TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)
Tampilkan postingan dengan label U-Win Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

Amazing Egypt


Saat ini disini (Bogor) baru saja pagi. Entah di Mesir. Saya belum menanyakan hal itu ke Google. Tapi melihat dinamika Mesir, saya jadi ingin menyampaikan opini dan asumsi saya. Saya sangat terkesan dengan apa yang terjadi di Mesir saat ini. Bahkan saya sampai dibuat amat takjub dengan keteguhan rakyat Mesir melawan tirani dan pengkhianatan. Bukan hanya itu yang mereka lawan, tapi konspirasi besar yang sedang menjalankan skenarionya di negeri mereka.

Mengapa saya sebut konspirasi? Karena saya sudah jengah merasakan konspirasi itu di negeri saya sendiri. Negeri saya sepertinya aman-aman saja, sepertinya. Tapi terlalu banyak argumentasi yang menguatkan pernyataan bahwa negeri saya ini negara autopilot. Simpelnya, negeri saya kaya,tapi ‘saya’ miskin. Emas dan isi perutnya dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan asing. Mati-matian itu dipertahankan oleh pemegang amanah rakyat dan aturan-aturan yang mereka buat. Di Papua sana, di tempat alam benar-benar menampakkan kekayaannya lewat gunung-gunung emas dan pesona alamnya, fakta yang saya dapat adalah disana menjadi tempat paling susah di negeri saya. Kasihan penduduknya. Kalau mau pintar, harus kuliah ke luar pulau (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dll). Ada yang bilang, memang sengaja saudara-saudara saya disana dibuat ‘bodoh’ dengan kurangnya akses pendidikan dan lainnya, supaya sedikit orang-orang dari dalam yang cerdas dan membela hak-hak warga dan tanah asli punya mereka. Supaya tak ada yang bolak-balik Papua-Jakarta untuk advokasi, atau sekadar mengisi jalanan untuk berteriak “Usir Freeport!” Hukum dan keadilan seperti disandera di satu tempat yang saya tidak tahu dimana. Koruptor meraja lela. Aparat jadi preman. Wakil rakyat hanya bisa mewakili rakyat dalam memakan uang negara. Katanya. Tapi memang iya. Medianya juga membuat saya jengah. Sekarang sudah banyak iklan-iklan partai dan lelaki ambisius yang sedang berlomba-lomba menjadi tuan penguasa di negeri ini. Saya tidak menghitung berapa banyak versi dari iklan partainya Bapak Presiden RI yang sekaligus ketua dan ketua dan ketua dan ketua dan ketua di partainya yang hanya sekadar untuk mengucapkan selamat berbuka puasa dan selamat hari raya. Banyak tokoh berprestasi dan rendah hati yang luput media. Jawa Barat yang semakin melesat, kalah dengan berita Jakarta yang katanya baru. Ya, Jakarta hanya baru istilahnya. Banjir disebut sebagai genangan. Lucu ya. Jawa Tengah yang lamban perkembangannya seperti luput. Ya, sang tuan dan ‘ibue’ enggan diliput media, kemudian kehilangan simpati rakyat. Cukuplah membicarakan resah saya tentang negeri saya. Tendensinya kepentingan yang semena-mena.

Mesir. Mengapa Mesir? Saya akan coba paparkan.

Saya terkesan dengan keteguhan rakyatnya yang jutaan itu untuk membela dan menegakkan keadilan di negerinya. Melawan militer tanpa senjata! Sampai hari ini sudah sebulan rakyatnya turun ke jalan. Menunjukkan integritas, kearifan, keteguhan, dan kreatifitas di jalanan. Bukan hanya teriak, orasi, dan teatrikal seperti kita disini, tapi shalat, mengaji, lomba hafalan Al-Qur’an, menikah, dan lain sebagainya. Saya berpikir apa-apaan ini? Masyarakat macam apa mereka? Melawan tirani dengan keteguhan hati dan persatuan, bukan senjata.

Saya terkesan dengan skenario yang sangat terbaca. Sangat terlihat siapa yang mendalangi kudeta. Sangat terlihat siapa-siapa yang senang dan siapa-siapa yang menentang. Dan siapa-siapa yang takut pada sang tuan internasional. Tak perlu saya sebutkan (youknow who, he who must not be named), Anda cukup objektif saja dalam membaca-baca berita dan mengamati dinamika yang terjadi di Mesir. Saya rasa kalau sudah gambar dan video yang bicara, maka siapa berani menentang.

Saya semakin terkesan dengan pemberitaan di media. Ada dua kubu, pro kudeta dan kontra kudeta. Sekali lagi semakin jelas kemana dan seperti apa idealisme dari sang media dan empunya. Dan pastinya logika dan nurani Anda akan sangat dengan mudah memilah mana yang benar. Mana media yang menyajikan berita sebenarnya dan mana media yang mengada-ada dalam beritanya. Ada media yang mengatakan korban pembantaian hanya puluhan, padahal ratusan. Ada media yang mengatakan Mursi begini dan begini, tapi saya puas ketika mendapat klarifikasi dari seorang imam masjid Gaza yang berkunjung ke Masjid Kampus Undip, dan saya berdo’a untuk keselamatan Mursi dan pendukung keadilan. Semakin lega membaca tweet-tweet dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir.

Saya semakin terkesan melihat tanggapan tokoh-tokoh bangsa ini tentang apa yang sedang terjadi di Mesir. Setidaknya itu membuka mata kita tentang siapa dan apa di balik mereka. Presiden kita masih saja prihatin dan mengimbau. Saya hanya menunggu kecaman dari beliau. Tapi belum ada ya? (Correct me if I wrong). Orang-orang Islam liberal yang pikirannya sembrono, mudah sekali dan tanpa malu berbohong via twitternya. Sebut saja Ulil Abshar Abdala dan Zuhairi Misrawi (tak pantas mereka disebut tokoh bangsa ini, kalau sampah ya sepakat!). Jelas-jelas foto menunjukkan itu foto masa pendukung Mursi yang membawa dan menjaga spanduk bergambar wajah Mursi, malah dikatakan itu masa prokudeta. Yang lebih bodoh lagi, pernyataan Zuhairi Misrawi yang kebablasan, tentang tabiat orang-orang liberal yang kalau mereka nanti menjadi mayoritas, orang-orang yang minoritas akan ‘dibunuhi’, dan bersyukurlah orang-orang Islam Indonesia karena orang-orang liberal di Indonesia masih belum mayoritas sehingga mereka tak berani ‘membantai’. Itu penafsiran saya dari pernyataan bodohnya. Silahkan cek saja di media online dan cerna baik-baik. Jadi setidaknya masyarakat kita mengetahui orang-orang seperti apa mereka, dan menjadi pelajaran untuk tidak pernah lagi berkompromi dengan mereka. Apakah iya orang seperti itu kita relakan untuk duduk di kursi pemerintahan? Terserah Anda yang budiman, Pemirsa.

Saya semakin terkesan dengan heroisme disana. Perjalanan bangsa ini jaman Presiden Soekarno dan Soeharto kalah heroik. Bangsa ini dulu pernah juga turun ke jalan. Sampai yang paling terakhir ketika reformasi kemarin. Masih kalah heroik. Bayangkan di Mesir yang turun ke jalan itu jumlahnya jutaan. Mereka tak hanya teriak dan orasi seperti yang saya bahas diatas. Bukan hanya mahasiswa, tapi juga rakyat jelata, bahkan preman-preman dan orang Kristen Koptik yang kemarin mendukung kudeta, perlahan pindah haluan menentang kudeta, sebab mereka tau mereka menjadi alat murah dalam skenario konspirasi para tuan.

Saya terkesan dengan militer Mesir. Melawan dan mengalahkan rakyatnya sendiri. Sampai hari ini masih begitu. Andaikan benar kata demokrasi bahwa suara rakyat itu suara Tuhan, maka pasti saat ini militer Mesir sudah kena kutukan atau malah binasa. Alangkah ‘wibawa’ sekali!

Saya terkesan dengan Mesir. Revolusinya tidak tanggung-tanggung. Baru setahun, ada kudeta. Tapi rakyat tak tinggal diam. Berani sekali rakyatnya. Sangat berani. Jutaan orang dengan gagah menyuarakan keadilan, melawan tirani. Ratusan yang mati, ribuan luka. Apa namanya kalau bukan berani? Sementara itu negeri saya adem-ayem. Bukan tidak ada apa-apa, tapi adem-ayem. Kalau ibu saya bilang, berani itu karena benar, takut karena salah. Yeah!

Saya semakin terkesan dengan orang, institusi, dan negara, yang katanya amat demokratis. Tapi malah mendalangi kudeta. CC: @barrackobama (Eh, ga bisa dimention)

Saya terkesan dengan orang yang mengatakan ini konflik agama. Ya, bener. Jelas orang-orang Islam terpanggil ketika saudara-saudara mereka dibantai. Saya juga terkesan dengan yang mengatakan ini masalah keadilan dan hak asasi manusia. Keduanya tak salah. Dua-duanya adalah kebenaran yang harus diperjuangkan. Biarkanlah orang-orang Islam peduli untuk saudara-saudaranya. Dan kita, apapun agamanya, jelas memiliki kemanusiaan dan keadilan yang sama.

Ah, saya terlalu banyak terkesan pagi ini.

Dan saya terkesan dengan Anda yang bisa jadi tidak langsung sepakat dengan cerita saya ini, kemudian menakar, meneliti, dan menganalisa sendiri lewat informasi yang banyak sekali untuk sekadar mengambil kesimpulan apakah sepakat dengan saya atau tidak. Kemudian kita pun sepakat. Lalu kitaberdo’a untuk pertolongan dan kemenangan di Mesir dan negeri-negeri lain(Suriah juga sedang konflik, bahkan lebih parah, pejuang berdatangan dari banyak penjuru untuk melawan rezim tiran Bashar Al-Assad).

Bogor, 07,30, setelah mengeluarkan dagangan di warung.

14.15 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 06 Juni 2013

Kajian Reflektif: Alay dan Masa Depannya

Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama
Begitulah peribahasa tua mengatakan tentang peninggalan kita di dunia setelah ajal menjemput. Kemudian saya tergelitik melihat realita sekarang. Majunya teknologi pun kini bisa merubah peribahasa yang melegenda dari jaman orang tua saya belajar SD dulu.
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan segenap akun sosmed dan postingannya
*haha
Bahkan kemarin saat kami baru memulai mentoring yang sempat lama tersendat (karena satu hal dan hal lainnya) hal ini jadi bahan obrolan yang sangat menarik. Awalnya saya melihat mata para mentee sudah mulai berat tertimpa kantuk, sejenak ketika saya lontarkan tema ini segera tanggapannya antusias.
Menurut hemat saya, saya menyebutnya ‘mengerikan’. Kenapa?
Tak masalah kalau jika yang kita tinggalkan itu adalah akun dan postingan yang positif. Akan jadi ‘mengerikan’ jika yang kita tinggalkan itu adalah akun-akun dengan nama dan postingan alay.
Thya Agy Marahan Ama Facebook
Anyie Yaa Anie
Budhiee Asliewonkjowo
Kikina kakak
“Q udd blank lok Q agy mlezz ponan ma cmzan, jdna aQ OL ma tmen2 Fesbukers @_@”
Sudah kebayang betapa mengerikannya hal ini? Bayangkan saja jika kematian kita hanya meninggalkan akun-akun alay dengan postingan yang susah dibaca. Akan jadi tertawaan bagi orang-orang yang hidup. Nyesek ga tuh? Sudah begitu, anak dan cucu pun jadi malu menanggung aib kealayan.
Tidak cukup sampai disitu. Bayangkan di dalam kubur dan hari akhir nanti kita akan diminta pertanggungjawaban untuk semua amal dan perbuatan kita di dunia. Salah satunya adalah akun-akun tersebut.
“Hai Fulan, kau gunakan untuk apa akun-akunmu? Sekarang saatnya pembalasan atas dosa-dosamu membuat tulisan yang susah dibaca manusia.”
‘Mengerikan’ sekali, bukan?
Coba pikirkan lagi, di alam kubur tak akan mungkin kita bisa mengelak. Tak mungkin ada percakapan seperti ini:
M: kamu tau kamu sekarang di mana?
A: di hatimoooeeeee
M: siapa Tuhanmu?
A: kasih tau ga ya?
M: siapa Nabi mu?
A: mau tau aja atau mau tau banget?
M: kamu tau gak kerikil di neraka jahanam 70x lebih panas dari api di dunia?
A: trus gw harus bilang woooooooooow gitu?
M: aku pastikan kamu masuk neraka!!!
A: ciyusss??? miapah???
(diambil dari sebuah komentar di Kompasiana)

Mari kita bandingkan dengan generasi terbaik ummat ini. Mereka di lahirkan di tengah keterbatasan zaman. Listrik belum ada. Apalagi social media. Sebut saja Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanafi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dan kawan-kawan(Semoga Allah merahmati mereka). Peninggalan mereka adalah karya-karya yang sangat monumental dan berkelas. Sudah ratusan tahun, tapi tetap saja menuai manfaat. Selalu dibaca dan disampaikan segenap manusia. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Kitab Al-Muwatha’ tulisan Imam Malik ditulis dengan tulisan alay? Na’udzubillah. @_@
Nah, itulah perbandingan generasi ratusan tahun silam dengan generasi hari ini. Atau saya yang tidak tahu bahwa alay itu sudah ada sejak ribuan tahun silam dan menjadi klan rahasia yang terus berkembang sampai sekarang? Haha sudahlah…

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung para alay, apalagi menyakiti. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam hukum dan pemerintahan  #eh. Jadi, menjadi alay itu juga hak. Tapi bisalah kita ambil pelajaran untuk bisa menggunakan kemudahan-kemudahan teknologi informasi seperti social media secara cerdas dan bertanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab di dunia, tapi juga akhirat.

Semarang, 5 Juni 2013
@taufikarahmat
07.01 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 05 Oktober 2012

Ngapain Repot-repot Cari Inspirasi?


02.25 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 21 September 2012

About Ourself, Just The Way You Are


Bahkan sampai sekarang saya selalu dibuat pusing dengan pertanyaan yang tidak henti-hentinya menghujani alam pikir dan alam khayal saya. Tentang retorika Tuhan menciptakan sesosok makhluk nista penuh dosa seperti saya… Nista bung! Nista! Kotor! Haha…
Tapi keberadaan kita di dunia yang fana ini benar-benar tanpa perlu pretensi. Meski begitu tetap semua harus memiliki definisi karena sesuatu semahal apapun jika tak memiliki definisi ianya tak akan berarti. Kecuali cinta. *Hehe apaan sih?
Tak perlu juga sampai menggunakan semantik untuk memperoleh definisi, cukup saja dengan mengamati, merasakan, dan menjadi. Karena definisi tak selalu sempurna jika harus diwujudkan dalam kata-kata.
Kadang-kadang pertanyaan ini seperti menampol saya bolak-balik ketika lagi-lagi saya teringat tentang eksistensi saya di dunia. Who are you? Ketika diri nista ini benar-benar butuh definisinya sendiri.
Dalam sebuah kesempatan diskusi sore ini di Bundaran Widya Puraya, definisi ini perlahan muncul dan menyeruak ke permukaan dunia nyata setelah sekian lama mengendap dalam-dalam di alam bawah sadar.
Semua orang pasti sepakat bahwa kita adalah manusia. *nah lho yg gak ngerasa manusia ayo cung.. Manusia yang terlahir, bukan tanpa sengaja. Tapi memang setelah melalui proses panjang penciptaan. Terlahir selain bukan tanpa sengaja terlahir bukan untuk sia-sia. Inilah kita. Nah, faktanya sekarang adalah terlalu banyak waktu atau bagian-bagian kecil hidup kita yang disia-siakan. Harusnya sih tiap detiknya itu menghasilkan karya-karya yang tak sederhana. Sebut saja ada manfaat yang dituai.
Tapi jangan lupa kalau kita adalah orang yang beruntung. Untung terlahir sebagai manusia. Bukan binatang, bukan tumbuhan. Gak kebayang kalau kita terlahir sebagai nyamuk. Baru lahir, tiba-tiba udah digaplok dan innalillahi. Kita lahir sempurna, meski sekarang kadang-kadang juga labil. Tapi physically kita sempurna. Lahir dengan pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang sudah aktif. Ga perlu lagi kirim sms aktivasi untuk mengaktifkan semuanya. Alhamdulillah kita terlahir di tengah-tengah orang yang tepat, kita ditaqdirkan bertemu dengan kedua orang tua kita dan sanak-saudara kita yang semuanya memang sudah direncanakan Yang Di Atas, tanpa ketidaksengajaan. Terlalu banyak kalau coba dihitung satu per satu. Karena kalau coba dirunut dari lahir sampai sekarang segede ini, tiap scene dalam hidup kita seperti alur keberuntungan. Alhamdulillah.
Dan nikmat yang paling indah adalah Allah adalah tuhan kita.
*weeee jangan bawa-bawa Tuhan bero!
*emang kenape? Gue anak Rohis and I’m not terrorist! Haha
Hidup ini terasa sangat nikmat. Betapa tidak, sebab kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia ini sudah lengkap dengan fasilitas-fasilitas social. Kita tidak terlahir sendiri. Kita terlahir sebagai makhluk sosial. Yang hidup berdamping-dampingan dan cenderung memenuhi kebutuhannya. Sehingga saling berinteraksi. Maka coba definisikan diri kita sebagai pribadi yang supel. Yang mudah bergaul dan berinteraksi. Yang tak perlu banyak sarat untuk memperoleh teman. *because you are not alone bro
Tak ada yang terlahir sia-sia. Harusnya begitu. Orang tua kita sudah membantu kita memberikan definisi untuk diri kita sendiri. Ya, nama. Hal paling istimewa adalah ketika kita lahir dengan nama yang berbeda. Unik dank has, namu sarat makna dan do’a. Dalam tiap nama ada harapan, impian, dan do’a. Sudah tau arti nama diri sendiri? Konyol kalau sudah hidup puluhan tahun tapi tak tahu arti nama sendiri. Segera cari tahu! Dan jadilah lebih hebat, sebab kau sudah memiliki satu definisi tentang dirimu! Dari namamu.
Waktu tak pernah hirau yang mati dan yang hidup. Tidak perlu persetujuan kita. Terus datang tanpa diundang. Akan berlalu tanpa dihalang. Tak ada tawar menawar untuk satu detik berlalu. Bahkan Allah sampai bersumpah pada waktu. Diri ini adalah kumpulan dari waktu-waktu. Berlalu sehari, berkuranglah diri kita sebagian. Maka saksikanlah bahwa diri ini adalah sang pembelajar dan pejuang. Yang melintasi waktu yang kadang menjadi sahabat saat nikmat datang bertubi-tubi. Tapi kadang waktu juga menjadi sosok yang paling mengerikan karena kekakuannya saat kematian menjelang, dan kau tak mampu mengintervensinya, meskipun hartamu berlimpah, meskipun ayahmu orang terpandang.
Pernahkah kita berpikir bahwa kita adalah orang-orang yang istimewa? Yang jelas semua sepakat bahwa kita terlahir berbeda. Nama, fisik, suara, bakat, kesukaan, semuanya berbeda. Dan itulah potensi. Maka katakana bahwa kita adalah orang-orang unik. Satu paket raga dari atas hingga bawah yang ruh Anda tempati adalah limited edition. Satu-satunya di dunia. Tak ada yang lain selain dirimu! Lalu, kenapa tidak kita keluar rumah, berjalan dengan penuh percaya diri untuk kemudian berjuang dalam belajar dan berjuang mengarungi kehidupan untuk meraih prestasi tertinggi?
Terlalu banyak definisi. Sederhananya katakanlah kita hidup, bukan orang mati. Jelas berbeda antara yang hidup dengan yang mati. Tapi tak jarang, banyak orang fisiknya hidup tapi seperti orang mati. Maka disini perlu kita sadar tentang apa hakikat hidup dan kehidupan. Singkatnya apa sih hidup buat kamu?
Jadi inget Mapel Biologi yang dulu gurunya Bu Afifah. Beliau bilang bahwa makhluk hidup itu cirinya bergerak. Dan tulisan ini sangat sepakat untuk hal itu. Bahwa tiap yang hidup dan bernyawa secara alami ia akan terus bergerak. Berubah. Ibarat air tempat tinggalnya para ikan, ia akan segar manakala terus mengalir, tapi akan kotor dan busuk saat diam selalu. Konsekuensi logis dari bergerak adalah perubahan. Berubah jadi semakin baik atau semakin buruk. Pilihannya ada tiga, jika taka da perubahan, maka merugi. Jika lebih buruk, maka celaka. Jika lebih baik, maka beruntung. Silahkan pilih yang mana.
Hidup tak sesederhana junk food, sekali pesan langsung jadi. Atau tak seinstan mie instan, sekali rebus, tinggal lahap dan sudah. Tapi hidup adalah proses panjang. Bukan sekedar rutinitas biasa yang tanpa sengaja terulang dengan hal yang sama tiap harinya. Baiknya hidup itu tiap harinya berbeda. Sebut saja itu kejutan dari Tuhan. Intinya hidup adalah proses yang tak pernah berhenti. Proses yang lebih rumit dari siklus instruksi dan pemrosesan data dalam CPU. Ada input, juga ada output. Input baik yang baik maka outputnya pasti baik. Tantangannya adalah: live your life! Dengan proses-proses yang menghidupkan kehidupan.
Hidup bisa diterjemahkan sebagai pencarian sebab hidup adalah misteri. Meskipun tak semuanya adalah misteri, tapi esok adalah misteri yang dapat dijawab jika dan hanya jika kita berani bergerak bersama bergulirnya waktu. Nanti juga misteri. Segala apa yang belum terjadi adalah misteri ilahi yang bisa jadi itu adalah kejutan dari Sang Pencipta. Kita tak tahu, tapi kita mengerti bagaimana merancangnya agar misteri itu menjadi sesuatu yang dicari dan dinanti.
Boleh juga jika hidup diterjemahkan sebagai pengabdian dengan sepenuh loyalitas dan totalitas. Setia dengan apa yang menjadi prinsip. Total dengan apa yang disebut ‘kerja’ dan ‘pengorbanan’.
Salah jika dikatakan hidup untuk mati. Logika orang tak beriman meyakini setelah hidup kemudian mati, dan tak ada lagi kehidupan. Inilah yang menyebabkan kekeringan melanda rohani. Pola pikir pesimistis yang tak lagi memiliki harapan, sehingga hidupnya hanya sebatas yang ia rasakan sekarang, tak peka dengan kehidupan lain di depan yang mulut gerbangnya sudah menganga.
Padahal pesan dari langit sudah sampai sejak awal manusia hadir di bumi. Yang paling dekat adalah sekitar 1400 tahun silam ketika nabi terakhir membawa risalah paripurna bahwa kepada Allah-lah satu-satunya penghambaan dan pengabdian yang hakiki. Dan setelah kematian akan ada lagi kehidupan di alam kubur untuk kemudian dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan kahidupan sekarang serta memperoleh reward and punishment. Sederhanya begitu, seperti siklus program kerja yang biasa kita eksekusi di organisasi.
Maka sesungguhnya hakikat hidup yang sekarang adalah menuju hidup yang berikutnya. Hidup adalah proses menuju Allah yang kekal abadi. Setelah itu kita akan mendapat tempat kembali surga atau neraka. Pengabdian dan loyalitas yang paling utama dan pertama adalah kepada Allah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan menghidupkan yang mati; yang menjadi muara dalam kehidupan berikutnya.
#Sumber Inspirasi: Diskusi Rabuan U-Win Indonesia @ Bundaran Widya Puraya

Atas nama hidup dan kehidupan
Semarang, 21 September 2012
10.43 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0