TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

Tekan Tombol F5 untuk Gerakan Aku Cinta Undip!

Pernah dengar Gerakan Aku Cinta Undip? Pertama, saya ulas sedikit sejarahnya. Pada tahun 2011 lalu dicetuskan Gerakan Aku Cinta Undip sebagai manifestasi dari cinta dan semangat civitas akademika membangun almamater. Gerakan ini lahir dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada almamater tanpa dibatasi sekat apapun, yang pada muaranya adalah semangat berjuang, berkorban, memajukan Universitas Diponegoro.
Awalnya gerakan ini dirancang dengan 3 fase gerakan: penyadaran dan implementasi (2011), dan pengembangan (2012). Tulisan ini bukan untuk memberi justifikasi tentang Gerakan Aku Cinta Undip yang hari ini sedikit mandek, tentu hal ini perlu jadi catatan. Tulisan ini membawa semangat untuk merevitalisasi gerakan ini ke dalam bentuk yang relevan untuk hari ini dan beberapa tahun mendatang.
Karena cinta, rela lakukan apa saja
Kiasan ini yang nampaknya jadi jiwa paling kuat dari Gerakan Aku Cinta Undip. Cinta Undip berarti rela lakukan apa saja untuk kemajuan Undip. Rasa cintalah yang menjadi ruh dari apapun perjuangan dan kontribusi kita membangun almamater. Rasa cinta pula yang menjadi sumber energi kita berjibaku bersimbah peluh dalam persembahkan kado terindah untuk almamater. Sederhananya, karena cinta kemudian lahir rasa memiliki, bangga, dan semangat untuk berkorban demi yang dicinta.
Pun kita mengerti bahwa cinta jadi bahan bakar dalam setiap kerja-kerja yang kongkrit, dari yang ringan sampai yang berat. Dan kita lebih mengerti bahwa cinta adalah penawar dari pahit dan getirnya perjuangan, bahkan cinta menyulap semuanya jadi manis. Inilah substansi yang ditawarkan Gerakan Aku Cinta Undip. Dari sini kita sangat berharap kelak akan lahir Diponegoro Muda-Diponegoro Muda yang gagah berlaga memajukan almamater lewat apapun passionnya.
Gelar Diponegoro
Nama ini adalah pemberian dari Presiden Soekarno pada 9 Januari 1960. Kita harusnya bangga dengan nama besar Diponegoro yang disematkan pada nama kampus kita. Siapa yang tidak tahu sepak terjang pahlawan nasional yang satu ini? Pangeran Diponegoro sangat dikenal dengan karakter yang kuat prinsipnya, dekat dengan rakyatnya, berani dalam melawan kelaliman, paling tangguh dalam tiap perjuangan. Dalam kaitannya dengan Gerakan Aku Cinta Undip, hal inilah yang menginspirasi kita untuk segera mengokohkan rasa cinta pada almamater.
Sejatinya cinta, ia datang tanpa perlu pretense
Salah kalau cinta muncul karena dipaksa. Justru cinta muncul tanpa butuh banyak alasan. Tak perlu dibuat-buat. Juga tak benar jika cinta ada hanya meminta. Justru cinta menegaskan banyak memberi. Maka, inilah yang harus kita sepakati. Hendaknya Cinta Undip sudah muncul sejak nama kita pertama kali terpampang di pengumuman lolos seleksi masuk. Cinta yang otomatis. Bukan karena dipaksa ‘senior’ atau dipaksa ‘rektor’. Jika iya, maka itu hanya terpaksa. Jadi, yuk coba kembali kita murnikan cinta kita, cinta yang tanpa paksa, tanpa beban.
Karena cinta, warna-warna jadi pelangi
Di Undip banyak organisasi, komunitas, paguyuban, dan club yang macam-macam coraknya. Masing-masing punya budaya dan alur kaderisasi sendiri-sendiri. Ini potensi yang harus terus kita olah dan kembangkan. Akan tetapi seringnya proses pengkaderan yang ada secara tak sengaja memberi porsi lebih banyak pada cinta kepada organisasi atau komunitas masing-masing. Rasa cinta Undip kian tertutupi, bahkan terkikis. Yang pada gilirannya akan muncul fanatisme berlebih dan muncul banyak jurang-jurang pemisah. Lebih ngeri lagi adalah ego yang menyeruak tak beraturan dan berpotensi menimbulkan konflik.
Lewat Gerakan Aku Cinta Undip kita hanya ingin merefresh cinta kita di kampus ini. Cinta yang saling melandasi dan menguatkan. Sehingga ada pola hubungan yang konstruktif dari setiap entitas yang ada. Karena kita adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro.
Menanti rektor baru yang juga cinta Undip
Gerakan Aku Cinta Undip sangat selaras dengan visi Undip. Gerakan Aku Cinta Undip lahir untuk menyokong visi, misi, dan milestone yang telah Undip rencanakan. Maka, jelas ini bukan hanya menjadi gawean mahasiswa. Seluruh civitas akademika harus terhagemoni oleh Gerakan Aku CInta Undip. Dan kita berharap banyak pada pemilihan rektor nanti. Disini akan ditentukan seperti apa wajah dan tubuh Undip empat tahun ke depan. Kita jelas berharap para calon rektor memiliki gagasan yang kongkrit dan support yang kuat untuk membangun dan mengembangkan Gerakan Aku Cinta Undip. Ya, kita nantikan saja.
Akhirnya, 2014 ini adalah momentumnya. Momentum saat cinta dan gerakannya kita revitalisasi. Gerakan Aku Cinta Undip kali ini bukan hanya milik BEM KM Undip, atau BEM Fakultas, atau organisasi saja, akan tetapi milik seluruh mahasiswa dan civitas akademika yang ada. Kalau dulu gerakan ini masih berkutat pada sosialisasi dan penggunaan simbol, kali ini kita akan kongkritkan lagi dalam kerja-kerja nyata yang mengedepankan kolaborasi. Siapapun bebas berekspresi sesuai passionnya dalam mengaktualisasikan rasa cinta kepada almamater.
“Kita ingin Undip bahagia dengan prestasi, kerja, dan karya. Kita ingin semua tersenyum, meletakkan cinta pada almamater dan Indonesia.” (Diponegoro Muda)
07.50 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 05 Desember 2013

Curahan Hati, Momen Akhir Tahun dan Tahunan

                Politik kampus, kok kesannya serem ya? Selalu saja saat Pemira menjelang isu yang diangkat adalah kepentingan yang dibawa organisasi ekstra yang juga turut serta. Hingga muncullah rekan-rekan yang mengaku independen. Dan bertebaranlah opini tentang kepentingan organisasi ekstra kampus yang begini dan begitu.
                Organisasi ekstra kampus adalah realitas dan entitas yang tidak bisa dielakkan dari kampus itu sendiri. Yang aneh adalah muncul bahasan bahwa organisasi ekstra kampus harus dihapuskan atau dilarang. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah siapa yang berhak melarang? Sebab dalam UUD ’45 jelas diatur kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, yang menjadi hak semua warga Negara.
                Kemudian yang menjadi realita adalah bahwa organisasi ekstra kampus juga turut serta berpartisipasi dalam pemilihan raya atau dalam pemilihan pemimpin sebuah lembaga. Perlu digaris bawahi, bukan organisasi ekstra yang turut serta secara kelembagaannya, tapi kader-kadernya yang juga sebagai kader lembaga internal yang turut serta. Adakah yang tau bahwa ada organisasi ekstra yang memiliki visi untuk melahirkan kader-kader pemimpin? Maka wajar jika rekan-rekan kader organisasi ekstra memiliki motivasi dan wawasan lebih dalam hal kepemimpinan. Apakah salah? Tentu tidak.
                Politik nilai atau politik kekuasaan? Tentu ini kembali kepada masing-masing. Yang saya alami dan amati adalah lebih banyak diskusi tentang nilai-nilai yang dibawa dan dijunjung tinggi daripada diskusi untuk memenangkan sebuah pemira. Bahkan dalam rapat tim sukses pun, dibuka dengan tilawah dan taushiyah (nasehat) yang menjadi pengingat dan pelurus niat.
                Saya sempat mengelus dada ketika melihat sebagian orang bicara tentang politik dinasti di kampus. Istilah politik dinasti sepertinya memang sedang digandrungi. Tapi mahasiswa harusnya cerdas dalam beropini. Kalau yang disebut politik dinasti itu ketika pemimpin lembaga internal kampus yang terpilih seringnya atau bahkan hampir selalu merupakan kader organisasi ekstra, maka saya katakan pernyataan ini tidak rasional. Sebab semua pasti paham bahwa biasanya yang disebut politik dinasti itu karena hubungan darah atau kerabat. Kalau estafet kepemimpinan masih bergilir pada mahasiswa yang merupakan kader internal sekaligus eksternal, maka jangan salahkan organisasi ekstra kampus mana pun. Semua harus paham bahwa di kampus kita masih menjunjung tinggi aturan dan mekanisme yang sah. Semua memiliki kesempatan yang sama. Selagi memiliki kapasitas dan gagasan, dan sesuai aturan/mekanisme yang berlaku, maka tak ada masalah. Dan pertanyaan yang harusnya muncul adalah apakah hanya kader organisasi ekstra kampus saja yang memiliki motivasi, wawasan, dan kapabilitas di atas rata-rata?
                Ketika aturan dipertanyakan objektivitas dan keadilannya, maka silahkan lihat siapa yang berwenang membuat aturan itu. Jangan serta-merta dikatakan ada kepentingan organisasi ekstra kampus di dalamnya, karena belum tentu yang berwenang di lembaga legislatif juga merupakan kader organisasi ekstra dan melakukan rekayasa. Kemudian juga silahkan lihat langsung ke dalam konten aturan, jika ada yang janggal, maka silahkan komunikasikan dengan yang berwenang membuat aturan. Sederhana sebenarnya.
                Terakhir, saya benar-benar miris ketika isu organisasi ekstra kampus dan kepentingan selalu diangkat pada momen-momen pemira. Yang kasihan adalah rekan-rekan yang dikenai tuduhan ini-itu, namun tak ada bukti, hanya berdasar asumsi dan prasangka. Kesan yang muncul adalah isu organisasi ekstra sengaja diangkat untuk menyudutkan salah satu pihak dan mendiskreditkan mereka. Seakan-akan kalau dia adalah kader organisasi ekstra, maka segala hal tentangnya seperti selalu ada kepentingan dan konspirasi. Zhalim ini namanya.
                Sekadar sharing saja, sempat terjadi diskusi tentang sambutan yang saya sampaikan untuk membuka acara yang notabene itu adalah program dari organisasi yang saya pimpin. Dikatakan di dalamnya ada pencitraan. Sehingga ada panitia atau partisipan (bukan pengurus) yang menolak jika saya memberi kata sambutan. Saya hanya miris, sangat tidak cerdas, apalagi predikatnya mahasiswa. Saya sarankan, sebagai pemuda yang terpelajar kita harus belajar lebih banyak lagi tentang apa yang kita sebut dengan respect.
                Maka, yuk, mari bersikap dewasa! Organisasi ekstra itu di luar kampus. Tidak ada hubungannya dengan lembaga internal kampus sehingga perlu dibawa-bawa ke dalam, apalagi dengan tujuan menyudutkan. Saya kira kita sepakat, semua mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tak ada masalah jika sama-sama menjunjung tinggi dan mengakkan aturan yang berlaku.
                Bicara kontribusi, semua punya hak yang sama. Maka jangan dibedakan. Diskusi dan perdebatan yang muncul sepantasnya bukan lagi bicara masalah organisasi ekstra atau golongan/kelompok, tapi tentang seberapa besar dan luar biasa ide dan gagasan yang dibawa, seberapa baik kapabilitas dan kapasitas yang dimiliki, dan seberapa yakin impian dan harapan itu akan terwujud.
                Sederhana sebenarnya jika semua mampu berpikir dan bertindak dewasa. Kalau kampus tidak mencetak kita sebagai orang yang rasional dan dewasa, maka dua kemungkinannya: kampusnya gagal atau kita yang stagnan.


Salam hangat untuk setiap niat baik dan hati yang bersih.
Tetap tersenyum, meski malam masih panjang. Yakin siang ‘kan datang.
Tembalang, 5 Desember 2013
01.58 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Jumat, 22 November 2013

Maka Saksikanlah! *hanya meluapkan rasa


         Dan benar menggenggam bara api itu tetaplah panas. Sebaik apapun kita memegangnya, tetaplah panas. Apalagi ketika memutuskan untuk turun tangan dan ikut berperan. Semakin banyak caci dan prasangka menyasar. Kadang sering dalam hati mengeluh, “Aku lelah, Yaa Allah.” Tapi kembali keluh itu hapus oleh kalam-Mu yang menjadi inspirasi mottoku “Bergerak atau tergantikan”.
         Pernah juga terpikir, kata caci apa yang pernah lisan ini keluarkan, keputusan apa yang pernah dibuat dengan landasan tendensi yang menyimpang dari keadilan dan kebenaran. Sampai diri ini berani bersaksi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Hingga mengapa masih ada maki yang suka menyapa.
         Tapi barangkali karena mereka semua peduli dan memerhati, tapi dengan cara yang berbeda. Dan pada akhirnya aku mengerti mengapa Kau menjadikannya pada peringkat pertama dari orang-orang yang Engkau berikan naungan pada hari tidak ada naungan selain naungan-Mu. Pemimpin yang adil. Ternyata begitu berat. Tak pantas dicari. Hanya bisa jadi obsesi. Bukan ambisi. Sambil terus isi kapasitas dan kualitas diri. Karena visinya buka predikat sebagai pemimpin, tapi sebagai manusia yang Kau pilih jadi peringkat pertama beroleh naungan-Mu pada hari dimana tak ada naungan selain naungan-Mu.
         Do’a kami,
Yaa Muqallibalqulub tsabbit qalbi ‘aladdinik.
Jadikanlah pada niat kami  keikhlasan, bukan karena perhiasan, atau karena kemilau ciptaan-Mu.
Jadikanlah pada perilaku kami kesahajaan dan keteladanan.
Jadikanlah pada tekad kami kesabaran untuk menetapi jalan-Mu.
Jadikanlah pada awal, tengah, dan akhir usia kami keridhaan-Mu.
Jadikanlah pada hati, wajah, perkataan, dan perbuatan kami, cahaya-Mu.
Jadikanlah benar, bahwa akhirat di hati kami, dan dunia dalam genggaman tangan kami.
Lindungi kami dari segala nifaq.
Sesungguhnya kami terlampau zhalim dan Engkau Maha Pengampun. Kami terlampau bodoh untuk banyak prasangka dan Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang nyata dan tersembunyi.
Aamiin.
         Tulisan ini bukan untai kata gombal. Jika kau yang membaca merasa begitu, maka tak usah dibaca. Jika tidak, maka bantu kami untuk mengamini.

Abu Hurairah ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجَلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنَّى أخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأخفَاهَا حتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَلِيْلً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. 
”Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan arasyNya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya. Pemimpin yand adil; pemuda yang masanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; 2 lelaki yang berkasih sayang dan bertemu dan berpisah kerana Allah SWT; lelaki yang digoda oleh perempuan cantik dan berpengaruh untuk melakukan maksiat tetapi dia menolak dengan mengatakan Aku Takutkan Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehinggakan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT.” (HR. Muslim)

Tembalang, 22 November 2013.
#Senyum ini masih ingin tersimpul hingga mati. Agar tak tergantikan kecuali ajal menjemput.

22.53 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Minggu, 03 November 2013

Segenggam semangat untuk Mas Dwi

Jenak-jenak waktu yang kita tuliskan cerita di atasnya
Biarkan ia bercerita, tentang masa yang tak terlupa
Bahwa hati ini menyatu, lewat ide, karya, dan inspirasi
Bahwa berani bermimpi, berani berkarya, dan berani menginspirasi
Itu yang utama.

Kawan, tunggu kami di depan sana. Di gerbang kesuksesan.
Lalu kita berjibaku lagi dalam karya dan inspirasi yang lebih besar.
Untuk Indonesia.
Insyaallah.

               Wah baru dapet kesempatan sekarang buat nulis ini. Terharu dan bersyukur banget kemaren sudah ada dari fungsio BEM FT KM Undip yang wisuda. Beliau namanya M. Dwi Khoirun Adhim, Diploma III Teknik Kimia angkatan 2010. Mas Dwi juga jadi litbang BEM FT KM Undip, untuk Departemen Kebijakan Publik.
                Tulisan ini ingin menyampaikan rasa bahagia yang sama, dan ucapan selamat teriring do’a semoga di fase hidup yang baru ini dimudahkan segala langkahnya dan diberkahi. Masih inget dulu awal tahun saya sama Bang Heri meminang Mas Dwi untuk berkarya bersama di BEM FT KM Undip. Alhamdulillah dapat respon yang positif banget dari Mas Dwi.

                Kita kumpul-kumpul, ngobrol bareng, ketawa bareng, sedih bareng, evaluasi bareng, banyaklah yang udah kila lakuin. Semoga menjadi amal jariyah. Ga kerasa ya waktu cepat sekali berputar. Mas Dwi sudah wisuda. (Saya menyusul segera insyaallah J hehe).

                Lewat tulisan ini saya juga ingin meyampaikan terimakasih yang banyaknya tak hingga atas setiap ide, karya, dan inspirasi, yang sudah Mas Dwi berikan satu tahun terakhir ini. Mas Dwi sudah jadi bagian penting dalam hidup saya dan keluarga di BEM FT Undip tahun ini. Berat rasanya melepas. Bukan karena periode kepengurusan yang tersisa dua bulan ini. Bukan. Tapi karena kekeluargaan yang sudah kita bangun. Tapi karena cerita tentang karya dan inspirasi yang kita tuliskan.
                Mas Dwi, meski sudah wisuda, jarak mungkin memisah, tapi tetap Mas Dwi adalah bagian dari keluarga BEM FT KM Undip 2013. Sampai kapan pun. Kekeluargaan ini abadi. Aamiin. J

                Barakallahu fik, Mas Dwi.
Senyumnya bahagia sekali. Jadi ikutan bahagia. :)

17.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 2

Selasa, 13 Agustus 2013

POLO TEKNIK, Inspirasi Soliditas Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro


Berikut ini adalah kultweet saya @taufikarahmat tentang produk dari BEM FT Universitas Diponegoro yang digawangi anak-anak Departemen Ekonomi dan Bisnis==>POLO TEKNIK
Silahkan membaca, silahkan order :)


  1. Siapa yang udah pernah make #PoloTeknik tweeps???
  2. Sesuatu banget ya kalau kita make #PoloTeknik, harga terjangkau, keren, cetar membahana lagi...
  3. Berita paling panas hari ini adalah kalau kita sudah pernah make yang namanya #PoloTeknik. Serius.
  4. Siapa bangga jadi anak teknik? You are the engineer, guys! Bung Karno dan Pak Habibi juga engineer kayak kamu :D #PoloTeknik
  5. Pak SBY juga anak teknik, teknik militer hehe #PoloTeknik
  6. Good! Pasti taulah kalau Fakultas Teknik adalah fakultas terbesar yang ada di Undip. Ada 19 Jurusan lho...  #PoloTeknik
  7. Pastinya, mahasiswanya juga paling banyak. Bejibuun bro... Hampir separuh dr jumlah mahasiswa Undip yg kurang lebih 30rebu jiwa  #PoloTeknik
  8. Ga cuma itu. Fakultas Teknik juga ga sembarangan. Mahasiswa dan ormawanya selalu jadi sorotan :)  #PoloTeknik
  9. Semoga ke depan, Fakultas Teknik selalu terus berkarya dan menginspirasi ya! Ga cuma buat Undip, tapi juga Indonesia :) #PoloTeknik
  10. Anak Teknik, ya riset, ya seni, ya olah raga. Segala macam karya kita suka :)  #PoloTeknik
  11. Anak Teknik itu yang paling kompak. Ga kompak, bukan anak teknik. Makanya ada "Salam Kompak dari Teknik!"  #PoloTeknik
  12. Teknik itu biru :) Makanya Undip juga biru :)  #PoloTeknik juga biru. Kamu biru juga ga?
  13. Orang itu kagum sama anak Teknik, yang tugas/laporannya bejibun, kurang tidur, tapi prestasi oke. :)  #PoloTeknik
  14. Anak Teknik itu solid. Solid. Makanya ada "Satu Tekad Teknik Jaya."  #PoloTeknik
  15. Kita punya suguhan istimewa buat kamu para anak teknik Undip==>#PoloTeknik
  16. Orang bilang seragam itu yang menyeragamkan warna. Pelangi ada. Tapi tetap harmoni. :) #PoloTeknik
  17. Siapa punya jaket almamater? Ini jaket kebanggaan kita yang jadi saksi perjuangan kita bro. #PoloTeknik
  18. Tp sbrpa sring & utk acra apa aja sih kta pke jket almmater? G mgkn dong kta pke jket almmater utk jlan ato olah raga, ga sopan. #PoloTeknik
  19. Hehe... Atas dasar cinta untuk harmoni para teknika, kami mempersembahkan Kaos #PoloTeknik yang bisa kamu pakai untuk santai :)
  20. #PoloTeknik hadir untuk mengharmonikan warna dan cita para teknika
  21. #PoloTeknik dicetuskan beberapa tahun silam. Tapi kali ini beda. Diinisiasi oleh @BEMFT_Undip dan disepakati oleh HMJ/HMPS.
  22. Terimakasih buat Mas @MFatih_A @Primapoom mba @Puspateja dkk yang sudah kembali menginisiasi lagi tahun kemarin. Pada beli ya yang baruu..he
  23. Nah, ini yang menjadi istimewa di Fakultas Teknik. Cuma #PoloTeknik yang disepakati HMJ/HMPS. Bukan kaos yang lain. hehe
  24. Prosesnya juga ga sembarang proses ya tweeps. Melalui proses sayembara desain dan seleksi, maka diambillah satu desain terbaik #PoloTeknik
  25. Kita punya yang namanya Forum Ekonomi Teknik, nah disini #PoloTeknik disepakati seluruh HMJ/HMPS :) Istimewa
  26. Nah, ini dia #PoloTeknik yg mengharmonikan pr teknika. Mau? Jdlah yg prtma! #BerkaryaMenginspirasi pic.twitter.com/SyAmbc1blU cc: @Ekobis_BEMFT
  27. Pesen ya tweeps di Pre Order Batch II ini! Buruan! Stock terbatas. Tapi kalau mau pesen lagi, ya bisa. #Lho hehe... Yg pertama, laku keras.
  28. Dan saya bisa prediksi tweeps. #PoloTeknik akan menginspirasi sehingga nanti bakal ada yang namanya #PoloUndip :D
  29. Kita satukan Teknik dengan #PoloTeknik. Lha wong sarung aja bisa menyatukan Indonesia tweeps. (Dampak iklan sarung..haha)
  30. Untuk pemesanan, kamu bisa hub nomor yg ada di pamflet atau follow dan mention @POLOTEKNIK
  31. Tunggu apa lagi tweeps???

22.51 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Sabtu, 22 Juni 2013

KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO MENGGELAR AKSI SOLIDARITAS UNTUK MAHASISWA BARU


Jum’at (21/6) Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro menggelar aksi solidaritas untuk mahasiswa baru dengan tagline #SaveUndip. Pukul 07.00 WIB masa aksi mulai berkumpul di PKM Joglo. Selang setengah jam kemudian ratusan masa aksi bergerak long march menuju Bundaran Widya Puraya. Riuh rendah dan sorak-sorai masa aksi memenuhi langit di atas Universitas Diponegoro.

Aksi ini digelar sebagai bentuk ekspresi suara mahasiswa menanggapi kemelut Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang akan diterapkan kepada mahasiswa baru angkatan 2013. Sudah sejak tahun 2012 Uang Kuliah Tunggal menjadi kontroversi. Akan tetapi tahun ini kekhawatiran mahasiswa semakin menjadi-jadi. Pasalnya banyak sekali didapati mahasiswa baru kebingungan tentang aturan dan mekanisme penerapan Uang Kuliah Tunggal. Bahkan tak jarang mahasiswa baru banyak yang salah melakukan entri kemampuan golongan UKT, dengan persepsi bahwa nominal tersebut hanyalah uang pangkal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu, pengurus kesma BEM KM dan BEM Fakultas sampai kelimpungan membantu dan menanggapi keluhan mahasiswa baru bahwa hasil verifikasi sangat jauh dari harapan. Tidak sedikit mahasiswa yang mengajukan banding lantaran hasil verifikasi sangat jauh dari kemampuan ekonomi keluarga.

Aksi ini menjadi penyempurna kepedulian mahasiswa yang dalam beberapa waktu ini sangat fokus membantu pelayanan informasi dan advokasi mahasiswa baru terkait UKT. Bukan sekadar retorika atas nama kepedulian, tapi sebelumnya telah mengerahkan segenap waktu dan tenaga untuk melayani dan mengadvokasi mahasiswa baru. Dan aksi ini menjadi ekspresi sederhana dari advokasi selama ini yang masih butuh perhatian dan perjuangan lebih.

Dalam aksi ini mahasiswa menyampaikan beragam aspirasi. Termasuk meminta rektor mengeluarkan pernyataan menjamin tidak ada mahasiswa baru yang mengundurkan diri lantaran tidak mampu membayar uang kuliah.

Aksi mendapat tanggapan yang sangat positif dari jajaran pengelola universitas dan fakultas yang pada saat itu baru saja selesai agenda Jum’at pagi bersama. Dalam tanggapannya, rektor, menyatakan bahwa Undip masih kampus rakyat dan rumah kita. Semua mahasiswa memiliki hak yang sama untuk dapat berkuliah, termasuk yang tidak mampu. Adanya UKT adalah untuk mengakomodir mahasiswa yang tidak mampu. Diakui pula bahwa system baru ini masih ada kekurangan sehingga perlu peran aktif mahasiswa dalam mengawal kebijakan dan mekanismenya.

Terakhir, Rektor menjamin bahwa tidak aka nada mahasiswa baru yang mengundurkan diri lantaran tidak mampu membayar uang kuliah. Dan Pembantu Rektor III dengan tegas menyatakan jika ada mahasiswa yang benar-benar terbukti tidak mampu tapi kesulitan membayar biaya kuliah, maka beliau akan turun tangan untuk memperjuangkan kelanjutan studi mahasiswa tersebut.

Menutup aksi tersebut, masa aksi melanjutkan long march hingga seluruh jalan di Universitas Diponegoro.

Demikian gambaran singkat tentang aksi solidaritas untuk mahasiswa baru yang digelar Jum’at pagi. Semoga Universitas Diponegoro tetap konsisten dengan prinsip pendidikan yang berkeadilan dan merakyat. Semoga mahasiswa selalu peduli dan membantu dengan usaha apapun yang bisa dikerahkan untuk menjaga jaminan akan kesejahteraan mahasiswa. Hidup mahasiswa baru!

Taufik Aulia Rahmat
Ketua BEM FT KM Universitas Dipoengoro
01.42 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 06 Juni 2013

Kajian Reflektif: Alay dan Masa Depannya

Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama
Begitulah peribahasa tua mengatakan tentang peninggalan kita di dunia setelah ajal menjemput. Kemudian saya tergelitik melihat realita sekarang. Majunya teknologi pun kini bisa merubah peribahasa yang melegenda dari jaman orang tua saya belajar SD dulu.
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan segenap akun sosmed dan postingannya
*haha
Bahkan kemarin saat kami baru memulai mentoring yang sempat lama tersendat (karena satu hal dan hal lainnya) hal ini jadi bahan obrolan yang sangat menarik. Awalnya saya melihat mata para mentee sudah mulai berat tertimpa kantuk, sejenak ketika saya lontarkan tema ini segera tanggapannya antusias.
Menurut hemat saya, saya menyebutnya ‘mengerikan’. Kenapa?
Tak masalah kalau jika yang kita tinggalkan itu adalah akun dan postingan yang positif. Akan jadi ‘mengerikan’ jika yang kita tinggalkan itu adalah akun-akun dengan nama dan postingan alay.
Thya Agy Marahan Ama Facebook
Anyie Yaa Anie
Budhiee Asliewonkjowo
Kikina kakak
“Q udd blank lok Q agy mlezz ponan ma cmzan, jdna aQ OL ma tmen2 Fesbukers @_@”
Sudah kebayang betapa mengerikannya hal ini? Bayangkan saja jika kematian kita hanya meninggalkan akun-akun alay dengan postingan yang susah dibaca. Akan jadi tertawaan bagi orang-orang yang hidup. Nyesek ga tuh? Sudah begitu, anak dan cucu pun jadi malu menanggung aib kealayan.
Tidak cukup sampai disitu. Bayangkan di dalam kubur dan hari akhir nanti kita akan diminta pertanggungjawaban untuk semua amal dan perbuatan kita di dunia. Salah satunya adalah akun-akun tersebut.
“Hai Fulan, kau gunakan untuk apa akun-akunmu? Sekarang saatnya pembalasan atas dosa-dosamu membuat tulisan yang susah dibaca manusia.”
‘Mengerikan’ sekali, bukan?
Coba pikirkan lagi, di alam kubur tak akan mungkin kita bisa mengelak. Tak mungkin ada percakapan seperti ini:
M: kamu tau kamu sekarang di mana?
A: di hatimoooeeeee
M: siapa Tuhanmu?
A: kasih tau ga ya?
M: siapa Nabi mu?
A: mau tau aja atau mau tau banget?
M: kamu tau gak kerikil di neraka jahanam 70x lebih panas dari api di dunia?
A: trus gw harus bilang woooooooooow gitu?
M: aku pastikan kamu masuk neraka!!!
A: ciyusss??? miapah???
(diambil dari sebuah komentar di Kompasiana)

Mari kita bandingkan dengan generasi terbaik ummat ini. Mereka di lahirkan di tengah keterbatasan zaman. Listrik belum ada. Apalagi social media. Sebut saja Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanafi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dan kawan-kawan(Semoga Allah merahmati mereka). Peninggalan mereka adalah karya-karya yang sangat monumental dan berkelas. Sudah ratusan tahun, tapi tetap saja menuai manfaat. Selalu dibaca dan disampaikan segenap manusia. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Kitab Al-Muwatha’ tulisan Imam Malik ditulis dengan tulisan alay? Na’udzubillah. @_@
Nah, itulah perbandingan generasi ratusan tahun silam dengan generasi hari ini. Atau saya yang tidak tahu bahwa alay itu sudah ada sejak ribuan tahun silam dan menjadi klan rahasia yang terus berkembang sampai sekarang? Haha sudahlah…

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung para alay, apalagi menyakiti. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam hukum dan pemerintahan  #eh. Jadi, menjadi alay itu juga hak. Tapi bisalah kita ambil pelajaran untuk bisa menggunakan kemudahan-kemudahan teknologi informasi seperti social media secara cerdas dan bertanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab di dunia, tapi juga akhirat.

Semarang, 5 Juni 2013
@taufikarahmat
07.01 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Selasa, 23 Oktober 2012

LKMM Madya di Tengah Sorotan


                              
                Pengembangan sumber daya manusia dalam dunia kampus khususnya mahasiswa sangat penting untuk diberikan perhatian lebih dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kita semua sepakat dalam sesuatu yang setia kita sebut kampus ini terdapat ribuan bahkan ratusan ribu manusia dengan beragam bidang keahlian serta potensi yang bisa dikembangkan. Untuk membentuk manusia Indonesia yang sempurna tidak cukup hanya dengan proses akademik saja. Harus melihat dan mengembangkan segala potensi yang ada.
                “Berikan aku 1000 orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya. Tapi berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia.” –Ir. Soekarno
Seperti itulah ilustrasi yang sangat tepat untuk menggambarkan amat besarnya potensi yang terdapat pada diri pemuda khususnya mahasiswa. Sangat disayangkan jika potensi ini terabaikan atau bahkan tak tersentuh. Maka, gagasan yang dibawa tulisan ini adalah perlunya pola pengembangan sumber daya mahasiswa yang efektif serta dinamis untuk memenuhi tuntutan zamannya.
                Menyoroti pola pengembangan sumber daya mahasiswa di Universitas Diponegoro, apa yang sudah diterapkan sangat perlu diapresiasi. Sudah cukup baik konsepnya. Sudah banyak event berupa seminar, training, workshop, dan forum dengan berbagai tema yang beragam seperti leadership, manajemen organisasi, riset dan teknologi, dan entrepreneurship. Event-event ini selelu ada tiap tahunnya. Semakin kesini kesadaran akan pengembangan SDM semakin meningkat.
                Dan bicara tentang alur kaderisasi baku, ini pun sudah disepakati dan diterapkan. Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), LKMM Pra Dasar, Leadership Training, LKMM Dasar, dan LKMM Madya. Masing-masing jenjang diperuntukka untuk mahasiswa tingkat tertentu, dari PMB untuk mahasiswa baru hingga LKMM Madya untuk mahasiswa tahun ketiga. Tiap jenjang ini ada adalah untuk mempersiapkan mahasiswa yang telah diseleksi untuk naik dan memimpin di jenjang berikutnya. Kita semua tahu bahwa pemimpin itu tak lahir sekonyong-konyong, tapi ia dipersiapkan, agar tak putus rantai perjuangan yang telah dibangun.
                Secara keseluruhan semua jenjang sudah terlaksana dengan cukup baik. Tapi tulisan ini hendak sedikit saja memberi masukan dan kritik halus tentang pelaksanaan LKMM Madya yang sedang berlangsung saat tulisan ini dibuat. *karena taka da laptop dan modem, maka belum dipublish kemarin*. Taka da maksud lain kecuali hanya ingin kebaikan dan pengembangan yang dinamis untuk LKMM Madya berikutnya.
                Hotel di tengah semilirnya angin Bandungan dengan fasilitas spring bed yang empuk, televisi, dan air panas, hall yang cukup luas, coffee break tiga kali sehari, makan tiga kali sehari; dan ini semua adalah fasilitas yang didapat oleh peserta. Tentu ini sangat baik dan perlu dipertahankan sebab ini memberikan kenyamanan dan menyokong peserta mengikuti dan menyerap semua materi yang disampaikan dalam LKMM Madya 2012 ini.
                Namun di sisi lain ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki ke depannya. Pertama, penyelenggaraan LKMM Madya dan sosialisasi serta seleksinya sangat mendadak sehingga kesannya penyelenggara dalam hal ini rektorat terkesan terburu-buru atau mengejar sesuatu. Ini yang terjadi pada tiap fakultas, sosialisasi, pendaftaran, seleksi, dan pelaksanaan LKMM Madya 2012 selesai hanya dalam satu pecan, lebih tepatnya enam hari. Poin pertama ini terlepas dari persiapan acara, pemandu, dan lain sebagainya.  
                Kedua, management event dari penyelenggara terkesan kurang professional. Pasalnya banyak hal yang menguatkan argument kedua ini. Tampak dari timing yang mundur dari rundown acara, pembagian tugas serta perlengkapan acara yang kurang siap dan detil—peserta bisa mengamati. Padahal inti dari LKMM Madya ini adalah ‘keterampilan manajemen’. Ironis rasanya, kita mengajari manajemen, tapi ada yg kurang siap dari manajemen kita. Banyak komentar yang muncul dari para peserta bahwa management event dari event-event yang mereka gawangi seperti LKMM PD, LT, hingga LKMM Dasar, masih lebih baik dari yang sekarang, meskipun dengan dana minim. Saya sepakat dengan ini. Hal ini sangat perlu menjadi perhatian semua pihak untuk segera diperbaiki mengingat nama acara ini adalah ‘…keterampilan manajemen….’.
                Ketiga, dan ini yang paling penting, yakni konten materi. Secara general, materi yang disajikan mencakup pengembangan wawasan dan pengembangan sikap dan keterampilan. Dalam pengamatan penulis, dari 13 sesi materi dan diskusi hanya tiga sesi yang membahas karakter dan integritas bangsa. Selebihnya adalah mengenai manajemen organisasi.
                Tentang poin ketiga ini harus benar-benar mendapat perhatian dari banyak pihak. Pasalnya ini sudah turun temurun, bahkan slide presentasi yang sekarang pun sama denga tahun kemarin—komentar peserta LKMM Madya 2011 saat mendengar bahwa ada gambar tidak senonoh di slide. Permasalahan intinya bukan pada slide. Tapi lebih kepada konten dan apa yang disampaikan.
                Dalam ekspektasi peserta, pada level LKMM Madya ini peserta akan diajak lebih banyak untuk berpikir tentang peran mereka dan organisasinya dalam membangun Indonesia, berdiskusi tentang beragam pemikiran dan masalah. Tak sekadar membahas manajemen organisasi. Mayoritas peserta adalah tahun ketiga, sangat penting rasanya untuk segera diajak secara aktif memikirkan masalah bangsanya. Sudah saatnya pada tingkatan kaderisasi madya ini para mahasiswa memikirkan perannya untuk bangsanya.
                Hal ini bukan berarti bahwa konten manajemen organisasi tidak penting, dan bukan juga bahwa peserta sudah expert dalam hal manajemen organisasi. Tapi perkembangan zaman telah memberi ruang lebih kepada peserta untuk dapat belajar banyak tentang manajemen organisasi dalam waktu dua tahun yang sudah dilalui dengan beragam momen dan event yang ada. Seperti pembuka tulisan ini, bahwa hari ini sudah banyak event yang memberi semangat dan pemahaman tentang banyak hal, mulai dari organisasi dan leadership hingga entrepreneurship.
                Maka sangat bijak jika kita memahami realitas zaman hari ini. Zaman memiliki tuntutan lain dan lebih. Dan lebih bijak lagi jika kita melakukan ekspansi pada konten materi LKMM Madya di tahun berikutnya.
                Pernah pada satu sesi ada seorang peserta yang mencoba menyampaikan pendapatnya tentang konten materi yang sangat fokus pada manajemen organisasi. Tanggapannya adalah ‘kita beda perspektif’. Atau malah dijawab bahwa kurikulum standar dari dikti ya seperti ini—seperti pada buku biru yang dibagikan satu per satu itu.
                Nah, dalam pandangan penulis justru disinilah titik kritisnya. Kita terjebak dalam kotak. Kita sangat saklek terhadap aturan dan kurikulum. Tuntutannya adalah agar kita berpikir bukan lagi di luar kotak, tapi tanpa kotak. Kita bisa berpikir dan memutuskan sesuatu sesuai kebutuhan. Katakanlah lebih fleksibel. Permasalahannya LKMM Madya ini bukan untuk memenuhi laporan pertanggungjawaban saja, tapi memenuhi kebutuhan zaman. Konten materi penulis rasa masih bisa diperluas.
                Berdasar pada statement Ir. Soekarno di atas, dengan apakah beliau akan mengguncang dunia? Dengan pemuda yang lihai dalam skill manajerial organisasi dan analisis SWOTnya? Jelas tidak, tapi sebelum itu adalah pemuda yang kenal siapa dirinya, perannya, dan bangsanya.
***
                Sebagai penutup, tulisan ini tidak ditujukan kepada  personal. Tulisan ini hanyalah reaksi atas nama kepedulian. Tulisan ini sangat menghargai semua pihak penyelenggara terutama bagian minarik yang sangat baik dalam penyelenggaraan. Tulisan ini hanya ingin sedikit saja menyentuh hati dan pikiran pengambil kebijakan.
08.08 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Rabu, 17 Oktober 2012

Sampah-sampah, jangan dibuang!


Keren! Orang-orang heboh soal film ini udah berbulan-bulan yang lewat. Iya, nama filmnya Omar. Dan saya baru sekarang kebagian hebohnya. Karena saya baru nonton dengan penuh pneghayatan. Liatin gambarnya sampai khusyuk bacain subtitlenya.
Dan dialah Umar bin Khaththab ra Sang Pejuang sejati. Awalnya ia seperti menolak kehadiran risalah yang dibawa Rasulullah. Tapi ternyata bukan. Dia hanya kokoh pikiran dan akalnya. Dia tampak sangat elegan dan independen sekali dalam tiap tindakan dan keputusan pribadinya ketika berdiskusi dengan Abu Jahl dan kroni-kroninya. Dia berpikir bebas dan lepas. Dengan sudut pandang yang adil dan objektif, terbebas dari kepentingan pribadi atau golongan. Dia kokoh memegang prinsip-prinsip yang menurut dia benar. Tidak asal ikut kemana arah angina bertiup. Inilah integritas. Dan nyatalah ternyata sosok Umar ini benar-benar sangat tinggi dan kuat integritasnya. Ketika kalam-kalam Rabb-nya terbaca olehnya (QS. Thaaha), baginya yang hitam tetap hitam, yang putih tetap putih. Bukti integritas dan independensinya adalah ia mampu memilih dengan bebas untuk segera bersaksi dan berkomitmen kepada Allah dan Muhammad saw. Tanpa berpikir panjang tentang klan (suku) beliau, tentang omongan orang, dan lainnya.
Bener-bener top markotop ini film *meski rada susah juga bacain subtitlenya mulu*. Banyak prinsip yang bisa dijadikan hikmah. Ah, terlalu panjang ini intronya. Sebenarnya saya bukan mau bahas film ini atau sosok Umar bin Khaththab ra yang luar biasa hebat. Di tulisan ini saya Cuma mau nyampah, cuma mau sepik-sepik doang, Cuma mau talk doang *tapi talking and writing itu juga action lho*. Yap, sampah yang kamu baca ini cocok untuk dibaca semua kalangan; anak-anak, dewasa; semua agama; dan semua ras. *Opo tho Le Le*. Disini sampahnya adalah tentang diri kita, lebih focus lagi tentang integritas, indepedensi sebagai pribadi dan manusia. Dan sampah ini bakalan nyepik lebih dalam lagi tentang sosok pemimpin kita hari ini. *Monggo mau didefinisiin diri sendiri, kepala keluarga, ketua RT, ato Pak Presiden (temennya Pak Bud)*
Saya punya KBBI elektronik *agaknya ini ga cukup untuk masuk landasan teori*, tapi bolehlah saya tengok sedikit apa sih yang KBBI elektronik ini bilang tentang integritas. Integritas itu mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.
Yah, kira-kira begitulah. Sederhananya integritas itu adalah kesetiaan pada apa yang benar. Itu saja. Mungkin dimensi kebenaran buat kita itu yang susah untuk medefinisikannya. Tapi cukuplah akal dan hati manusia yang bermain disini. Tak usah banyak berdebat tentang dimana itu kebenaran. Karena yang benar itu Cuma satu, ya yang kau yakini benar itulah *dengan jujur tapi ya, ga pake ikut-ikutan orang lain atau terpengaruh sentiment antar kelompok*.
Integritas itu kau jujur pada nurani. Integritas itu kau utuh sebagai pribadi dan manusia, tak perlu dikurangi atau ditambahi orang lain. Integritas itu kau independen, merdeka dan bebas dengan pilihan-pilihan kebenaranmu. Integritas itu lurus antara perkataan dan perbuatan. Integritas itu satu, kesatuan antara raga, jiwa, pikiran, dan imanmu. *hahaha abstrak n normatif sekali*
Tak banyak saya menyampahi itegritas. Sekarang sampah berikutnya adalah pertanyaan tentang kemana integritas kita?
Dan tentang independensi, kalau yang dimaksud adalah kemerdekaan atau kebebasan dengan integritasnya jelas sangat sepakat. Sangat kasihan orang-orang yang integritasnya tak utuh lagi terjajah *yuk evaluasi diri masing-masing*. Merdeka, Bung!
Ah, saya bukan mahasiswa cerdas. Saya tak pandai menulis, apalagi retorika. *Huuweeeekkk, muntah*. Saya berikut tulisan ini hanyalah sampah, sampah yang merealita di tengah kita. Dan sekarang adalah gilirannya sampah ini bercerita tentang kejengahannya tadi siang.
“Bro, motormu mau kau pakai tak?”
“Iya, ini mau ke bawah.”

*aaaahhhh… pelit kali kau!*
“Nah ada Eko, pinjam motormu dong, Ko. Mau ngumpulin berkas ini ke PKM plus minta KHS. Boleh, ya?”
“Iya, nih pake aja.”
*alamaaakk baik kali*
Bingung? Ya, bukan ini yang mau saya ceritakan. *hahaha benar-benar sampah, kan?*
Kemarin saya yang jualas susu pasteurisasi ini dibuat bingung kala melihat pangkalan susu tempat biasa saya restock dipenuhi laki-laki tegap badan berisi dengan pakaian hijau loreng-loreng. TNI, Cuy! OMG! Apa susu yang saya jual ini beracun atau mengandung senjata kimia yang menularkan virus mematikan? *Nyampah lagi*
Rupanya Senin kemarin ada gladi bersih pengamanan Pak Boed *ini Wakil Presiden kita lho, bukan yang jual angkringan depan mushola*. Dan hari ini, Selasa, Pak Boed tepat datang dan lewat ketika saya sudah terpaksa nyasar sampai hamper di Sumurboto. Padahal saya mau ke kampus. Yang ada saya malah disuruh Pak Pol “lurus aja mas, lewat sana”. Ya saya percaya. Saya lurus. Tapi kok ga ada jalan yang bisa untuk masuk kampus? Semua ditutup dengan barisan-barisan tentara kita. Tak dinyana Pak Boed lewat di depan saya. Dan saya baru paham kenapa semua ditutup. Setelah itu dibuka lagi.
Tapi secara spontan dan sangat subjektif saya ingin nyampah sekali lagi. Ini kok Pak Wapres kita malah mengacaukan lalu lintas? Ratusan manusia tadi siang berjibaku dan berjubel di jalanan tanpa arah sambil berdesak-desakan. Wah, bukannya kasih solusi kemacetan, malah nambah masalah. *Wuuh sampah banget paragraph ini*.
Idih, pengamanannya lebay banget, saya baru bisa ambil stok susu jam sebelas kurang gara-gara pengamanan yang kayak begini. Lah, malah menghambat rezeki. *hahaha rezeki itu diatur Allah Le*. Alhamdulillahnya habis semua kok. *tepuk tangan, sujud syukur*. Pak Boed banyak musuh apa ya? Takut teroris? Yah, berlebihan! *Subjektif dan spontan? Emang!*
Tapi tak apa juga sih, upaya preventif kok. Secara beliau orang besar. Oh iya, tadi katanya adik-adik SD menyambut kedatangan Pak Wapres di pinggir jalan. Seneng banget kalo jadi adik-adik ini ya. Tapi di posisi saya sekarang, itu miris. Kenapa Pak Wapres tidak turun untuk sekadar memberi do’a pada adik kita. Simple sih, tapi imposible buat beliau. *kan kita butuh pemimpin yang simpatik dan membumi tho?*
Eh yang buat saya kaget ada sebaris brimob di depan polines seperti sedang sholat berjamaah. Shaf rapat. Pundak rapat. Kaki rapat. Gila! Barisannya rapet banget! Oh rupanya di tengah-tengah itu ada sejumlah mahasiswa yang ingin ‘menyambut’ Pak Wapres dengan tumpeng dan orasinya. Saya jadi geli kalau denger kata ‘sejumlah’, ini kesannya banyak, tapi sebenernya relative sedikit. Ah, sayang sekali saya pagi tadi tak jadi bagian orang-orang dengan megaphone udangnya yang menganga ke udara itu. Tapi saya boleh geli sekali lagi ya, gerakan kita masih kurang massif, masih sebatas sang penyelengara. Pencerdasan massa serta follow up yang kurang. Aksi masih sebatas konsolidasi h-1, besok demonstrasi, masuk media, dan sudah. *Ya emang gitu. Iya, gitu realitanya*. Tapi saya tak pesimis, saya optimis. Diponegoro sedang tumbuh, dan akan jadi besar.
Tapi herannya saya, di negara demokrasi *sori kalau salah* ini bukannya boleh ya demonstrasi? Tapi kenapa sejumlah sedikit mahasiswa ini diperlakukan dengan kasar ya? Padahal hanya ingin menyapa dengan caranya. Tak ada peluru yang meyasar kok. Tak ada botol kaca yang terlempar kok. Tak ada kayu yang menghantam kok. Atau karena kata-kata mereka yang membuat pasukan pengaman takut Pak Boed tersinggung, sakit hati, sedih, atau galau? *sempit sekali prediksi saya* Tapi Pak Boed pastilah lebih cerdas dan mengerti tentang tabiat serta ‘labil’nya anak-anak muda ini. Polosnya=mereka ini peduli, punya aspirasi, kritik, ingin didengar, cape dengan birokrasi yang berbelit serta suara yang tak terwakili di kursi perwakilan rakyat.
(Berjalan dengan gaya yang sengaja pongah dan dada membusung serta kepala sedikit mendangak ke atas tepat di depan para lelaki pengaman)
“Hey Dek, kalau jalan yang sopan sedikit dong!”
“Oh, bapak masih ngerti yang namanya sopan? Masih ngerti yang namanya santun? Atau bapak hanya sopan dan santun pada orang yang memerintah bapak untuk memberi pengamanan kualitas bintang 5? Sementara anak muda ‘ini’ hanyalah seonggok sampah yang bisa kau bawa dengan serokan dan kau lempar ke dalam tong?”
Teruuss? Mana korelasinya dengan integritas? *hahaha terserah saya yang nulis, kan nyampah*
Saya ga ragu lagi, peran-peran mahasiswa yang berupa teori itu sekarang ibarat sampah bagi temen-temen. Udah sering denger, udah tau. Udah hapal di luar kepala. Udah bolehlah kalau teori-teori itu mau dibuang, yang penting sekarang action-nya. Sebel juga sih kalo liat anak-anak muda adu argumen, adu kepentingan, atau malah terjebak dalam primordialismenya (baca: aku yang hebat, aku yang pinter, aku yang benar), atau malah saling tuding menyalahkan. Kita punya idealisme *bukan idealisme sampah*. Dan mana integritasnya? Kok ga sehat? Mana budaya diskusi yang baik dan santun? Mana integritasnya? Kok gak elegan? Mana ke-Indonesia-annya? Mana ke-bhineka-tunggal-ika-annya?
Udah selesai tuding-tudingan dan lalala-nya, terus statement yang keluar: biarlah anjing menggonggong, kafila berlalu.
Hah, bener-bener sampah kan isi tulisan ini. Dan akhirnya pun saya lega, sampah ini bisa keluar dari kepala saya lewat tulisan yang sepik-sepiknya nyampah.
Tapi sampah-sampah ini adalah surat terbuka buat orang-orang yang bukan sampah untuk ga nyampah. Kalau ada sampah, mbok yo disampu bareng-bareng. Bukan malah nambah kasih sampah. Mana yang solutif itu? Kan kita cerdas. Kan kita Indonesia.
Tapi sampah-sampah ini adalah surat terbuka buat orang-orang yang bukan anjing menggonggong untuk menunjukkan bahwa kita masih benar-benar sebagai manusia utuh dengan integritasnya. Masih manusia, bukan anjing kok.
Selamat menikmati sampah-sampah.

Permulaan pagi, 17 Oktober 2012


03.23 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Sabtu, 13 Oktober 2012

Ini Wisudaku, wisudamu?




Pagi yang berbeda. Buatku ini sangat cerah. Matahari seperti sedikit lebih cepat memanjat langit. Di luar sana kicau burung-burung kecil bersaut-sautan, seperti suara Kutilang yang hampir tiap pagi berkicau tiap pagi di kampung. Kupandangi halaman depan kos, rumput-rumput mulai lebat menghijau bak permadani hijau. Akhirnya kemarau panjang sudah berakhir, dan rumput-rumput kecil ini bisa kembali tersenyum padaku lewat butiran-butiran embun kecil di atasnya yang membiaskan cahaya matahari ke mataku. Cantik. Secantik hari ini serta orang yang paling bahagia dengan datangnya hari ini.
Terdengar suara krasak-krusuk dari dalam.
“Bang, lu ada kalkulator? Aku pinjam dulu… Duh, udah telat nih.”
“Ambil saja di laci kedua. Disana ada bungkusan warna abu-abu, disitu. Santai aja, jangan buru-buru.” Jawabku.
“Makasih, Bang. Gue berangkat dulu. Sukses ya buat wisudanya! Assalammu’alaykum.”
“Yo. Ojo lali ntar dateng ya. Wa’alaykumsalam!”
Tak lama terdengar suara motor yang segera tancap gas.
Handphoneku bordering.
“Pik, kok lama betul? Mamak sama Bapak udah siap nih.”
“Iya, Mak. Sebentar lagi Opik kesana. Lagi manasin mobil.”
Ayah dan Ibuku sudah tak sabar untuk acara yang dinanti.
Aku teringat sesuatu.
“Mas, ojo lali jemput dulur-dulurku di hotel ya. Jam 8 teng udah di kampus ya.”
“Njeh, Mas.”
Aku meminta supir mobil yang kusewa untuk menjemput saudara-saudaraku yang jauh-jauh datang ke Semarang.
Hari ini benar-benar hari yang cerah untuk jiwa yang cerah dan rezeki berlimpah. Seakan hari ini mengerti bahwa dia adalah special, untukku, ayah ibuku, dan orang-orang yang kucintai, dan orang yang kucintai. Aku sudah siap, toga kebanggaan juga sudah siap. Baru selangkah kaki keluar, angin semilir mengalir lembut di wajahku. Mobil sudah siap. Segera aku pergi menjemput ayah dan ibu yang baru sampai semalam dan menginap di hotel yang sudah dari jauh hari kubooking.
Hari ini, 24 April 2014, Tembalang seperti biasa, mulai ramai ketika jarum jam naik di angkat tujuh, mobil dan kendaraan motor lain berlalu lalang. Bahkan aku harus bersabar dengan macet di Patung Diponegoro—masih ingat kalau orang-orang selalu menyebutnya Patung Kuda. Tadi tampak sangat ramai mobil-mobil luar kota memenuhi jalanan antara Masjid Kampus dengan Gedung Prof. Sudharto, SH. Sepertinya mereka sama seperti ayah ibuku dan saudara-saudaraku, datang dari jauh untuk melihat anaknya wisuda.
Sampai di hotel, orang tua dan sanak saudara sudah stand by menunggu di lobi. Kusalami tangan ayah dan ibu, segera memeluk hangat. Tanpa menunggu lama, segera kami menuju Tembalang. Mata berbinar dan senyuman berseri di wajah mereka memberiku isyarat tentang kepuasan dan kebanggaan mereka padaku. Guratan-guratan di wajah mereka yang dimakan waktu seperi bicara padaku tentang perjuangan mereka yang harus bangun pukul tiga pagi untuk menyiapkan nasi uduk dan lontong sayur yang akan dijual pagi-pagi pukul 06.00 dan tentang perjuangan mereka yang harus pergi ke Jambi, Palembang, Jakarta, dan pulang dua bulan sekali untuk mencari jalan untuk terus menghidupiku. Aku ingat sekali masa-masa itu. Dan kedua orang tuaku inilah yang memberiku arti dan mengerti tentang hakikat hidup: kau adalah hamba yang harus mendekat sepenuhnya kepada penciptamu, tak peduli kau miskin atau kaya, surga tak pernah dinilai dengan uangmu, tapi kau harus bersyukur dalam hidupmu baik susah atau senang, sejatinya setiap yang terjadi dalam hidup patut disyukuri, karena sesuatu yang mengharuskanmu bersabar pun adalah juga nikmat yang perlu disyukuri sebab ia membuatmu menjadi sabar dan lebih dekat pada Allah yang menghidupkan dan mematikan. Mereka juga mengajariku survive dan bertahan dalam hidup ini dengan cara yang lurus untuk kemudian meraih prestasi setinggi-tingginya.
***
Gerbang III Undip lebih ramai dari biasanya. Satpam-satpam berdiri gagah mengatur lalu lintas. Jalanan dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang saling berpacu dengan kendaraannya. Gedung-gedung Undip tampak begitu megah. Lebih tepatnya indah. Tak hanya itu, mobil-mobil luar kota yang tadi kutemui di depan Masjid Kampus telah rapi berjejer parkir di tepian jalan depan Gedung Sukowati. Aku sedikit bingung harus parkir dimana.
Subhanallah aku lagi-lagi sangat gembira. Kulihat ayah dan ibuku senyum sumringah melihat suasana yang amat ramai, apalagi akan melihatku di wisuda. Tepat seperti yang beberapa tahun lalu kubayangkan, orang tua dan saudaraku memakai seragam batik terbaik yang sudah kupesan di pabrik terbaik Pekalongan.
Ayahku sudah pernah berkunjung kesini, ketika aku pertama masuk kuliah. Tapi untuk Ibu dan sanak-saudaraku ini adalah kali pertamanya.
“Bang Opik, beda banget ya sama SMAnya Abang di Lampung.” Celoteh keponakanku.
“Haha iya…”
Sepanjang jalan tadi dari Gerbang I sampai disni mereka tampah kagum melihat bangunan dan tata ruang di Universitas Diponegoro. Jujur aku pun begitu. Dulu ketika tahun 2010 saat awal kutiba di Undip, masjid kampus yang megah itu baru saja selesai pembangunannya. Dan sekarang sudah tiga kali renovasi. Gedung Dekanat Fakultas Teknik yang dulu sempat mangkrak lebih dari setahun sekarang sudah berdiri gagah di dekat Widya Puraya. Jurusanku, Sistem Komputer sekarang sudah memiliki gedung sendiri, gedung megah berlantai tujuh. Pemandangan yang sangat hijau selalu tertangkap mata kemanapun memandang. Tak hanya pembangunan fisiknya, tapi riset dan prestasi dari civitas akademika semakin menanjak. Dan hari ini Undip telah berubah, semua sudah saling sinergi. Tak ada lagi kecurigaan, sebab rektorat dan dekanat memberikan transparasi yang memuaskan. Tak ada lagi protes-protes keras dari mahasiswa, seperi masalah UKT dan Diploma Teknik Undip yang dulu sempat menjadi masalah, sebab pelayanan dari rektorat dan dekanat sudah sangat baik. Mahasiswanya pun semakin dewasa dan cerdas, lebih mengedepankan intelektualitas, profesionalisme, dan persamaan dari pada perbedaan organisasi, ideology, dan pemikiran. Kepentingan mereka disini Cuma satu, “Undip Jaya untuk Indonesia Jaya!” Aku akhirnya bisa meninggalkan kampus ini dengan tenang setelah perjuangan yang cukup panjang dengan teman-temanku di jurusan, fakultas, dan universitas.
“Mak, Pak, nanti Mamak sama Bapak duduk di depan sana ya Mak, Pak. Sudah Opik pesankan ke panitia untuk menyediakan dua kursi kosong di depan.”
***
Kejutan bagi orang tua dan keluargaku, namaku dipanggil untuk menyampaikan pidato wisudawan terbaik. Aku pun segera menuju podium dengan langkah sigap. Aku berpidato seperti dulu aku sering orasi di jalanan. Kadang aku berapi-api, kadang aku menurunkan intonasi. Aku sempat menitikkan air mata, sedikit, ketika kumengucap terimakasih untuk ayah dan ibu, kumelihat hal yang sama terjadi pada mata mereka berdua, titik air mata itu lebih deras. Bukan air mata kesedihan, tapi wujud kebahagiaan, kepuasan dan kebanggaan. Seperti rasanya perjuangan mereka selama ini telah terbayar. Namun sesungguhnya aku menyadari, ini belum seberapa dibanding perjuangan mereka, dan tak akan pernah lunas aku membayar semua itu meski dengan segenap jiwa, raga, dan harta. Itulah yang menguatkanku di saat kulemah untuk kemudian berdiri, kembali berlari, dan berkerja-berkarya.
“Mak, Pak, sekarang semuanya terbukti. Keajaiban yang selalu Mamak dan Bapak ceritakan ke Opik itu benar-benar ada. Hari ini kita semua menyaksikannya. Opik mohon maaf dulu terlalu sering mengeluh, Mak, Pak. Yang luar biasa Mamak dan Bapak selalu saja mampu tersenyum dengan ringan, lalu membangkitkan kembali semangat dan keyakinan Opik.
Mak, Pak, masih ingat ketika dulu kita semua bersepakat supaya Opik kuliah di kedokteran? Tapi kenyataan kala itu tak sepakat. Kita semua harus menerima hal yang mungkin untuk kita sulit. Dan opik tahu, ini lebih sulit lagi buat Mamak dan Bapak. Opik sayang sekali sama Mamak dan Bapak. Cuma Mamak dan Bapak yang menguatkan Opik untuk tetap optimis apapun kondisinya. Yang kita yakini kala itu adalah Allah punya rencana yang sangat indah. Kejutan dari surga.
Mak, Pak, masih ingat ketika dulu orang-orang seperti ragu dengan tanyanya: “Hah, si Topik bisa kuliah?” Dan Allah selalu menjadi penolong dan pengobat lelah dan sakit yang terasa. Kini kejutan surga telah membungkam semua keraguan orang-orang yang meremehkan itu. Terimakasih Mak Pak, sudah mengenalkan Opik pada pemilik kekayaan dan kekuatan sesungguhnya. Dia-lah yang selama ini mendengar do’a-do’a Opik, do’a-do’a Mamak dan Bapak kala malam akan berakhir.
Mak, Pak, terimakasih sudah memberi Opik semuanya. Bukan harta yang paling penting, tapi pengajaran, tentang Tuhan dan hidup. Mamak dan Bapak adalah malaikat yang Allah turunkan ke dunia untuk Opik. …”

Hadirin memberikan standing applause saat kusampaikan cerita perjuanganku dan orang tuaku. Dan terulang kembali saat kuturun podium.
Semua prosesi wisuda telah selesai. Luar biasa! Ayah dan ibu memelukku erat. Sangat hangat. Di luar menjadi surprise buatku, kawan dan adik-adik dari jurusan, HIMASKOM, BEM, KAMMI, U-Win Indonesia, semua menyambutku memberi selamat. Mereka berjejer rapi dengan MMT yang sepertinya sudah jauh-jauh hari dipesan. Dulu aku pernah mengalami ini, tapi di posisi pemegang MMT. Subhanallah. Hari ini aku menjadi objeknya.
Moment ini tak kusiakan, kupeluk merka erat satu per satu. Lalu berpose ria dalam sesi foto bareng seperti tak akan bertemu lagi.
“Bang, traktiran ya.”
“Oh, iya. Hampir lupa. Nanti malam kalian datang ya. Kita syukuran.”
Semua tampak gembira, tapi di sisi lain, ada sedih yang menanti. Aku harus meninggalkan Semarang esok hari. Perusahaanku (OneLine Technology Group, Perusahaan semikonduktor Indonesia yang berpusat di Bandung) dan NGO OPOPPY (One Person One Pon per Year) tak bisa lama-lama kutinggal. Aku harus bersiap untuk berlari dan terbang menggapai mimpi-mimpi selanjutnya.
Di dinding kamar kos yang sudah beberapa tahun ini sudah banyak garis merah menutupi daftar mimpiku. Tapi masih banyak lagi yang akan kutulis. Seperti mimpiku di awal, rumah sakit di tiap daerah Indonesia. Sebentar lagi terwujud insyaallah. Aamiin.
--To be continued—
Menjelang Maghrib
Semarang, 13 Oktober 2012
Kadang kita terlalu malu untuk menvisualisasikan impian, meski hanya dalam bayangan. Dan ini adalah visualisasi impian lewat tulisan. Semoga lebih berkah. 
17.34 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 2

Jumat, 12 Oktober 2012

Kebijakan Publik: Teknik untuk Indonesia #PartLKMMDasarFT


  • #KP kebijakan publik merupakan salah satu dr Kelompok Bidang Keahlian pada @LKMMDFTUNDIP tahun ini.
  • #KP kebijakan publik jg mrpakan slh 1 dept di BEM FT KM Undip, tmpat sy ngabdi & brkarya skrg, fokusnya mmang ke ranah politik dan kebijakan
  • Sy dulu ntah bagaimana ceritanya bisa masuk #KP, awalnya sih ingin keren2an, jadi mahasiswa yg melek dn paham politik, apalagi bisa orasi
  • Itu sih awalnya, tapi lama2 ya mengakar juga ke #KP annya, orientasinya berubah bkn lg utk kren2an, tp lbh mnanyakan pran & aktualisasi diri
  • trmakasih buat mas-mas dan mba-mba yg sdh banyak kasih ilmu, pengalaman, inspirasi, dan katalisnya #KP
  • Oke, kita skrg bukan ingin bahas departemen yg sy kepalai tsb, tapi kebijakan publiknya yg jd slah stu KBK penting di @LKMMDFTUNDIP #KP
  • #KP itu apa sih? ini kaitannya dengan politik dan kebijakan tweeps. pertama kita belajar memahami politik
  • Kemudian di #KP kita bakal dipantik utk tahu dan paham dengan peran kita yg masih muda ini dg intelektualitas yg tinggi utk Indonesia
  • Ketiga tweeps bkal dsguhin prmslahan2 riil yg ada di bgsa kta, mlai dr yg sdrhana sampai yg kompleks, mulai dr yg dekat smpai yg jauh, #KP
  • Berikutnya tweeps ditanya, apa solusinya? #KP
  • Nah kalo ditanya solusi, masalahny hrus jelas. Di #KP tweeps bakal ngerti ttg memandang bnyak mslah dr beragam sdut pandang..
  • Biasanya kalau kita anak eksak mikirnya sistematis bgt, saklek. 10 kali 10 ya 100. Tp di #KP kita akan belajar bnyak.
  • Dr srntetan mslh yg ada, sbelum itu utk mnemukan mslhnya kta butuh sensitivitas, kepekaan, kepedulian, daya kritis dn analisa yg lbih #KP
  • Nah ini dlu deh yg prtama msti kta bngun di dalam diri kita kalau kita mau masuk lebih dalam ke dunia #KP; peka, peduli, kritis, dan solutif
  • Jgn dulu pesimis kalo kamu ga kritis, ga cerdas, ga mood utk yang begitu. Saya dulu juga, tp kita bisa karena biasa tweeps #KP
  • Utk bisa peka dan kritis, sy lebih senang menyendiri, merenung, dan berpikir bebas, tanpa kotak. Dg begitu sy bisa bnyak belajar #KP
  • Share aja nih. Di awal2, beuh semangatnya tinggi abis. Segala buku dilahap. Segala koran dibaca. Segala tipi ditonton. #KP
  • Ide, gagasan, dan pikirannya bagus. Cuma ga mengakar, ga aplikatif. Semangat yg over kadang bisa bikin pkiran kta terjebak dengan kotak. #KP
  • Ide dan gagasannya terlalu tinggi dan ga nyentuh tanah. Kita bicara Indonesia, tapi kita ga melibatka Jateng, Semarang, bahkan Tembalang #KP
  • Kita bicara ttg perubahan, pembangunan, tapi kitanya lupa dg lingkungan plus masyarakat. Banyak tuh di sekitar kita yg perlu diubah. #KP
  • Di jalan depan maskam dulu ada org gila cm satu, eh sekarang nambah jd dua. Pengemis makin banyak di Tembalang. #KP
  • Mahasiswanya ga respek sm warga. Bahkan sampe birokrasi kampus yg begitu, ga transparan soal keuangan, apresiasi yg salah tmpat, #KP
  • brokrsi yg brbelit-belit dg sstem sakleknya, kaderisasi teknik yg mulai digoyang, gedung yg mangkrak, kesenjangan D3 dg S1, dan lalalala #KP
  • G p2 kt brpkiran luas, global. Emg gt shrusny. Tp yg kluar dr mlut, yg trtulis olh pena, plus tindakan kta adl yg mngakar d tmpt kt brda #KP
  • Itu td sih contoh2 simplenya. #KP juga ga melulu ttg politik-politik praktis. Tp jg politik keteknikan. Kita kan engineer nih.
  • Hrsny kt lbh bs bcra mmbngun Indonesia pd bdang2 yg ssuai dg keilmuan kt. Bs dbilang adanya anak teknik ya utk mmbngun Indonesia. #KP
  • Ga ada anak teknik, ga ada Indonesia. Ir. Soekarno it ank arstek, bkn ank FISIP apalagi org militer. Ini faktanya. #KP #TeknikUntukIndonesia
  • So, Indonesia lg nunggu nih anak2 Teknik dg Wawasan global tp actionnya mengakar. Semangat ya buat temen2 yg mau belajar di KBK #KP
  • Inget, sebelum semuanya: cerdas, peka, peduli, kritis, solutif, mengakar. 5 hal ini nih yg prlu dibangun dlm diri kita. #KP Camkan! :-)

Bisa diakses juga di Chirpstory disini
14.38 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0