TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2015

Hujan Malam Hari

Ketika hujan turun di pertengahan malam, dan senyap buyar sejenak. Ini rahmat yang mengucur dari langit, mengguyuri bumi malu-malu. Sepertinya baru saja hujan hampir deras. Sekarang tersisa titik-titik gerimis. Kaukah itu, Sayang, turun bersama hujan dari kahyangan, membawa sejuk merasuk dalam jiwa yang kepanasan?
Rinai hujan masih terdengar, meski lamat-lamat ia seperti malas-malas untuk jatuh berdebam ramai-ramai ke atas bumi sekitarku. Kaukah itu, Sayang, perasaan tenteram menjalari gundah-gulana yang sudah lama menghantam?
Malam kemarin langit cerah secerah harapan kita. Tidak ada satupun awan menghalangi pandangan. Bintang-gemintang tersebar rata sepenjuru langit. Berkedip sedikit genit kepada kita, kita yang dinaungi langit yang sama. Kaukah itu, Sayang, keindahan yang disertai malam lengkap dengan bulan yang penuh purnamanya?
Kata-kata mengalir begitu derasnya. Apalagi rasa yang tak lagi bisa dibendung. Menanyai angin, apa mimpi dalam tidurmu sekarang? Ingin rasanya aku menelusup lembut seperti angin berbisik, lalu masuk dalam mimpimu. Dan kita jumpa. Seperti perjumpaan kekasih yang lama tak bertemu. Padahal kita dekat.
Andai malam ada matahari. Kalau hujan begini, aku ingin melihat pelangi. Tapi matahari hanya menemaniku dua belas jam sehari.
Sayang, maukah kau menjadi matahari dalam setiap waktuku, agar saat hujan malam hari aku bisa melihat pelangi?
Semarang
00.48 11-4-15
00.58 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 08 Mei 2014

Relativitas Langit

Jika aku menggantungkannya di langit,
aku takut tanganku tak akan sampai.
Sebab aku dan langit berada pada jarak yang cenderung konstan.
Lalu aku gantungkan pada-Mu saja, Tuhan.
Meski Kau jauh di atas langit sana, jarakku dengan-Mu cenderung berubah-ubah.
Sehingga setiap hari aku harus selalu datang mendekat kepada-Mu.
01.37 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Buah kebaikan dan buah keburukan.

Percaya gak kalau kebaikan itu buahnya juga kebaikan, sementara keburukan (dosa) itu buahnya minimal adalah terhalangnya kebaikan yang lain? Bayangin, dengan berbuat kebaikan, kita jadi punya semangat dan rasa percaya diri untuk terus kontinyu dan melakukan akselerasi kebaikan-kebaikan lain. Tapi jika ada keburukan yang dilakukan, maka akan muncul perasaan bersalah, sebab kita tahu itu buruk. Kemudian kita merasa tertahan untuk melakukan kebaikan lain sebab keburukan yang lalu telah jadi beban. Lalu jika keburukan itu tetap kontinyu, maka akan muncul rasa tak percaya diri dan perasaan tak pantas untuk lakukan kebaikan yang lain atau lakukan akselerasi kebaikan.
Maka jika ini terjadi dan kita menyadarinya, lakukanlah lompatan! Lupakan masa lalu, tatap masa depan apa yang kita ingin capai, kemudian kita berlari dengan akselerasi semakin besar untuk lakukan kebaikan dan perbaikan! Stop merasa tidak pantas! Kamu yang sekarang adalah kamu yang baru.
00.49 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Selasa, 22 April 2014

Progresif!

Padahal kita yang selalu bertekad untuk jauh dari kejumudan (kebekuan akal). Bahkan dalam tiap deklarasi dan do’a selalu disampaikan. Kadang dinamika yang ada membuat kita tenggelam dalam satu stagnasi yang susah dimengerti.
Kadang kalau tak kuat-kuat menahan nafsu, bisa juga kita tergoda dengan segala rayuan setan. Bukan cuma rayuan berbuat dosa. Tapi rayuan untuk malas berbuat kebaikan, sekecil apapun. Rayuan untuk malas melakukan kerja-kerja kecil yang baik dan membaikkan. Rasa malas menjadi musuh bersama.
Seringnya kalau kita coba telisik, kepuasan kadang mengantar kita pada zona nyaman. Hingga akhirnya kita jadi merasa tak perlu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Begini-begini saja tanpa kita sadari. Kita terjebak pada kata biasa yang menghalangi kita dari luar biasa.
Sebenarnya sudah lekat dalam ingatan seuntai kata mulia garis hidup para nabi bahwa hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini hendaknya. Maknanya adalah apapun kondisinya tetaplah harus memiliki visi yang dalam dan jauh ke depan, serta diikuti dengan kerja-kerja yang progresif. Tak luntur semangat oleh derasnya hujan dan teriknya matahari, atau hanya sekedar cuaca yang biasa-biasa saja. Kita harus tetap menjadi pendaki yang pelaut yang tangguh dan pendaki yang mantap pijakannya.
Lemah, tak boleh lemah! Lelah, tak boleh menyerah. Jika tak bersusah payah, apa namanya? Manja! Bukan tekad baja namanya. Lalu buat apa kita ada jika hanya begini-begini saja dan mudah kalah?
Karena kita tercipta spesial, maka renungilah bahwa hidup yang sekali di dunia harus dijadikan berarti! Jelas disini berlaku hubungan sebab akibat. Untuk mencapai kecemerlangan, ada harga yang harus dibayar. Relatif. Jika murah, bisa jadi hanya dapat permata imitasi. Jika mahal, jelas didapat yang intan permata yang berkelas. Harga ini yang kita namakan perjuangan dan pengorbanan.
Akumulasi dari terkurasnya tenaga, pikiran, waktu, dan materi, inilah yang menjadi harga berbanding lurus dengan keberhasilan. Mau berhasil? Sungguh-sungguh dan bersusah-payahlah! Meski berderai air mata, bersimbah peluh, beribu luka, lihatlah gerbang kemenangan telah menganga di depan sana!
“Kita yang menganggap orang lain terlalu keras usahanya, atau kita yang sebenarnya kurang optimal?” -ICS
02.40 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 18 April 2014

Kisah Adik Kecil yang Tak Biasa

Hanya ingin berkisah tentang yang tak biasa.
Pada suatu siang tepat saat matahari berada di atas kepala, seorang lelaki baru saja mendapat rezeki. Ia bergegas pulang, mengejar waktu untuk bisa menunaikan shalat zuhur di masjid kampungnya.
Siang itu matahari sangat terik, membakar tanpa ampun permukaan. Lampu merah menyala. Sang lelaki berhenti di barisan paling depan sebelum garis marka, tepat di sisi tiang lampu merah.
Di tiang lampu merah itu tampak seorang anak lelaki, perkiraan usianya belum sampai usia sekolah. Masih kecil. Duduk bersandar pada tiang lampu merah. Kulitnya hitam dengan baju kedodoran yang memudar. Seperti kelelahan setelah setengah hari menodong untuk barang sedikit saja berbagi rejeki kepada mobil-mobil yang bagus itu yang bahkan ia belum pernah naiki. Lima ratus, alhamdulillah. Seribu rupiah, senang. Lima ribu rupiah, senang bukan kepalang.
Lelaki yang juga lelah ini memerhatikan dengan seksama, menerawang pada banyak sudut pandang. Seperti otomatis, tiba-tiba saja tangannya merogoh saku bajunya, mengeluarkan amplop putih.
“Adek, rumahnya dimana? Ini buat kamu. Kasih ke Ibu kalian, ya.” Sambil menyodorkan amplop putih berisi lembaran uang bergambar dua proklamator negara ini.
Ternyata meski telah tiada, dua bapak bangsa ini masih ramah menyapa anak negeri yang terlantar.
“Jauh, Om. Apa ini, Om?” timpal anak lelaki tersebut.
“Ini uang buat kalian, tapi dikasih ke Ibu, ya.”
“Uang apa ini, Om? Enggak mau, ah, Om. Nanti enggak laku.”
Sang lelaki terkejut dengan jawaban dan ekspresi anak tersebut. Bukan mereka menolak. Tapi mereka tak pernah melihat uang yang begini. Disangka tak laku. Tak pernah. Tak biasa.
***
Hening.

Masih 60 detik lagi sebelum lampu hijau menyala.
"Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara." (Pasal 34 (1) UUD 1945)
10.57 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 10 April 2014

Euforia Pemilu, Pencerdasan Politik Terabaikan

                Adalah hal yang sangat penting ketika kita menyoroti semakin besarnya persentase masyarakat yang memilih golput pada pemilu 5 tahunan di negara ini. Pada pemilu 1999 tercatat 10% yang tidak menggunakan hak pilihnya. Pemilu 2004 meningkat dua kali lipatnya sebesar 23,34%. Dan terakhir pada pemilu 2009 juga meningkat dua kali lipatnya sebanyak 40%. Inilah yang dituturkan Gamawan Fauzi yang saya kutip dari salah satu portal berita online.
                Dalam diskusi Ungkap Caleg (3/4) yang diadakan BEM KM Undip, Bapak Susilo Utomo, panelis, memaparkan data yang menunjukkan mayoritas masyarakat menentukan pilihannya karena faktor figuritas dan uang. Yang paling santer diberitakan media, itulah yang dipilih masyarakat. Tidak peduli setidak rasional apapun. Yang paling getol memberi uang saweran atau serangan fajar, dialah yang dipilih.
                Semua sepakat bahwa Indonesia jika benar ingin sejahtera dan menjadi negara adidaya, negara ini harus dipimpin oleh seorang yang mumpuni, memiliki visi dan gagasan pasti, serta teruji. Demokrasi yang kita anut memberi ruang semacam kompetisi untuk menjadi pemimpin negeri ini. Ini yang sedang kita hadapi di depan mata tepat, Pemilu. Di depan sana sudah banyak orang mengantri dan menjajaki diri untuk memimpin negeri ini.
                Salah satu fungsi partai politik adalah melakukan sosialisasi politik yang akan membentuk sikap dan orientasi politik masyarakat. Dengan kata lain partai politik juga memiliki tanggung jawab melaksanakan pencerdasan politik. Hanya saja hal ini belum banyak dilakukan karena banyak partai politik yang disibukkan dengan urusan pemilihan umum dan menyelesaikan konflik internal. Partai politik juga belum mampu memberi suri tauladan bagi perilaku politik yang etis dan sesuai dengan nilai budaya bangsa yang bermartabat.
                Dan pada gilirannya masyarakat jadi bulan-bulanan. Terjadi kegamangan di tengah masyarakat. Yang selalu jadi makanan bagi masyarakat adalah berita-berita negatif dunia politik negeri ini sehingga banyak kekecewaan muncul. Wajar jika semakin banyak yang apatis.
Belum lagi sangat marak politik pencitraan akhir-akhir ini. Lewat media-media yang dikuasai oleh satu atau beberapa orang, sangat mudah mencitrakan pihak-pihak yang memiliki ambisi untuk menguasai negeri ini. Yang paling laku adalah sosok spesial yang ‘suka blusukan’ dan turun langsung ke tengah masyarakat. Hal ini jelas terjadi sebab masyarakat sangat merindukan pemimpin seperti ini. Pencitraan jelas boleh, tapi kalau berlebihan dan mengenyampingkan sisi rasionalitas rasanya ini sudah masuk ke dalam kategori pembohongan publik.
Masyarakat kita secara umum, tertutama kalangan menengah ke bawah, masih terlalu lugu untuk bisa menyaring segala informasi yang masuk. Maka, jadilah semua ditelan mentah-mentah dan gampang disetir wacananya. Skarang lembaga survei semakin marak dan berjamuran. Tentunya ini lahan yang sangat komersial, apalagi jelang pemilu. Tanpa mengurangi kesantunan saya kepada semua lembaga survei, saya katakan disini amat besar peluang terjadinya penyelewengan data sehingga lagi-lagi sangat mudah menyetir wacana. Dan kita sangat mafhum bahwa negara ini meyakini bahwa kekuasaan di negara ini dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka, apa jadinya jika rakyat yang merupakan penguasa sah negara ini sangat mudah dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu?
Kembali pada bahasan sebelumnya bahwa pencerdasan politik ini penting agar masyarakat tidak jadi bola yang mudah digiring kemana pun perginya. Masyarakat harus mengerti tentang kondisi riil hari ini. Masyarakat harus mampu memilah dan memilih secara rasional di antara pilihan yang ada. Jangan sampai terbutakan hanya karena wacana media.
Pada kasus pemilu ini masyarakat hendaknya mampu melihat mana pemimpin yang memang siap sebagai pemimpin, lengkap dengan gagasannya. Bukan sekadar pencitraan lewat blusukan. Sebab blusukan bukanlah prestasi, tapi sekadar kebiasaan baik yang amat jarang. Hendaknya pula masyarakat mampu melihat mana pihak-pihak yang bersih dan profesional dalam mengemban tugasnya.
Ketika kondisi hari ini seperti penjabaran di atas dimana partai politik amat acuh dengan pencerdasan masyarakat dan terkesan memanfaatkan keluguan masyarakat, serta media telah kehilangan porsinya sebagai media netral lewat pencitraan lebay-nya, maka pencerdasan politik menjadi tanggung jawab siapa?

Tulisan ini hendak memaksa pemerintah, parpol, dan media, melakukan pencerdasan politik yang mencerdaskan. Lebih dari itu tulisan ini ingin mengetuk hati dan menggerak rasionalitas kita untuk mampu melakukan satu dua hal demi terwujudnya masyarakat yang cerdas dalam menentukan pilihan. Tidak disetir figuritas terlalu dalam dan uang sepeser. 
02.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 05 Desember 2013

Curahan Hati, Momen Akhir Tahun dan Tahunan

                Politik kampus, kok kesannya serem ya? Selalu saja saat Pemira menjelang isu yang diangkat adalah kepentingan yang dibawa organisasi ekstra yang juga turut serta. Hingga muncullah rekan-rekan yang mengaku independen. Dan bertebaranlah opini tentang kepentingan organisasi ekstra kampus yang begini dan begitu.
                Organisasi ekstra kampus adalah realitas dan entitas yang tidak bisa dielakkan dari kampus itu sendiri. Yang aneh adalah muncul bahasan bahwa organisasi ekstra kampus harus dihapuskan atau dilarang. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah siapa yang berhak melarang? Sebab dalam UUD ’45 jelas diatur kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, yang menjadi hak semua warga Negara.
                Kemudian yang menjadi realita adalah bahwa organisasi ekstra kampus juga turut serta berpartisipasi dalam pemilihan raya atau dalam pemilihan pemimpin sebuah lembaga. Perlu digaris bawahi, bukan organisasi ekstra yang turut serta secara kelembagaannya, tapi kader-kadernya yang juga sebagai kader lembaga internal yang turut serta. Adakah yang tau bahwa ada organisasi ekstra yang memiliki visi untuk melahirkan kader-kader pemimpin? Maka wajar jika rekan-rekan kader organisasi ekstra memiliki motivasi dan wawasan lebih dalam hal kepemimpinan. Apakah salah? Tentu tidak.
                Politik nilai atau politik kekuasaan? Tentu ini kembali kepada masing-masing. Yang saya alami dan amati adalah lebih banyak diskusi tentang nilai-nilai yang dibawa dan dijunjung tinggi daripada diskusi untuk memenangkan sebuah pemira. Bahkan dalam rapat tim sukses pun, dibuka dengan tilawah dan taushiyah (nasehat) yang menjadi pengingat dan pelurus niat.
                Saya sempat mengelus dada ketika melihat sebagian orang bicara tentang politik dinasti di kampus. Istilah politik dinasti sepertinya memang sedang digandrungi. Tapi mahasiswa harusnya cerdas dalam beropini. Kalau yang disebut politik dinasti itu ketika pemimpin lembaga internal kampus yang terpilih seringnya atau bahkan hampir selalu merupakan kader organisasi ekstra, maka saya katakan pernyataan ini tidak rasional. Sebab semua pasti paham bahwa biasanya yang disebut politik dinasti itu karena hubungan darah atau kerabat. Kalau estafet kepemimpinan masih bergilir pada mahasiswa yang merupakan kader internal sekaligus eksternal, maka jangan salahkan organisasi ekstra kampus mana pun. Semua harus paham bahwa di kampus kita masih menjunjung tinggi aturan dan mekanisme yang sah. Semua memiliki kesempatan yang sama. Selagi memiliki kapasitas dan gagasan, dan sesuai aturan/mekanisme yang berlaku, maka tak ada masalah. Dan pertanyaan yang harusnya muncul adalah apakah hanya kader organisasi ekstra kampus saja yang memiliki motivasi, wawasan, dan kapabilitas di atas rata-rata?
                Ketika aturan dipertanyakan objektivitas dan keadilannya, maka silahkan lihat siapa yang berwenang membuat aturan itu. Jangan serta-merta dikatakan ada kepentingan organisasi ekstra kampus di dalamnya, karena belum tentu yang berwenang di lembaga legislatif juga merupakan kader organisasi ekstra dan melakukan rekayasa. Kemudian juga silahkan lihat langsung ke dalam konten aturan, jika ada yang janggal, maka silahkan komunikasikan dengan yang berwenang membuat aturan. Sederhana sebenarnya.
                Terakhir, saya benar-benar miris ketika isu organisasi ekstra kampus dan kepentingan selalu diangkat pada momen-momen pemira. Yang kasihan adalah rekan-rekan yang dikenai tuduhan ini-itu, namun tak ada bukti, hanya berdasar asumsi dan prasangka. Kesan yang muncul adalah isu organisasi ekstra sengaja diangkat untuk menyudutkan salah satu pihak dan mendiskreditkan mereka. Seakan-akan kalau dia adalah kader organisasi ekstra, maka segala hal tentangnya seperti selalu ada kepentingan dan konspirasi. Zhalim ini namanya.
                Sekadar sharing saja, sempat terjadi diskusi tentang sambutan yang saya sampaikan untuk membuka acara yang notabene itu adalah program dari organisasi yang saya pimpin. Dikatakan di dalamnya ada pencitraan. Sehingga ada panitia atau partisipan (bukan pengurus) yang menolak jika saya memberi kata sambutan. Saya hanya miris, sangat tidak cerdas, apalagi predikatnya mahasiswa. Saya sarankan, sebagai pemuda yang terpelajar kita harus belajar lebih banyak lagi tentang apa yang kita sebut dengan respect.
                Maka, yuk, mari bersikap dewasa! Organisasi ekstra itu di luar kampus. Tidak ada hubungannya dengan lembaga internal kampus sehingga perlu dibawa-bawa ke dalam, apalagi dengan tujuan menyudutkan. Saya kira kita sepakat, semua mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tak ada masalah jika sama-sama menjunjung tinggi dan mengakkan aturan yang berlaku.
                Bicara kontribusi, semua punya hak yang sama. Maka jangan dibedakan. Diskusi dan perdebatan yang muncul sepantasnya bukan lagi bicara masalah organisasi ekstra atau golongan/kelompok, tapi tentang seberapa besar dan luar biasa ide dan gagasan yang dibawa, seberapa baik kapabilitas dan kapasitas yang dimiliki, dan seberapa yakin impian dan harapan itu akan terwujud.
                Sederhana sebenarnya jika semua mampu berpikir dan bertindak dewasa. Kalau kampus tidak mencetak kita sebagai orang yang rasional dan dewasa, maka dua kemungkinannya: kampusnya gagal atau kita yang stagnan.


Salam hangat untuk setiap niat baik dan hati yang bersih.
Tetap tersenyum, meski malam masih panjang. Yakin siang ‘kan datang.
Tembalang, 5 Desember 2013
01.58 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Jumat, 22 November 2013

Maka Saksikanlah! *hanya meluapkan rasa


         Dan benar menggenggam bara api itu tetaplah panas. Sebaik apapun kita memegangnya, tetaplah panas. Apalagi ketika memutuskan untuk turun tangan dan ikut berperan. Semakin banyak caci dan prasangka menyasar. Kadang sering dalam hati mengeluh, “Aku lelah, Yaa Allah.” Tapi kembali keluh itu hapus oleh kalam-Mu yang menjadi inspirasi mottoku “Bergerak atau tergantikan”.
         Pernah juga terpikir, kata caci apa yang pernah lisan ini keluarkan, keputusan apa yang pernah dibuat dengan landasan tendensi yang menyimpang dari keadilan dan kebenaran. Sampai diri ini berani bersaksi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Hingga mengapa masih ada maki yang suka menyapa.
         Tapi barangkali karena mereka semua peduli dan memerhati, tapi dengan cara yang berbeda. Dan pada akhirnya aku mengerti mengapa Kau menjadikannya pada peringkat pertama dari orang-orang yang Engkau berikan naungan pada hari tidak ada naungan selain naungan-Mu. Pemimpin yang adil. Ternyata begitu berat. Tak pantas dicari. Hanya bisa jadi obsesi. Bukan ambisi. Sambil terus isi kapasitas dan kualitas diri. Karena visinya buka predikat sebagai pemimpin, tapi sebagai manusia yang Kau pilih jadi peringkat pertama beroleh naungan-Mu pada hari dimana tak ada naungan selain naungan-Mu.
         Do’a kami,
Yaa Muqallibalqulub tsabbit qalbi ‘aladdinik.
Jadikanlah pada niat kami  keikhlasan, bukan karena perhiasan, atau karena kemilau ciptaan-Mu.
Jadikanlah pada perilaku kami kesahajaan dan keteladanan.
Jadikanlah pada tekad kami kesabaran untuk menetapi jalan-Mu.
Jadikanlah pada awal, tengah, dan akhir usia kami keridhaan-Mu.
Jadikanlah pada hati, wajah, perkataan, dan perbuatan kami, cahaya-Mu.
Jadikanlah benar, bahwa akhirat di hati kami, dan dunia dalam genggaman tangan kami.
Lindungi kami dari segala nifaq.
Sesungguhnya kami terlampau zhalim dan Engkau Maha Pengampun. Kami terlampau bodoh untuk banyak prasangka dan Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang nyata dan tersembunyi.
Aamiin.
         Tulisan ini bukan untai kata gombal. Jika kau yang membaca merasa begitu, maka tak usah dibaca. Jika tidak, maka bantu kami untuk mengamini.

Abu Hurairah ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجَلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنَّى أخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأخفَاهَا حتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَلِيْلً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. 
Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan arasyNya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya. Pemimpin yand adil; pemuda yang masanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; 2 lelaki yang berkasih sayang dan bertemu dan berpisah kerana Allah SWT; lelaki yang digoda oleh perempuan cantik dan berpengaruh untuk melakukan maksiat tetapi dia menolak dengan mengatakan Aku Takutkan Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehinggakan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT.” (HR. Muslim)

Tembalang, 22 November 2013.
#Senyum ini masih ingin tersimpul hingga mati. Agar tak tergantikan kecuali ajal menjemput.

22.53 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Minggu, 03 November 2013

Segenggam semangat untuk Mas Dwi

Jenak-jenak waktu yang kita tuliskan cerita di atasnya
Biarkan ia bercerita, tentang masa yang tak terlupa
Bahwa hati ini menyatu, lewat ide, karya, dan inspirasi
Bahwa berani bermimpi, berani berkarya, dan berani menginspirasi
Itu yang utama.

Kawan, tunggu kami di depan sana. Di gerbang kesuksesan.
Lalu kita berjibaku lagi dalam karya dan inspirasi yang lebih besar.
Untuk Indonesia.
Insyaallah.

               Wah baru dapet kesempatan sekarang buat nulis ini. Terharu dan bersyukur banget kemaren sudah ada dari fungsio BEM FT KM Undip yang wisuda. Beliau namanya M. Dwi Khoirun Adhim, Diploma III Teknik Kimia angkatan 2010. Mas Dwi juga jadi litbang BEM FT KM Undip, untuk Departemen Kebijakan Publik.
                Tulisan ini ingin menyampaikan rasa bahagia yang sama, dan ucapan selamat teriring do’a semoga di fase hidup yang baru ini dimudahkan segala langkahnya dan diberkahi. Masih inget dulu awal tahun saya sama Bang Heri meminang Mas Dwi untuk berkarya bersama di BEM FT KM Undip. Alhamdulillah dapat respon yang positif banget dari Mas Dwi.

                Kita kumpul-kumpul, ngobrol bareng, ketawa bareng, sedih bareng, evaluasi bareng, banyaklah yang udah kila lakuin. Semoga menjadi amal jariyah. Ga kerasa ya waktu cepat sekali berputar. Mas Dwi sudah wisuda. (Saya menyusul segera insyaallah J hehe).

                Lewat tulisan ini saya juga ingin meyampaikan terimakasih yang banyaknya tak hingga atas setiap ide, karya, dan inspirasi, yang sudah Mas Dwi berikan satu tahun terakhir ini. Mas Dwi sudah jadi bagian penting dalam hidup saya dan keluarga di BEM FT Undip tahun ini. Berat rasanya melepas. Bukan karena periode kepengurusan yang tersisa dua bulan ini. Bukan. Tapi karena kekeluargaan yang sudah kita bangun. Tapi karena cerita tentang karya dan inspirasi yang kita tuliskan.
                Mas Dwi, meski sudah wisuda, jarak mungkin memisah, tapi tetap Mas Dwi adalah bagian dari keluarga BEM FT KM Undip 2013. Sampai kapan pun. Kekeluargaan ini abadi. Aamiin. J

                Barakallahu fik, Mas Dwi.
Senyumnya bahagia sekali. Jadi ikutan bahagia. :)

17.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 2

Minggu, 27 Oktober 2013

Mau Jadi Bintang, Kunang-kunang, Apa Black Hole? *tulisan di dinding kamar

Ceritanya saya lagi ga bisa tidur. Kangen rumah, banyak masalah, banyak amanah, kepala pengen pecah, uneg-uneg pengen tumpah. Malam ini saya kepikiran sesuatu. Tentang bagaimana kita memandang hidup dan diri kita. Tentang bagaimana kita punya tujuan akan masa depan kita. Intinya kita mau bagaimana dan jadi apa.
Judul tulisan saya ini “Mau jadi black hole, kunang-kunang, apa bintang?” maksudnya apa, sih? Ini cuma renungan saya saja. Kalau ada baiknya bisa kita ambil dan simpan dalam kepala, lalu terapkan lewat raga.

Mertuanya Ali bin Abi Thalib ra pernah berwasiat. Eh, tau ga siapa mertua Ali? *hehe. Beliaulah Rasullullah, Muhammad SAW. Wasiatnya begini *catet*, Khairukun Afa’ahum Linnas, Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat kepada sesama. Kira-kira begitu. Maaf kalau transliterasi Arab-Latin sama terjemahannya kurang pas, maklum, Cuma setahun belajar bahasa Arab di SMA. Baru kenal ‘huwa’, ‘huma’, ‘hunna’, ‘hum’, doing, sih.
Ini kaitannya dengan visi yang kita bawa dalam hidup kita. Bukan berarti pas kita lahir dari Rahim ibu kita *jebret* terus kita sampein visi-misi kayak orang kampanye, bukan. Tapi selayaknya, untuk bisa dibilang kita hidup sebener-bener hidup, kita harus punya sesuatu yang diyakini, dipegang dalam hidup, jadi prinsip, yang otomatis itu semua juga perlu tujuan.

Bicara manfaat, jelas kita sepakat, bahwa orang paling baik itu ya yang paling bermanfaat. Nah, pertanyaannya sekarang tujuan hidup kita sama manfaat diri kita sudah sinkron belum, sih? Sudah bener-bener punya dan jadi tujuan belum, sih? Sejauh dan sekuat apa tujuan kita? Jawabnya ada pada hati dan karya-karya kita. Monggo dijawab.

Lihat bintang. Matahari salah satunya. Anak SD juga tau. Dengan solar cell, energi matahari bisa jadi listrik. Matahari jadi sumber energi di bumi. Fotosintesis *duh, hampir lupa sama kata ini, 3 tahun lebih ga ngejamah Biologi tercinta* ambil energi dari matahari. Singkat cerita matahari dan bintang ini punya manfaat besar sekali. Menggerakkan kehidupan, menginspirasi gerak-gerak kehidupan. Nah, mau jadi bintang? Manfaatnya besar banget. Dia juga tampak tepat di atas kepala manusia seluruh dunia. Bahkan berbagi keindahan lewat lidah apinya di kutub utara dan selatan berupa aurora yang memesona. Tapi dia ga kufur, ga sombong, ga songong. Dia tetap melaksanakan titah Tuhannya. Berputar, reaksi fusi, gerak semu, dan lain-lain.

Lihat juga kunang-kunang. Ilmu kunang-kunang ini saya ambil dari keluarga Forum Indonesia Muda. Bangga bisa jadi bagian dari FIM *J*. Untuk bermanfaat, ga harus jadi bintang atau matahari yang selalu tampak, bahkan sangat besar di mata manusia. Jadi ada namanya pahlawan di jalan sunyi. Itulah kunang-kunang. Bercahaya, menerangi, tapi tak banyak orang tau. Justru keikhlasannya di sini lebih terjaga. Pengen deh jadi kunang-kunang. Mau?

Tapi jangan seneng dulu. Perkenalkan, ada yang namanya Black Hole atau lubang hitam di langit sana. Katanya sih bintang mati, terus jadi hitam dan menyedot segala yang ada di sekitarnya. Ngeri kali. Artinya kalau kita analogikan, bukannya memberi, tapi malah meminta, bahkan memaksa *menyedot*. Bukan cahaya, eh malah gelap. Kamu mau jadi seperti black hole? Na’udzubillahi min dzalik.
Ya, bisa jadi bahan renungan untuk kita semua. Kita mau seberapa manfaat diri kita. Mau jadi seperti bintang, kunang-kunang, apa black hole?
*tulisan ini dibuat bukan untuk mengingkari manfaat yang pasti ada dari black hole, karena Allah menciptakan sesuatu itu pasti ada tujuan dan manfaatnya. Maaf ya, black hole.

Tembalang, 27 Oktober 2013.
02.55 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Minggu, 18 Agustus 2013

Pagi, nikmat yang disegerakan.

Adzan sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Bersama teman kontrakan lekas keluar rumah setelah sebelumnya antree berwudhu. Pagi ini indah. Udaranya segar. Tembalang masih sepi. Maklum, hari ini belum genap dua minggu setelah lebaran. Bintang masih terlihat sedikit di langit. Lebih jelas daripada malam tadi ketika langit masih tertutup polusi. Pagi ini sedikitnya lebih bersih. Maka bintang lebih jernih untuk dipandangi.

Pagi. Menjadi nikmat yang disegerakan Allah untuk hamba-Nya setiap hari. Betapa tidak, pagi menjadi tolok ukur kebaikan pada suatu hari. Jika paginya baik, maka setelahnya akan ikut. Karena kita memahami bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan. Ketika kita menanam banyak hal-hal baik di pagi hari, maka siang dan malam di hari itu insyaallah akan memanen kebaikan.

Di masjid, memandangi wajah orang satu per satu. Bersih. Bersinar. Wajah-wajah di pagi hari bebas tekanan. Bisa jadi karena belum ada dosa yang diperbuat. Wajah-wajah itu berbinar, dengan balutan kesucian.

Shalat subuh usai. Di jalan dari masjid menuju kontrakan, sengaja memperlambat langkah. Di jalanan yang masih lengang, dengan berani mengambil bagian tengah jalan untuk dilalui. Jarang-jarang bisa sebebas ini menikmati bagian tengah jalan di siang dan malam hari. Sekali lagi udara semakin sejuk. Bintang-bintang masih ada. Sedikit. Tersamar oleh semburat cahaya dari Timur.

Suara begitu hening. Jernih untuk dinikmati dengan seksama karena belum ada polusi suara. Mesin kendaraan bermotor saja belum dipanasi.

Sampai di kontrakan, seorang teman menyetel mp3 murattal Syaikh Misyari Rashid Al-Afasy. Semakin sempurna saja kesan pagi ini. Al-Qur’an sudah memanggil-manggil. Tepatnya hati ini yang rindu untuk membacanya. Seperti sejuknya pagi ini, bacaan Al-Qur’an menjadi embun bagi hati-hati yang kering, menjadi penyejik jiwa yang meronta-ronta oleh kerasnya dunia.

Pagi adalah nikmat yang disegerakan. Pagi adalah pusaran energi setiap hari. Bersama fajar dan tegasnya mentari saat mendaki ke langit, pagi datang dengan kesahajaan dan sapanya yang ramah. Teringat, di kampung sana, pedagang sayuran di pasar tradisional sudah ramai kala pagi menjelang. Semangat ulet dan gigihnya membersamai pastinya mentari yang mendaki. Cerah harapannya secerah langit yang mulai merekah. Semoga sejahtera dan dilimpahi barakah.

Pagi adalah keajaiban, saat langit benar-benar terhubung dengan bumi. Seperti senja, saat amal-amal di angkat ke langit. Aku kagumi pagi dengan segala cerita di dalamnya.

 اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).”
08.09 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Selasa, 13 Agustus 2013

POLO TEKNIK, Inspirasi Soliditas Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro


Berikut ini adalah kultweet saya @taufikarahmat tentang produk dari BEM FT Universitas Diponegoro yang digawangi anak-anak Departemen Ekonomi dan Bisnis==>POLO TEKNIK
Silahkan membaca, silahkan order :)


  1. Siapa yang udah pernah make #PoloTeknik tweeps???
  2. Sesuatu banget ya kalau kita make #PoloTeknik, harga terjangkau, keren, cetar membahana lagi...
  3. Berita paling panas hari ini adalah kalau kita sudah pernah make yang namanya #PoloTeknik. Serius.
  4. Siapa bangga jadi anak teknik? You are the engineer, guys! Bung Karno dan Pak Habibi juga engineer kayak kamu :D #PoloTeknik
  5. Pak SBY juga anak teknik, teknik militer hehe #PoloTeknik
  6. Good! Pasti taulah kalau Fakultas Teknik adalah fakultas terbesar yang ada di Undip. Ada 19 Jurusan lho...  #PoloTeknik
  7. Pastinya, mahasiswanya juga paling banyak. Bejibuun bro... Hampir separuh dr jumlah mahasiswa Undip yg kurang lebih 30rebu jiwa  #PoloTeknik
  8. Ga cuma itu. Fakultas Teknik juga ga sembarangan. Mahasiswa dan ormawanya selalu jadi sorotan :)  #PoloTeknik
  9. Semoga ke depan, Fakultas Teknik selalu terus berkarya dan menginspirasi ya! Ga cuma buat Undip, tapi juga Indonesia :) #PoloTeknik
  10. Anak Teknik, ya riset, ya seni, ya olah raga. Segala macam karya kita suka :)  #PoloTeknik
  11. Anak Teknik itu yang paling kompak. Ga kompak, bukan anak teknik. Makanya ada "Salam Kompak dari Teknik!"  #PoloTeknik
  12. Teknik itu biru :) Makanya Undip juga biru :)  #PoloTeknik juga biru. Kamu biru juga ga?
  13. Orang itu kagum sama anak Teknik, yang tugas/laporannya bejibun, kurang tidur, tapi prestasi oke. :)  #PoloTeknik
  14. Anak Teknik itu solid. Solid. Makanya ada "Satu Tekad Teknik Jaya."  #PoloTeknik
  15. Kita punya suguhan istimewa buat kamu para anak teknik Undip==>#PoloTeknik
  16. Orang bilang seragam itu yang menyeragamkan warna. Pelangi ada. Tapi tetap harmoni. :) #PoloTeknik
  17. Siapa punya jaket almamater? Ini jaket kebanggaan kita yang jadi saksi perjuangan kita bro. #PoloTeknik
  18. Tp sbrpa sring & utk acra apa aja sih kta pke jket almmater? G mgkn dong kta pke jket almmater utk jlan ato olah raga, ga sopan. #PoloTeknik
  19. Hehe... Atas dasar cinta untuk harmoni para teknika, kami mempersembahkan Kaos #PoloTeknik yang bisa kamu pakai untuk santai :)
  20. #PoloTeknik hadir untuk mengharmonikan warna dan cita para teknika
  21. #PoloTeknik dicetuskan beberapa tahun silam. Tapi kali ini beda. Diinisiasi oleh @BEMFT_Undip dan disepakati oleh HMJ/HMPS.
  22. Terimakasih buat Mas @MFatih_A @Primapoom mba @Puspateja dkk yang sudah kembali menginisiasi lagi tahun kemarin. Pada beli ya yang baruu..he
  23. Nah, ini yang menjadi istimewa di Fakultas Teknik. Cuma #PoloTeknik yang disepakati HMJ/HMPS. Bukan kaos yang lain. hehe
  24. Prosesnya juga ga sembarang proses ya tweeps. Melalui proses sayembara desain dan seleksi, maka diambillah satu desain terbaik #PoloTeknik
  25. Kita punya yang namanya Forum Ekonomi Teknik, nah disini #PoloTeknik disepakati seluruh HMJ/HMPS :) Istimewa
  26. Nah, ini dia #PoloTeknik yg mengharmonikan pr teknika. Mau? Jdlah yg prtma! #BerkaryaMenginspirasi pic.twitter.com/SyAmbc1blU cc: @Ekobis_BEMFT
  27. Pesen ya tweeps di Pre Order Batch II ini! Buruan! Stock terbatas. Tapi kalau mau pesen lagi, ya bisa. #Lho hehe... Yg pertama, laku keras.
  28. Dan saya bisa prediksi tweeps. #PoloTeknik akan menginspirasi sehingga nanti bakal ada yang namanya #PoloUndip :D
  29. Kita satukan Teknik dengan #PoloTeknik. Lha wong sarung aja bisa menyatukan Indonesia tweeps. (Dampak iklan sarung..haha)
  30. Untuk pemesanan, kamu bisa hub nomor yg ada di pamflet atau follow dan mention @POLOTEKNIK
  31. Tunggu apa lagi tweeps???

22.51 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Amazing Egypt


Saat ini disini (Bogor) baru saja pagi. Entah di Mesir. Saya belum menanyakan hal itu ke Google. Tapi melihat dinamika Mesir, saya jadi ingin menyampaikan opini dan asumsi saya. Saya sangat terkesan dengan apa yang terjadi di Mesir saat ini. Bahkan saya sampai dibuat amat takjub dengan keteguhan rakyat Mesir melawan tirani dan pengkhianatan. Bukan hanya itu yang mereka lawan, tapi konspirasi besar yang sedang menjalankan skenarionya di negeri mereka.

Mengapa saya sebut konspirasi? Karena saya sudah jengah merasakan konspirasi itu di negeri saya sendiri. Negeri saya sepertinya aman-aman saja, sepertinya. Tapi terlalu banyak argumentasi yang menguatkan pernyataan bahwa negeri saya ini negara autopilot. Simpelnya, negeri saya kaya,tapi ‘saya’ miskin. Emas dan isi perutnya dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan asing. Mati-matian itu dipertahankan oleh pemegang amanah rakyat dan aturan-aturan yang mereka buat. Di Papua sana, di tempat alam benar-benar menampakkan kekayaannya lewat gunung-gunung emas dan pesona alamnya, fakta yang saya dapat adalah disana menjadi tempat paling susah di negeri saya. Kasihan penduduknya. Kalau mau pintar, harus kuliah ke luar pulau (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dll). Ada yang bilang, memang sengaja saudara-saudara saya disana dibuat ‘bodoh’ dengan kurangnya akses pendidikan dan lainnya, supaya sedikit orang-orang dari dalam yang cerdas dan membela hak-hak warga dan tanah asli punya mereka. Supaya tak ada yang bolak-balik Papua-Jakarta untuk advokasi, atau sekadar mengisi jalanan untuk berteriak “Usir Freeport!” Hukum dan keadilan seperti disandera di satu tempat yang saya tidak tahu dimana. Koruptor meraja lela. Aparat jadi preman. Wakil rakyat hanya bisa mewakili rakyat dalam memakan uang negara. Katanya. Tapi memang iya. Medianya juga membuat saya jengah. Sekarang sudah banyak iklan-iklan partai dan lelaki ambisius yang sedang berlomba-lomba menjadi tuan penguasa di negeri ini. Saya tidak menghitung berapa banyak versi dari iklan partainya Bapak Presiden RI yang sekaligus ketua dan ketua dan ketua dan ketua dan ketua di partainya yang hanya sekadar untuk mengucapkan selamat berbuka puasa dan selamat hari raya. Banyak tokoh berprestasi dan rendah hati yang luput media. Jawa Barat yang semakin melesat, kalah dengan berita Jakarta yang katanya baru. Ya, Jakarta hanya baru istilahnya. Banjir disebut sebagai genangan. Lucu ya. Jawa Tengah yang lamban perkembangannya seperti luput. Ya, sang tuan dan ‘ibue’ enggan diliput media, kemudian kehilangan simpati rakyat. Cukuplah membicarakan resah saya tentang negeri saya. Tendensinya kepentingan yang semena-mena.

Mesir. Mengapa Mesir? Saya akan coba paparkan.

Saya terkesan dengan keteguhan rakyatnya yang jutaan itu untuk membela dan menegakkan keadilan di negerinya. Melawan militer tanpa senjata! Sampai hari ini sudah sebulan rakyatnya turun ke jalan. Menunjukkan integritas, kearifan, keteguhan, dan kreatifitas di jalanan. Bukan hanya teriak, orasi, dan teatrikal seperti kita disini, tapi shalat, mengaji, lomba hafalan Al-Qur’an, menikah, dan lain sebagainya. Saya berpikir apa-apaan ini? Masyarakat macam apa mereka? Melawan tirani dengan keteguhan hati dan persatuan, bukan senjata.

Saya terkesan dengan skenario yang sangat terbaca. Sangat terlihat siapa yang mendalangi kudeta. Sangat terlihat siapa-siapa yang senang dan siapa-siapa yang menentang. Dan siapa-siapa yang takut pada sang tuan internasional. Tak perlu saya sebutkan (youknow who, he who must not be named), Anda cukup objektif saja dalam membaca-baca berita dan mengamati dinamika yang terjadi di Mesir. Saya rasa kalau sudah gambar dan video yang bicara, maka siapa berani menentang.

Saya semakin terkesan dengan pemberitaan di media. Ada dua kubu, pro kudeta dan kontra kudeta. Sekali lagi semakin jelas kemana dan seperti apa idealisme dari sang media dan empunya. Dan pastinya logika dan nurani Anda akan sangat dengan mudah memilah mana yang benar. Mana media yang menyajikan berita sebenarnya dan mana media yang mengada-ada dalam beritanya. Ada media yang mengatakan korban pembantaian hanya puluhan, padahal ratusan. Ada media yang mengatakan Mursi begini dan begini, tapi saya puas ketika mendapat klarifikasi dari seorang imam masjid Gaza yang berkunjung ke Masjid Kampus Undip, dan saya berdo’a untuk keselamatan Mursi dan pendukung keadilan. Semakin lega membaca tweet-tweet dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir.

Saya semakin terkesan melihat tanggapan tokoh-tokoh bangsa ini tentang apa yang sedang terjadi di Mesir. Setidaknya itu membuka mata kita tentang siapa dan apa di balik mereka. Presiden kita masih saja prihatin dan mengimbau. Saya hanya menunggu kecaman dari beliau. Tapi belum ada ya? (Correct me if I wrong). Orang-orang Islam liberal yang pikirannya sembrono, mudah sekali dan tanpa malu berbohong via twitternya. Sebut saja Ulil Abshar Abdala dan Zuhairi Misrawi (tak pantas mereka disebut tokoh bangsa ini, kalau sampah ya sepakat!). Jelas-jelas foto menunjukkan itu foto masa pendukung Mursi yang membawa dan menjaga spanduk bergambar wajah Mursi, malah dikatakan itu masa prokudeta. Yang lebih bodoh lagi, pernyataan Zuhairi Misrawi yang kebablasan, tentang tabiat orang-orang liberal yang kalau mereka nanti menjadi mayoritas, orang-orang yang minoritas akan ‘dibunuhi’, dan bersyukurlah orang-orang Islam Indonesia karena orang-orang liberal di Indonesia masih belum mayoritas sehingga mereka tak berani ‘membantai’. Itu penafsiran saya dari pernyataan bodohnya. Silahkan cek saja di media online dan cerna baik-baik. Jadi setidaknya masyarakat kita mengetahui orang-orang seperti apa mereka, dan menjadi pelajaran untuk tidak pernah lagi berkompromi dengan mereka. Apakah iya orang seperti itu kita relakan untuk duduk di kursi pemerintahan? Terserah Anda yang budiman, Pemirsa.

Saya semakin terkesan dengan heroisme disana. Perjalanan bangsa ini jaman Presiden Soekarno dan Soeharto kalah heroik. Bangsa ini dulu pernah juga turun ke jalan. Sampai yang paling terakhir ketika reformasi kemarin. Masih kalah heroik. Bayangkan di Mesir yang turun ke jalan itu jumlahnya jutaan. Mereka tak hanya teriak dan orasi seperti yang saya bahas diatas. Bukan hanya mahasiswa, tapi juga rakyat jelata, bahkan preman-preman dan orang Kristen Koptik yang kemarin mendukung kudeta, perlahan pindah haluan menentang kudeta, sebab mereka tau mereka menjadi alat murah dalam skenario konspirasi para tuan.

Saya terkesan dengan militer Mesir. Melawan dan mengalahkan rakyatnya sendiri. Sampai hari ini masih begitu. Andaikan benar kata demokrasi bahwa suara rakyat itu suara Tuhan, maka pasti saat ini militer Mesir sudah kena kutukan atau malah binasa. Alangkah ‘wibawa’ sekali!

Saya terkesan dengan Mesir. Revolusinya tidak tanggung-tanggung. Baru setahun, ada kudeta. Tapi rakyat tak tinggal diam. Berani sekali rakyatnya. Sangat berani. Jutaan orang dengan gagah menyuarakan keadilan, melawan tirani. Ratusan yang mati, ribuan luka. Apa namanya kalau bukan berani? Sementara itu negeri saya adem-ayem. Bukan tidak ada apa-apa, tapi adem-ayem. Kalau ibu saya bilang, berani itu karena benar, takut karena salah. Yeah!

Saya semakin terkesan dengan orang, institusi, dan negara, yang katanya amat demokratis. Tapi malah mendalangi kudeta. CC: @barrackobama (Eh, ga bisa dimention)

Saya terkesan dengan orang yang mengatakan ini konflik agama. Ya, bener. Jelas orang-orang Islam terpanggil ketika saudara-saudara mereka dibantai. Saya juga terkesan dengan yang mengatakan ini masalah keadilan dan hak asasi manusia. Keduanya tak salah. Dua-duanya adalah kebenaran yang harus diperjuangkan. Biarkanlah orang-orang Islam peduli untuk saudara-saudaranya. Dan kita, apapun agamanya, jelas memiliki kemanusiaan dan keadilan yang sama.

Ah, saya terlalu banyak terkesan pagi ini.

Dan saya terkesan dengan Anda yang bisa jadi tidak langsung sepakat dengan cerita saya ini, kemudian menakar, meneliti, dan menganalisa sendiri lewat informasi yang banyak sekali untuk sekadar mengambil kesimpulan apakah sepakat dengan saya atau tidak. Kemudian kita pun sepakat. Lalu kitaberdo’a untuk pertolongan dan kemenangan di Mesir dan negeri-negeri lain(Suriah juga sedang konflik, bahkan lebih parah, pejuang berdatangan dari banyak penjuru untuk melawan rezim tiran Bashar Al-Assad).

Bogor, 07,30, setelah mengeluarkan dagangan di warung.

14.15 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 06 Juni 2013

Kajian Reflektif: Alay dan Masa Depannya

Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama
Begitulah peribahasa tua mengatakan tentang peninggalan kita di dunia setelah ajal menjemput. Kemudian saya tergelitik melihat realita sekarang. Majunya teknologi pun kini bisa merubah peribahasa yang melegenda dari jaman orang tua saya belajar SD dulu.
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan segenap akun sosmed dan postingannya
*haha
Bahkan kemarin saat kami baru memulai mentoring yang sempat lama tersendat (karena satu hal dan hal lainnya) hal ini jadi bahan obrolan yang sangat menarik. Awalnya saya melihat mata para mentee sudah mulai berat tertimpa kantuk, sejenak ketika saya lontarkan tema ini segera tanggapannya antusias.
Menurut hemat saya, saya menyebutnya ‘mengerikan’. Kenapa?
Tak masalah kalau jika yang kita tinggalkan itu adalah akun dan postingan yang positif. Akan jadi ‘mengerikan’ jika yang kita tinggalkan itu adalah akun-akun dengan nama dan postingan alay.
Thya Agy Marahan Ama Facebook
Anyie Yaa Anie
Budhiee Asliewonkjowo
Kikina kakak
“Q udd blank lok Q agy mlezz ponan ma cmzan, jdna aQ OL ma tmen2 Fesbukers @_@”
Sudah kebayang betapa mengerikannya hal ini? Bayangkan saja jika kematian kita hanya meninggalkan akun-akun alay dengan postingan yang susah dibaca. Akan jadi tertawaan bagi orang-orang yang hidup. Nyesek ga tuh? Sudah begitu, anak dan cucu pun jadi malu menanggung aib kealayan.
Tidak cukup sampai disitu. Bayangkan di dalam kubur dan hari akhir nanti kita akan diminta pertanggungjawaban untuk semua amal dan perbuatan kita di dunia. Salah satunya adalah akun-akun tersebut.
“Hai Fulan, kau gunakan untuk apa akun-akunmu? Sekarang saatnya pembalasan atas dosa-dosamu membuat tulisan yang susah dibaca manusia.”
‘Mengerikan’ sekali, bukan?
Coba pikirkan lagi, di alam kubur tak akan mungkin kita bisa mengelak. Tak mungkin ada percakapan seperti ini:
M: kamu tau kamu sekarang di mana?
A: di hatimoooeeeee
M: siapa Tuhanmu?
A: kasih tau ga ya?
M: siapa Nabi mu?
A: mau tau aja atau mau tau banget?
M: kamu tau gak kerikil di neraka jahanam 70x lebih panas dari api di dunia?
A: trus gw harus bilang woooooooooow gitu?
M: aku pastikan kamu masuk neraka!!!
A: ciyusss??? miapah???
(diambil dari sebuah komentar di Kompasiana)

Mari kita bandingkan dengan generasi terbaik ummat ini. Mereka di lahirkan di tengah keterbatasan zaman. Listrik belum ada. Apalagi social media. Sebut saja Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanafi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dan kawan-kawan(Semoga Allah merahmati mereka). Peninggalan mereka adalah karya-karya yang sangat monumental dan berkelas. Sudah ratusan tahun, tapi tetap saja menuai manfaat. Selalu dibaca dan disampaikan segenap manusia. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Kitab Al-Muwatha’ tulisan Imam Malik ditulis dengan tulisan alay? Na’udzubillah. @_@
Nah, itulah perbandingan generasi ratusan tahun silam dengan generasi hari ini. Atau saya yang tidak tahu bahwa alay itu sudah ada sejak ribuan tahun silam dan menjadi klan rahasia yang terus berkembang sampai sekarang? Haha sudahlah…

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung para alay, apalagi menyakiti. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam hukum dan pemerintahan  #eh. Jadi, menjadi alay itu juga hak. Tapi bisalah kita ambil pelajaran untuk bisa menggunakan kemudahan-kemudahan teknologi informasi seperti social media secara cerdas dan bertanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab di dunia, tapi juga akhirat.

Semarang, 5 Juni 2013
@taufikarahmat
07.01 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Minggu, 24 Februari 2013

Unik dan Indahnya Interaksi Kita (Komunikasi, Cinta, dan Ukhuwah Islamiyyah): Materi Tashiru Rohis Ar-Rabbani



Alhamdulillah dapet kesempatan untuk upgrade kapasitas nih pas liburan. Rencana Allah selalu luar biasa. Ari Susanto, Reza Arief Fauzan; dua adik kecil dengan kapasitas besar yang berani dan berkeinginan kuat untuk berkembang. Bangga deh sama kalian. Mereka yang menjadi perantara Allah untuk merecharge semangat lagi dengan bertemu dan diskusi bersama adik-adik di Rohis Ar-Rabbani SMA Negeri 1 Tumijajar. Siang itu, Rabu, 13 Februari 2013, di ruangan yang dulu kita sebut ruangan aula atau kemudian kita lebih akrab dengan sebutan kelas XI IPA 1, berkumpullah wajah-wajah ceria yang mewarnai ruangan penuh cerita ini. Sejujurnya ketika saya kembali ke tempat ini, ke tanah ini, langkahku jadi lebih memburu, tulang punggungku jadi lebih merunduk. (#jangandipikirinparagrafini)
Reza, Ari, dan saya, membawakan sebuah diskusi yang sangat menarik dan relevan buat adik-adik insyaallah setelah sebelumnya dilakukan riset kecil-kecilan tentang materi apa yang perlu kami sajikan. Ukhuwah, yang turunannya adalah komunikasi dan cinta.
Slide #1 #2 #3
Ini adalah penegasan tentang tujuan adik-adik semua: mau belajar, sukses, berkembang, cari jodoh, ikut-ikutan, dan lain sebagainya. Ataukah kita akan termasuk ke dalam orang-orang yang celaka sebab tujuan tak jelas dan setiap harinya semakin buruk.
Slide #4 #5
Sebuah analogi tentang jalan yang harus kita lalui dimana di ujungnyalah terdapat tujuan. Dan di sekitar jalan itu terdapat beragam macam godaan yang sewaktu-waktu akan datang tanpa diundang, akan memburu tanpa dipancing. Godaan yang beragam itu dapat menggagalkan perjalanan kita, atau memperlambat laju perjalanan. Maka baiknya sekali lagi kenali lagi dengan sangat apa yang menjadi tujuanmu, jalan mana yang kau tempuh, dan pekalah terhadap godaan-godaan yang muncul.
Nah, yang kami identifikasi godaan-godaan dalam masa remaja, organisasi, dan dakwah, itu di antaranya ada pada ukhuwah yang terjalin, bagaimana komunikasinya, dan seperti apa cara cinta hidup di tengah-tengah perjalanan. Nah lho, ada cinca yang bakal dibahas.
Slide #6 #7 #8
Ada beberapa hal yang  prinsip banget yang harus disepakati sebelum diskusi berjalan lebih jauh untuk menyamakan frame.
       Kita adalah anak-anak muda terpelajar
       Kita adalah anak-anak muda Muslim
       Kita adalah anak-anak muda yang jatuh cinta kepada Islam hingga kita menyatu dengan Islam seutuhnya dan mendedikasikan kehidupan kita untuk Allah dan kejayaan Islam
       Kita adalah da’I, sebagaimana tertulis dalam QS. An-Nahl: 125
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Oke kita sepakat, ada satu orang saja yang tidak sepakat, diskusi berhenti. Titik. Alhamdulillah semua sepakat. J
Setelah itu kita sama-sama menyadari bahwa konsekuensi dari empat poin itu adalah kita akan menjadi contoh, teladan, dan sorotan. Perbuatan kita akan dilihat banyak orang. Alhamdulillah ketika kita melakukan kebaikan kemudian dicontoh, maka pahala yang akan dipanen. Akan tetapi jika kita melakukan kasalahan atau sesuatu yang tak baik, kemudian kita menjadi pembenaran untuk adik-adik kita dan orang lain. Ini yang bahaya. Sebab yang saya lihat selama ini, ini yang terjadi. Apa yang kita lakukan akan diikuti oleh generasi setelahnya. Bisa jadi karena disangka itu keren, fresh, dan lain sebagainya. Dan beratnya pertanggungjawaban atas itu semua. #astaghfirullahuntukdosamasalalu
Perubahan dan perbaikan. Kita yang harus memulai! Ingatlah bahwa kita adalah ummat terbaik, seperti firman Allah swt:
“Kamu adalah ummat terbaik yang diturunkan kepada manusia. Mengajak kepada yang ma’ruf. Mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 110)
Tentang ayat ini, seperti apa sih manusia terbaik itu? Diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah pernah ditanya begitu. Apa jawab Rasulullah saw? Jawab beliau begini:
”Manusia yang terbaik ialah yang paling pandai membaca Al-Qur’an dan paling bertakwa di antara mereka kepada Allah, serta paling gencar dalam melakuka amar makruf nahi munkar terhadap mereka, dan paling gemar di antara mereka dalam berslilaturahmi.”
Ayat ini maknanya mencakup semua ummat ini dalam tiap generasi, dan sebaik-baik generasi adalah orang-orang yang Rasulullah saw diututs di kalangan mereka, kemudian setelahnya, dan setelahnya.
FYI nih, dalam sebuah hadits qudsi juga disampaikan kalau Allah Swt pernah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mengutus sesudahmu suatu ummat yang jika mereka mendapatkan apa yang mereka sukai, maka mereka memuji-Ku dan bersyukur kepada-Ku. Dan jika mereka tertimpa apa yang mereka tidak sukai, maka mereka ber-ihtisab (mengharapkan pahala Allah) dan bersabar, padahal tidak ada kesabaran dan tiada ilmu.” Isa bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana mereka dapat berbuat demikian, padahal tanpa sabar dan tanpa ilmu?” Allah swt berfirman, “Aku beri mereka sebagian dari sifat sabar dan ilmu-Ku.”
Oke, next!
Slide #9
Nah, sekarang sudah jelas. Posisi kita dimana, sebagai apa. Ada pertanyaan nih. Sebenarnya Cuma penegasan saja. Kita yang merubah atau kita yang dirubah? Secara kita sudah tau kita siapa dan sudah tau kita ada di jalan menuju garis finish dimana banyak sekali godaan yang macam-macam.
Merubah atau dirubah?
Slide #10
Nah, waktu makin sempit, sebentar lagi ashar. Kita ngobrol masalah komunikasi dulu ya. Tiga kakak yang hadir bukan pakar komunikasi atau anak-anak jurusan komunikasi, tapi tiga kakak ini mau coba share tentang pengalaman dan ibrohnya buat temen-temen semua.
Berapa umur kita? Bisa dibilang kalau kita berada di usia yang sangat ‘lembab’. Ya! Ga kering, juga ga basah. Lembab! Alias labil. A-B-A-B-I-L. He he he. Di umuran segini lagi labil-labilnya. Ego cukup besar. Emosi berubah-ubah. Kadang lagi gandrung sama A, kadang lagi gandrung sama B. Kadang suka ini, kadang suka itu. Ya taulah labil itu yang gimana.
Terus, kadang-kadang ada selek. Antar sesama teman. Antar sesama pengurus OSIS atau Rohis. Atau satu geng, satu eksrakurikuler, atau satu halaqah. Tapi tapi tapi, tapi itu wajar kok. Kita masih belajar kan? Belajar bagaimana bisa jadi teman yang baik. Belajar bagaimana bisa jadi sahabat yang baik. Belajar bagaimana bisa jadi organisatoris yang baik. Nah, orientasinya itu belajar. Karena belajar, jadinya wajar. Segera ambil pelajaran yang ada. Pasti ada hikmahnya.
Kita belajar supaya bisa jadi manusia yang dewasa. Dewasa itu bukan masalah umur. Tapi masalah sikap. Masalah apa yang ada di otak dan hati kita plus outputnya bagaimana. Itu dewasa.
Pendidikan itu kan untuk memanusiakan manusia. Jadi lebih bertaqwa, lebih arif, lebih dewasa, lebih bersahaja, lebih bermanfaat, dan lebih manusiawi. Jadi, salah satunya disini supaya kita bisa belajar komunikasi lebih baik.
Perbanyak merenung. Bukan bengong. Untuk evaluasi diri kita sendiri dan perencanaannya ke depan mau bagaimana. Kalau ada masalah. Coba direnungin dalam-dalam. Harus berani untuk mengevaluasi diri sendiri. Kalau kita salah, jangan malu untuk minta maaf dan memperbaiki. Siapa pun bisa salah. kita bukan superman, bukan batman, apalagi nabi. Kalau kita benar, benarnya kita bukan untuk menyalahkan yang salah. Harusnya kita membuat yang salah itu jadi benar dengan (baca: memperbaiki, menasehati) cara yang paling baik.
Coba deh renungin. Yang paling baik itu bukan yang paling bisa membuktikan bahwa dirinya benar dan yang lain salah. tapi yang paling baik adalah yang mampu membuat yang salah itu jadi benar (baca: memperbaiki, menasehati, etc) dengan cara yang paling baik dan elegan.
Slide #11
Percaya deh kalau kamu bisa komunikasi dengan baik. Ada beberapa tips nih.
·         Care & Respect. Peduli dan menghargai ini perlu dijunjung tinggi. Penting banget soalnya. Jadilah pribadi yang care dan respect ya! Rasulullah itu kalau berbicara dengan orang lain, beliau menatapkan matanya sepenuhnya, beliau menghadapkan badannya sepenuhnya.
·         Berikan dan perlihatkan perhatian kita kepada orang lain. Nyatakan senyata-nyatanya dalam sikap kita. Ga perlu malu-malu.
·         Optimis dan bergairah. Optimisme itu bisa terpancar dari sorot mata dan tutur kata. Bahkan gerakan anggota tubuh kita.
·         Rendah hati kepada setiap orang. Penampilan, sikap, tutur kata kita, musti jadi perhatian kita nih. Kalau di SMA, bagaimanakah sikap kamu ke OB atau tukang kebunnya?
·         Laa taghdhab! Jangan marah ya! Kalau marah, segera isti’adzah. Kalau tidak bisa, segera duduk, atau berbaring. Insyaallah amarahnya reda. Kalau tidak bisa juga, berwudhulah!
·         Pelajari sihir memikat hati (=senyuman J). Senyuman adalah sedekah. Percaya ga dengan senyuman kita bisa mengguncang dunia?
·         Berpenampilanlah yang menarik!
·         Kuasai seni berbicara! Berbicara ada seninya. Coba deh buka-buka buku tentang seni berbicara. Atau searching di internet. Atau coba renungkan gaya-gaya bicara yang baik dan enak menurut kita. Aplikasikan di diri kita.
·         Tapi sebelum itu, pelajari seni mendengar dan menyimak. Komunikator yang baik itu bukan pembicara yang baik. Tapi sebelum itu dia adalah pendengar yang baik.
·         Silahkan dicoba. J

Slide #12
Kita masuk ke sesuatu yang ditunggu-tunggu nih. Love. C-I-N-T-A. Bilang w-o-w dulu dong.
Wooooooooowwwwww!
Siapa yang ga seneng dikagumin dan diperhatiin? Semua seneng. Manusiawi kok. Cinca, eh cinta. Cinta itu apa definisinya? Cinta adalah cinta. Cinta hanya butuh kata cinta itu sendiri untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Weleeeeeeehh….
Cinta itu wajar. Tapi bukan diwajar-wajarkan. Maklum. Tapi bukan dimaklum-maklumkan. Justru yang jadi masalah kalau dia ga merasakan yang namanya cinta. Segera beli obat ke apotik terdekat. Kalau setelah 24 jam ga ada perubahan, hubungi dokter! Catet nih: Inget siapa kita, tujuan kita, posisi kita, dan inget batasan dan rambu-rambunya!
Disini kita tidak bicara apakah pacaran itu halal atau haram. Udah basi. Dan kita pun tau bahwa pacaran “tidak dilarang”. Yang dilarang itu mendekati zina. Nah, segala sarana, media, dalam bentuk apapun yang sewaktu-waktu bisa mengantarkan kita kepada zina, jelas dilarang. Zina mata, zina hati, zina telinga, zina kemaluan, zina jari(SMSan).
Disini kita bicara tentang prinsip yang di awal sudah kita sepakatin. Baca lagi dah. Gigit prinsip itu kuat-kuat dengan gigi geraham.
Jangan persempit makna hanya ke dalam hubungan antara dua makhluk yang tak berdosa dan saling berjanji saling setia (kadang-kadang selingkuh…haha). Bicara soal cinta, kita juga bicara soal ukhuwah. Ukhuwah itu ikatan hati karena kesamaan akidah. Kita bersaudara dalam naungan cinta-Nya. Kita bercinta di atas sajadah cinta-Nya. Ukhuwah itu, talinya adalah akidah, dan singgasananya adalah cinta. Cocwiiiitt. Mencintai dengan cara yang baik, yang diridhai Allah. Supaya barakah. Supaya dirahmati Allah. Bukan dilaknati. Bisalah bedain antara cinta dengan nafsu.
Disms sama si dia yang ganteng/cantik/pinter, terus kita girangnya bukan kepalang. Ini cinta apa nafsu? Relatif kok. Wajar kok. Tapi ya inget lagi kesepakatan kita di awal. Tapi ya bukan berarti diwajar-wajarin.
Fisik kita sempurna. Akal kita sempurna. Bisa dong bedain mana yang yes atau no. Jadi godaan/hambatan atau tidak, kita pasti ngerti. Tegas!
Slide #13
Dalam Ukhuwah Islamiyah kita ibarat satu tubuh. Satu sakit, semua merasakan sakit yang sama. Satu sakit, yang lain menjadi obat. Ukhuwah Islamiyah itu saling menguatkan. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Saling mencintai secara layak dan baik.
“Tiada sempurna keimanan seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya” (H.R Bukhari & Muslim)
With all the love and pride.
Reza, Ari, Taufik
22.27 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 15 Februari 2013

Berkarya Menginspirasi














Berkarya Menginspirasi, buat yang mau pake pict ini jadi cover FB silahkan :-)
09.48 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0