimpin yang tidak terikat dengan rakyat, serta produk politik dan kebijakan poliik yang memakmurkan rakyat.
Ketiga, aspek sosial budaya. Bangsa kita menjadi bangsa yang berkarakter, pendidikan berkualitas dan terjangkau oleh semua kalangan, serta kualitas hidup yang layak.
Keempat, aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Kepercayaan diri untuk menggunakan dan memberikan teknologi buatan anak bangsa kepada masyarakat kita dan dunia, nilai tamah potensi kekayaan alam dan kompetensi kekayaan insani Indonesia, serta sinergisasi kebijakan IPTEK nasional
Di atas sudah dibahas tentang lima minat dan potensi yang harus dikembangkan secara massif untuk menyokong perubahan. Pada tataran berikutnya, dari kelima minat dan potensi ini kita mencoba menyarikan menjadi tiga kekuatan utama untuk membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera: akademisi, bisnis, dan pemerintah. Dan inilah yang disebut konsep Triple Helix yang merupakan konsep sinergi tiga kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi kondusif.
Konsep ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang dilirik asing. Kita berharap kita benar-benar mandiri. Manusia-manusia kita mampu mengolah dan menguasai sendiri sumber daya alamnya. Merancang dan membangun sendiri teknologinya. Mengeluarkan kebijakan yang memproteksi kepentingan rakyat dan sumber dayanya. Dan mampu memberikan sokongan dana serta memasarkan produk-produk dalam negeri secara efektif.
Menurut Global Competitiveness Report terkini, Indonesia duduk di peringkat ke-30 dari 142 negara, ditilik dari kapasitas inovasinya. Ini merupakan keunggulan komparatif yang tak bisa dipandang sebelah mata karena Indonesia bahkan mengungguli negara berekonomi lebih maju, seperti Spanyol di peringkat ke-36 dan Hongkong peringkat ke-39. Namun, ironisnya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia mencapai 1,2 juta orang (2012).
Kondisi ini menunjukkan bahwa belum ada padu padan (link and match) antara kampus dan pasar kerja. Dalam tataran ideal, kampus seharusnya menjadi motor penggerak penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar menghasilkan pencari kerja. Kita terpaksa harus mengakui, perguruan tinggi baru sebatas menjadi ”mesin” yang memproduksi sebanyak mungkin sarjana. Dan inilah yang juga menjadi tantangan kita selanjutnya [4].
Terakhir dalam tulisan ini, tentang peranku dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Secara sangat sadar bahwa saya adalah bagian yang tak terpisahkan dari gerakan anak-anak muda, gerakan dengan idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa yang memperjuangkan kebenaran atas nama rakyat Indonesia. Saya adalah bagian dari gerakan yang mulai meluaskan manuvernya pada sector-sektor vital untuk membangun negeri ini.
Agent of change, iron stock, dan social control, harus dimaknai dengan makna yang meluaskan peranannya. Mencoba mencari-cari peran saya dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera dengan melihat posisi dan amanah saya saat ini maka:
1.      Saya adalah pewaris idealisme yang menjadi semangat perubahan dan kejayaan tiap zamannya. Namun, saya harus jeli dalam melihat tantangan dan menangkap peluang sebab zaman terus berubah dan gerakan yang fleksibel dan adaptif sangat diperlukan.
2.      Saya memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab terhadap sejarah yang telah ditorehkan dan tanggung jawab terhadap masa depan yang akan diukir. Tanggung jawab tentang kesadaran diri dan penyadaraan orang-orang di sekitar saya.
3.      Saya bersyukur ditakdirkan menuntut ilmu di Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Peran saya adalah mengaktualisasikan keilmuan saya ini dan menjadi solusi atas banyaknya sarjana yang menganggur. Sejujurnya saya memiliki mimpi untuk membangun lembah yang akan mengkatalis tumbuhnya perusahaan-perusahaan bidang IT, seperti Stanford University dengan Silicon Valley-nya. Harapan saya adalah pengembangan IT ini mampu menjadi katalisator kemajuan di bidang-bidang lainnya.
4.      Amanah saya sebagai Kepala Departemen Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro mengharuskan saya untuk setia mengawal setiap kebijakan dan produk politik negeri ini sambil sesekali turun ke jalan. Teori Lord Acton mengingatkan saya bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, dan manusia dengan kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya (power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely) [5].

Referensi:
[1]       Rais. Amien, Agenda-agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia,Yogyakarta: PSSK, 2008.
[2]        Ibid.
[3]        Kompas, Rabu, 25 Mei 2011.
[4]       Bakrie. Anindya N, Triple Helix dan Percepatan Inovasi,” September 4, 2012, Available: http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11805.
[5]       X. Sultan Hamengku Buwono, Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, Jakarta: Gramedia, 2008.
06.29 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 05 Oktober 2012

Ngapain Repot-repot Cari Inspirasi?


02.25 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 21 September 2012

About Ourself, Just The Way You Are


Bahkan sampai sekarang saya selalu dibuat pusing dengan pertanyaan yang tidak henti-hentinya menghujani alam pikir dan alam khayal saya. Tentang retorika Tuhan menciptakan sesosok makhluk nista penuh dosa seperti saya… Nista bung! Nista! Kotor! Haha…
Tapi keberadaan kita di dunia yang fana ini benar-benar tanpa perlu pretensi. Meski begitu tetap semua harus memiliki definisi karena sesuatu semahal apapun jika tak memiliki definisi ianya tak akan berarti. Kecuali cinta. *Hehe apaan sih?
Tak perlu juga sampai menggunakan semantik untuk memperoleh definisi, cukup saja dengan mengamati, merasakan, dan menjadi. Karena definisi tak selalu sempurna jika harus diwujudkan dalam kata-kata.
Kadang-kadang pertanyaan ini seperti menampol saya bolak-balik ketika lagi-lagi saya teringat tentang eksistensi saya di dunia. Who are you? Ketika diri nista ini benar-benar butuh definisinya sendiri.
Dalam sebuah kesempatan diskusi sore ini di Bundaran Widya Puraya, definisi ini perlahan muncul dan menyeruak ke permukaan dunia nyata setelah sekian lama mengendap dalam-dalam di alam bawah sadar.
Semua orang pasti sepakat bahwa kita adalah manusia. *nah lho yg gak ngerasa manusia ayo cung.. Manusia yang terlahir, bukan tanpa sengaja. Tapi memang setelah melalui proses panjang penciptaan. Terlahir selain bukan tanpa sengaja terlahir bukan untuk sia-sia. Inilah kita. Nah, faktanya sekarang adalah terlalu banyak waktu atau bagian-bagian kecil hidup kita yang disia-siakan. Harusnya sih tiap detiknya itu menghasilkan karya-karya yang tak sederhana. Sebut saja ada manfaat yang dituai.
Tapi jangan lupa kalau kita adalah orang yang beruntung. Untung terlahir sebagai manusia. Bukan binatang, bukan tumbuhan. Gak kebayang kalau kita terlahir sebagai nyamuk. Baru lahir, tiba-tiba udah digaplok dan innalillahi. Kita lahir sempurna, meski sekarang kadang-kadang juga labil. Tapi physically kita sempurna. Lahir dengan pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang sudah aktif. Ga perlu lagi kirim sms aktivasi untuk mengaktifkan semuanya. Alhamdulillah kita terlahir di tengah-tengah orang yang tepat, kita ditaqdirkan bertemu dengan kedua orang tua kita dan sanak-saudara kita yang semuanya memang sudah direncanakan Yang Di Atas, tanpa ketidaksengajaan. Terlalu banyak kalau coba dihitung satu per satu. Karena kalau coba dirunut dari lahir sampai sekarang segede ini, tiap scene dalam hidup kita seperti alur keberuntungan. Alhamdulillah.
Dan nikmat yang paling indah adalah Allah adalah tuhan kita.
*weeee jangan bawa-bawa Tuhan bero!
*emang kenape? Gue anak Rohis and I’m not terrorist! Haha
Hidup ini terasa sangat nikmat. Betapa tidak, sebab kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia ini sudah lengkap dengan fasilitas-fasilitas social. Kita tidak terlahir sendiri. Kita terlahir sebagai makhluk sosial. Yang hidup berdamping-dampingan dan cenderung memenuhi kebutuhannya. Sehingga saling berinteraksi. Maka coba definisikan diri kita sebagai pribadi yang supel. Yang mudah bergaul dan berinteraksi. Yang tak perlu banyak sarat untuk memperoleh teman. *because you are not alone bro
Tak ada yang terlahir sia-sia. Harusnya begitu. Orang tua kita sudah membantu kita memberikan definisi untuk diri kita sendiri. Ya, nama. Hal paling istimewa adalah ketika kita lahir dengan nama yang berbeda. Unik dank has, namu sarat makna dan do’a. Dalam tiap nama ada harapan, impian, dan do’a. Sudah tau arti nama diri sendiri? Konyol kalau sudah hidup puluhan tahun tapi tak tahu arti nama sendiri. Segera cari tahu! Dan jadilah lebih hebat, sebab kau sudah memiliki satu definisi tentang dirimu! Dari namamu.
Waktu tak pernah hirau yang mati dan yang hidup. Tidak perlu persetujuan kita. Terus datang tanpa diundang. Akan berlalu tanpa dihalang. Tak ada tawar menawar untuk satu detik berlalu. Bahkan Allah sampai bersumpah pada waktu. Diri ini adalah kumpulan dari waktu-waktu. Berlalu sehari, berkuranglah diri kita sebagian. Maka saksikanlah bahwa diri ini adalah sang pembelajar dan pejuang. Yang melintasi waktu yang kadang menjadi sahabat saat nikmat datang bertubi-tubi. Tapi kadang waktu juga menjadi sosok yang paling mengerikan karena kekakuannya saat kematian menjelang, dan kau tak mampu mengintervensinya, meskipun hartamu berlimpah, meskipun ayahmu orang terpandang.
Pernahkah kita berpikir bahwa kita adalah orang-orang yang istimewa? Yang jelas semua sepakat bahwa kita terlahir berbeda. Nama, fisik, suara, bakat, kesukaan, semuanya berbeda. Dan itulah potensi. Maka katakana bahwa kita adalah orang-orang unik. Satu paket raga dari atas hingga bawah yang ruh Anda tempati adalah limited edition. Satu-satunya di dunia. Tak ada yang lain selain dirimu! Lalu, kenapa tidak kita keluar rumah, berjalan dengan penuh percaya diri untuk kemudian berjuang dalam belajar dan berjuang mengarungi kehidupan untuk meraih prestasi tertinggi?
Terlalu banyak definisi. Sederhananya katakanlah kita hidup, bukan orang mati. Jelas berbeda antara yang hidup dengan yang mati. Tapi tak jarang, banyak orang fisiknya hidup tapi seperti orang mati. Maka disini perlu kita sadar tentang apa hakikat hidup dan kehidupan. Singkatnya apa sih hidup buat kamu?
Jadi inget Mapel Biologi yang dulu gurunya Bu Afifah. Beliau bilang bahwa makhluk hidup itu cirinya bergerak. Dan tulisan ini sangat sepakat untuk hal itu. Bahwa tiap yang hidup dan bernyawa secara alami ia akan terus bergerak. Berubah. Ibarat air tempat tinggalnya para ikan, ia akan segar manakala terus mengalir, tapi akan kotor dan busuk saat diam selalu. Konsekuensi logis dari bergerak adalah perubahan. Berubah jadi semakin baik atau semakin buruk. Pilihannya ada tiga, jika taka da perubahan, maka merugi. Jika lebih buruk, maka celaka. Jika lebih baik, maka beruntung. Silahkan pilih yang mana.
Hidup tak sesederhana junk food, sekali pesan langsung jadi. Atau tak seinstan mie instan, sekali rebus, tinggal lahap dan sudah. Tapi hidup adalah proses panjang. Bukan sekedar rutinitas biasa yang tanpa sengaja terulang dengan hal yang sama tiap harinya. Baiknya hidup itu tiap harinya berbeda. Sebut saja itu kejutan dari Tuhan. Intinya hidup adalah proses yang tak pernah berhenti. Proses yang lebih rumit dari siklus instruksi dan pemrosesan data dalam CPU. Ada input, juga ada output. Input baik yang baik maka outputnya pasti baik. Tantangannya adalah: live your life! Dengan proses-proses yang menghidupkan kehidupan.
Hidup bisa diterjemahkan sebagai pencarian sebab hidup adalah misteri. Meskipun tak semuanya adalah misteri, tapi esok adalah misteri yang dapat dijawab jika dan hanya jika kita berani bergerak bersama bergulirnya waktu. Nanti juga misteri. Segala apa yang belum terjadi adalah misteri ilahi yang bisa jadi itu adalah kejutan dari Sang Pencipta. Kita tak tahu, tapi kita mengerti bagaimana merancangnya agar misteri itu menjadi sesuatu yang dicari dan dinanti.
Boleh juga jika hidup diterjemahkan sebagai pengabdian dengan sepenuh loyalitas dan totalitas. Setia dengan apa yang menjadi prinsip. Total dengan apa yang disebut ‘kerja’ dan ‘pengorbanan’.
Salah jika dikatakan hidup untuk mati. Logika orang tak beriman meyakini setelah hidup kemudian mati, dan tak ada lagi kehidupan. Inilah yang menyebabkan kekeringan melanda rohani. Pola pikir pesimistis yang tak lagi memiliki harapan, sehingga hidupnya hanya sebatas yang ia rasakan sekarang, tak peka dengan kehidupan lain di depan yang mulut gerbangnya sudah menganga.
Padahal pesan dari langit sudah sampai sejak awal manusia hadir di bumi. Yang paling dekat adalah sekitar 1400 tahun silam ketika nabi terakhir membawa risalah paripurna bahwa kepada Allah-lah satu-satunya penghambaan dan pengabdian yang hakiki. Dan setelah kematian akan ada lagi kehidupan di alam kubur untuk kemudian dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan kahidupan sekarang serta memperoleh reward and punishment. Sederhanya begitu, seperti siklus program kerja yang biasa kita eksekusi di organisasi.
Maka sesungguhnya hakikat hidup yang sekarang adalah menuju hidup yang berikutnya. Hidup adalah proses menuju Allah yang kekal abadi. Setelah itu kita akan mendapat tempat kembali surga atau neraka. Pengabdian dan loyalitas yang paling utama dan pertama adalah kepada Allah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan menghidupkan yang mati; yang menjadi muara dalam kehidupan berikutnya.
#Sumber Inspirasi: Diskusi Rabuan U-Win Indonesia @ Bundaran Widya Puraya

Atas nama hidup dan kehidupan
Semarang, 21 September 2012
10.43 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 06 September 2012

Salam Hangat untuk Mahasiswa Baru


Bahkan sampai detik ini saya masih saja tidak bisa percaya bahwa saya sekarang adalah mahasiswa semester lima. Yang saya rasakan adalah saya masih sama seperti bocah-bocah kepala botak (1 cm) dengan pakaian hitam putih-hitam putih itu. Bukan karena saya memang cukur begitu. *emang iya sih* Tapi rasanya sangatlah amat cepat sekali waktu ini berlalu. *boros
Sudah cukup panjang juga lama saya hidup di dunia. Hampir seperlima abad lah. Fase masih fase mahasiswa. Kalau berpikir secara umum seperti orang-orang berpikir, maka fase berikutnya adalah fase kerja, kemudian berkeluarga, kaya-raya, dan mati. Ouch, tapi kali ini saya akan set ‘out of the box’.
Sekali lagi, saya amat menyadari perbedaan nikmat yang ada. “Barang siapa bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya.” Kalimat ini beberapa hari terakhir sering diucapkan teman saya. Dia bilang nilai C, D, atau E itu harus disyukuri *Alhamdulillah, supaya nikmatnya ditambah. Betul! :D Ikutan semester pendek, terus ngulang, pelan-pelan nanti dari E, jadi D. Dari D, jadi C. Dari C jadi B. Dari B jadi A. Huwaahh… ini dia evolusi yang sesungguhnya. Tuhan, aku berlindung pada-Mu dari hal yang demikian. A! A! Forever!
Fokuuuuussss! Nikmat awal yang kita terima sama, sebagai modal kehidupan. Tengok saja diri kita sendiri dan hitung satu per satu apa yang diri kita dan orang lain punya sedari lahir. Rambut hitam yang klimis *tapi gue keriting, jidat, hidung dengan dua lubang, mulut, tangan, kaki, otak yang ada akalnya, nafsu juga ada. Kumplit. Tidak kurang dan tidak lebih. Inilah modal kita. Tapi menengok keadaan saya sekarang sangat tragis. *hiperbola dikit tak apa lah boy. Karya-karya masih sedikir, belum ada yang berarti malah. Mungkin saya kurang bersyukur. Alhamdulillah. Ya, kalau bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya.
Mahasiswa baru. Indahnya jadi mahasiswa baru. Masa dimana lu boleh bilang “waow” buat dunia baru dengan pernak-perniknya yang baru lu temui. Kalau saya dulu rada deg deg serrr. Dari kampong yang sekitar 3 sampai empat jam dari ibukota propinsi, jadi tinggal di salah satu kota besar Indonesia, Semarang. Dari sekolah yang mungkin luasnya 2000 meter persegi jadi kampus yang sekampung. Waow lah pokoknya.
Saya dulu paling semangat potong rambut, satu cemtimeter. Bahkan lebih pendek dari angkatan saya sampai-sampai pada protes *haduh ini komting sementara malah lebih pendek banget nih rambutnya. Bahkan sampai semester lima ini gaya rambut ala mahasiswa baru ini masih saya pertahankan.
Sejujurnya, saya sangat senang dan bahagia sekali jadi mahasiswa baru. Meski kadang sempet sebel juga dengan OSPEK *sebutan populernya, yang rada-rada gaje, tapi asyik. Bahagianya bukan di situ. Tapi seperti terlahir lagi di dunia. Hah, enaknya. Bisa melihat apa yang belum pernah dilihat. Bisa mendengar apa yang belum pernah didengar. Bisa bertemu siapa yang belum pernah ditemui. Bisa hadir di acara-acara besar. Bisa mendapat inspirasi dari orang-orang terbaik.
Banyak sekali cerita tentang awal mula saya masuk kampus dan jadi mahasiswa baru. Berhalaman-halaman Ms. Word rasanya tak akan cukup menampungnya. *lebay. Tapi insyaallah aka nada banyak hal yang akan saya share-kan ke pembaca sekalian, khususnya adik-adik saya, mahasiswa baru, di tulisan-tulisan berikutnya.
Pada tulisan kali ini, tujuannya hanya satu:
SELAMAT DATANG DI DUNIA KAMPUS, DUNIA YANG AKAN BISA MENGUBAH SEGALANYA! TRUST ME!
Selamat datang juga untuk adik-adikku, mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2012, istimewanya buat anak-anak Fakultas Teknik, dan lebih istimewa lagi buat anak-anak Jurusan Teknik Sistem Komputer!

02.06 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0