Kajian Reflektif: Alay dan Masa Depannya
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama
Manusia mati meninggalkan nama
Begitulah peribahasa tua mengatakan tentang peninggalan kita
di dunia setelah ajal menjemput. Kemudian saya tergelitik melihat realita
sekarang. Majunya teknologi pun kini bisa merubah peribahasa yang melegenda
dari jaman orang tua saya belajar SD dulu.
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan segenap akun sosmed dan postingannya
Manusia mati meninggalkan segenap akun sosmed dan postingannya
*haha
Bahkan kemarin saat kami baru memulai mentoring yang sempat
lama tersendat (karena satu hal dan hal lainnya) hal ini jadi bahan obrolan
yang sangat menarik. Awalnya saya melihat mata para mentee sudah mulai berat
tertimpa kantuk, sejenak ketika saya lontarkan tema ini segera tanggapannya
antusias.
Menurut hemat saya, saya menyebutnya ‘mengerikan’. Kenapa?
Tak masalah kalau jika yang kita tinggalkan itu adalah akun dan postingan yang positif. Akan jadi ‘mengerikan’ jika yang kita tinggalkan itu adalah akun-akun dengan nama dan postingan alay.
Tak masalah kalau jika yang kita tinggalkan itu adalah akun dan postingan yang positif. Akan jadi ‘mengerikan’ jika yang kita tinggalkan itu adalah akun-akun dengan nama dan postingan alay.
Thya Agy Marahan Ama Facebook
Anyie Yaa Anie
Budhiee Asliewonkjowo
Kikina kakak
Anyie Yaa Anie
Budhiee Asliewonkjowo
Kikina kakak
“Q udd blank lok Q agy mlezz ponan ma cmzan, jdna aQ OL ma
tmen2 Fesbukers @_@”
Sudah kebayang betapa mengerikannya hal ini? Bayangkan saja
jika kematian kita hanya meninggalkan akun-akun alay dengan postingan yang
susah dibaca. Akan jadi tertawaan bagi orang-orang yang hidup. Nyesek ga tuh?
Sudah begitu, anak dan cucu pun jadi malu menanggung aib kealayan.
Tidak cukup sampai disitu. Bayangkan di dalam kubur dan hari
akhir nanti kita akan diminta pertanggungjawaban untuk semua amal dan perbuatan
kita di dunia. Salah satunya adalah akun-akun tersebut.
“Hai Fulan, kau gunakan untuk apa akun-akunmu? Sekarang saatnya pembalasan atas dosa-dosamu membuat tulisan yang susah dibaca manusia.”
“Hai Fulan, kau gunakan untuk apa akun-akunmu? Sekarang saatnya pembalasan atas dosa-dosamu membuat tulisan yang susah dibaca manusia.”
‘Mengerikan’ sekali, bukan?
Coba pikirkan lagi, di alam kubur tak akan mungkin kita bisa mengelak. Tak mungkin ada percakapan seperti ini:
M: kamu tau kamu sekarang di mana?
A: di hatimoooeeeee
M: siapa Tuhanmu?
A: kasih tau ga ya?
M: siapa Nabi mu?
A: mau tau aja atau mau tau banget?
M: kamu tau gak kerikil di neraka jahanam 70x lebih panas
dari api di dunia?
A: trus gw harus bilang woooooooooow gitu?
M: aku pastikan kamu masuk neraka!!!
A: ciyusss??? miapah???
(diambil dari sebuah komentar di Kompasiana)
Mari kita bandingkan dengan generasi terbaik ummat ini. Mereka
di lahirkan di tengah keterbatasan zaman. Listrik belum ada. Apalagi social media.
Sebut saja Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanafi, Ibnu Sina, Ibnu
Rusyd, Al-Khawarizmi, dan kawan-kawan(Semoga Allah merahmati mereka). Peninggalan mereka adalah
karya-karya yang sangat monumental dan berkelas. Sudah ratusan tahun, tapi
tetap saja menuai manfaat. Selalu dibaca dan disampaikan segenap manusia. Bisa
dibayangkan apa jadinya jika Kitab Al-Muwatha’ tulisan Imam Malik ditulis
dengan tulisan alay? Na’udzubillah. @_@
Nah, itulah perbandingan generasi ratusan tahun silam dengan
generasi hari ini. Atau saya yang tidak tahu bahwa alay itu sudah ada sejak ribuan
tahun silam dan menjadi klan rahasia yang terus berkembang sampai sekarang?
Haha sudahlah…
Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung para alay, apalagi
menyakiti. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam hukum dan
pemerintahan #eh. Jadi, menjadi alay itu
juga hak. Tapi bisalah kita ambil pelajaran untuk bisa menggunakan
kemudahan-kemudahan teknologi informasi seperti social media secara cerdas dan
bertanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab di dunia, tapi juga akhirat.
Semarang, 5 Juni 2013
@taufikarahmat
0 komentar: