TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Jumat, 05 Oktober 2012

Ngapain Repot-repot Cari Inspirasi?


02.25 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 21 September 2012

About Ourself, Just The Way You Are


Bahkan sampai sekarang saya selalu dibuat pusing dengan pertanyaan yang tidak henti-hentinya menghujani alam pikir dan alam khayal saya. Tentang retorika Tuhan menciptakan sesosok makhluk nista penuh dosa seperti saya… Nista bung! Nista! Kotor! Haha…
Tapi keberadaan kita di dunia yang fana ini benar-benar tanpa perlu pretensi. Meski begitu tetap semua harus memiliki definisi karena sesuatu semahal apapun jika tak memiliki definisi ianya tak akan berarti. Kecuali cinta. *Hehe apaan sih?
Tak perlu juga sampai menggunakan semantik untuk memperoleh definisi, cukup saja dengan mengamati, merasakan, dan menjadi. Karena definisi tak selalu sempurna jika harus diwujudkan dalam kata-kata.
Kadang-kadang pertanyaan ini seperti menampol saya bolak-balik ketika lagi-lagi saya teringat tentang eksistensi saya di dunia. Who are you? Ketika diri nista ini benar-benar butuh definisinya sendiri.
Dalam sebuah kesempatan diskusi sore ini di Bundaran Widya Puraya, definisi ini perlahan muncul dan menyeruak ke permukaan dunia nyata setelah sekian lama mengendap dalam-dalam di alam bawah sadar.
Semua orang pasti sepakat bahwa kita adalah manusia. *nah lho yg gak ngerasa manusia ayo cung.. Manusia yang terlahir, bukan tanpa sengaja. Tapi memang setelah melalui proses panjang penciptaan. Terlahir selain bukan tanpa sengaja terlahir bukan untuk sia-sia. Inilah kita. Nah, faktanya sekarang adalah terlalu banyak waktu atau bagian-bagian kecil hidup kita yang disia-siakan. Harusnya sih tiap detiknya itu menghasilkan karya-karya yang tak sederhana. Sebut saja ada manfaat yang dituai.
Tapi jangan lupa kalau kita adalah orang yang beruntung. Untung terlahir sebagai manusia. Bukan binatang, bukan tumbuhan. Gak kebayang kalau kita terlahir sebagai nyamuk. Baru lahir, tiba-tiba udah digaplok dan innalillahi. Kita lahir sempurna, meski sekarang kadang-kadang juga labil. Tapi physically kita sempurna. Lahir dengan pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang sudah aktif. Ga perlu lagi kirim sms aktivasi untuk mengaktifkan semuanya. Alhamdulillah kita terlahir di tengah-tengah orang yang tepat, kita ditaqdirkan bertemu dengan kedua orang tua kita dan sanak-saudara kita yang semuanya memang sudah direncanakan Yang Di Atas, tanpa ketidaksengajaan. Terlalu banyak kalau coba dihitung satu per satu. Karena kalau coba dirunut dari lahir sampai sekarang segede ini, tiap scene dalam hidup kita seperti alur keberuntungan. Alhamdulillah.
Dan nikmat yang paling indah adalah Allah adalah tuhan kita.
*weeee jangan bawa-bawa Tuhan bero!
*emang kenape? Gue anak Rohis and I’m not terrorist! Haha
Hidup ini terasa sangat nikmat. Betapa tidak, sebab kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia ini sudah lengkap dengan fasilitas-fasilitas social. Kita tidak terlahir sendiri. Kita terlahir sebagai makhluk sosial. Yang hidup berdamping-dampingan dan cenderung memenuhi kebutuhannya. Sehingga saling berinteraksi. Maka coba definisikan diri kita sebagai pribadi yang supel. Yang mudah bergaul dan berinteraksi. Yang tak perlu banyak sarat untuk memperoleh teman. *because you are not alone bro
Tak ada yang terlahir sia-sia. Harusnya begitu. Orang tua kita sudah membantu kita memberikan definisi untuk diri kita sendiri. Ya, nama. Hal paling istimewa adalah ketika kita lahir dengan nama yang berbeda. Unik dank has, namu sarat makna dan do’a. Dalam tiap nama ada harapan, impian, dan do’a. Sudah tau arti nama diri sendiri? Konyol kalau sudah hidup puluhan tahun tapi tak tahu arti nama sendiri. Segera cari tahu! Dan jadilah lebih hebat, sebab kau sudah memiliki satu definisi tentang dirimu! Dari namamu.
Waktu tak pernah hirau yang mati dan yang hidup. Tidak perlu persetujuan kita. Terus datang tanpa diundang. Akan berlalu tanpa dihalang. Tak ada tawar menawar untuk satu detik berlalu. Bahkan Allah sampai bersumpah pada waktu. Diri ini adalah kumpulan dari waktu-waktu. Berlalu sehari, berkuranglah diri kita sebagian. Maka saksikanlah bahwa diri ini adalah sang pembelajar dan pejuang. Yang melintasi waktu yang kadang menjadi sahabat saat nikmat datang bertubi-tubi. Tapi kadang waktu juga menjadi sosok yang paling mengerikan karena kekakuannya saat kematian menjelang, dan kau tak mampu mengintervensinya, meskipun hartamu berlimpah, meskipun ayahmu orang terpandang.
Pernahkah kita berpikir bahwa kita adalah orang-orang yang istimewa? Yang jelas semua sepakat bahwa kita terlahir berbeda. Nama, fisik, suara, bakat, kesukaan, semuanya berbeda. Dan itulah potensi. Maka katakana bahwa kita adalah orang-orang unik. Satu paket raga dari atas hingga bawah yang ruh Anda tempati adalah limited edition. Satu-satunya di dunia. Tak ada yang lain selain dirimu! Lalu, kenapa tidak kita keluar rumah, berjalan dengan penuh percaya diri untuk kemudian berjuang dalam belajar dan berjuang mengarungi kehidupan untuk meraih prestasi tertinggi?
Terlalu banyak definisi. Sederhananya katakanlah kita hidup, bukan orang mati. Jelas berbeda antara yang hidup dengan yang mati. Tapi tak jarang, banyak orang fisiknya hidup tapi seperti orang mati. Maka disini perlu kita sadar tentang apa hakikat hidup dan kehidupan. Singkatnya apa sih hidup buat kamu?
Jadi inget Mapel Biologi yang dulu gurunya Bu Afifah. Beliau bilang bahwa makhluk hidup itu cirinya bergerak. Dan tulisan ini sangat sepakat untuk hal itu. Bahwa tiap yang hidup dan bernyawa secara alami ia akan terus bergerak. Berubah. Ibarat air tempat tinggalnya para ikan, ia akan segar manakala terus mengalir, tapi akan kotor dan busuk saat diam selalu. Konsekuensi logis dari bergerak adalah perubahan. Berubah jadi semakin baik atau semakin buruk. Pilihannya ada tiga, jika taka da perubahan, maka merugi. Jika lebih buruk, maka celaka. Jika lebih baik, maka beruntung. Silahkan pilih yang mana.
Hidup tak sesederhana junk food, sekali pesan langsung jadi. Atau tak seinstan mie instan, sekali rebus, tinggal lahap dan sudah. Tapi hidup adalah proses panjang. Bukan sekedar rutinitas biasa yang tanpa sengaja terulang dengan hal yang sama tiap harinya. Baiknya hidup itu tiap harinya berbeda. Sebut saja itu kejutan dari Tuhan. Intinya hidup adalah proses yang tak pernah berhenti. Proses yang lebih rumit dari siklus instruksi dan pemrosesan data dalam CPU. Ada input, juga ada output. Input baik yang baik maka outputnya pasti baik. Tantangannya adalah: live your life! Dengan proses-proses yang menghidupkan kehidupan.
Hidup bisa diterjemahkan sebagai pencarian sebab hidup adalah misteri. Meskipun tak semuanya adalah misteri, tapi esok adalah misteri yang dapat dijawab jika dan hanya jika kita berani bergerak bersama bergulirnya waktu. Nanti juga misteri. Segala apa yang belum terjadi adalah misteri ilahi yang bisa jadi itu adalah kejutan dari Sang Pencipta. Kita tak tahu, tapi kita mengerti bagaimana merancangnya agar misteri itu menjadi sesuatu yang dicari dan dinanti.
Boleh juga jika hidup diterjemahkan sebagai pengabdian dengan sepenuh loyalitas dan totalitas. Setia dengan apa yang menjadi prinsip. Total dengan apa yang disebut ‘kerja’ dan ‘pengorbanan’.
Salah jika dikatakan hidup untuk mati. Logika orang tak beriman meyakini setelah hidup kemudian mati, dan tak ada lagi kehidupan. Inilah yang menyebabkan kekeringan melanda rohani. Pola pikir pesimistis yang tak lagi memiliki harapan, sehingga hidupnya hanya sebatas yang ia rasakan sekarang, tak peka dengan kehidupan lain di depan yang mulut gerbangnya sudah menganga.
Padahal pesan dari langit sudah sampai sejak awal manusia hadir di bumi. Yang paling dekat adalah sekitar 1400 tahun silam ketika nabi terakhir membawa risalah paripurna bahwa kepada Allah-lah satu-satunya penghambaan dan pengabdian yang hakiki. Dan setelah kematian akan ada lagi kehidupan di alam kubur untuk kemudian dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan kahidupan sekarang serta memperoleh reward and punishment. Sederhanya begitu, seperti siklus program kerja yang biasa kita eksekusi di organisasi.
Maka sesungguhnya hakikat hidup yang sekarang adalah menuju hidup yang berikutnya. Hidup adalah proses menuju Allah yang kekal abadi. Setelah itu kita akan mendapat tempat kembali surga atau neraka. Pengabdian dan loyalitas yang paling utama dan pertama adalah kepada Allah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan menghidupkan yang mati; yang menjadi muara dalam kehidupan berikutnya.
#Sumber Inspirasi: Diskusi Rabuan U-Win Indonesia @ Bundaran Widya Puraya

Atas nama hidup dan kehidupan
Semarang, 21 September 2012
10.43 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 06 September 2012

Salam Hangat untuk Mahasiswa Baru


Bahkan sampai detik ini saya masih saja tidak bisa percaya bahwa saya sekarang adalah mahasiswa semester lima. Yang saya rasakan adalah saya masih sama seperti bocah-bocah kepala botak (1 cm) dengan pakaian hitam putih-hitam putih itu. Bukan karena saya memang cukur begitu. *emang iya sih* Tapi rasanya sangatlah amat cepat sekali waktu ini berlalu. *boros
Sudah cukup panjang juga lama saya hidup di dunia. Hampir seperlima abad lah. Fase masih fase mahasiswa. Kalau berpikir secara umum seperti orang-orang berpikir, maka fase berikutnya adalah fase kerja, kemudian berkeluarga, kaya-raya, dan mati. Ouch, tapi kali ini saya akan set ‘out of the box’.
Sekali lagi, saya amat menyadari perbedaan nikmat yang ada. “Barang siapa bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya.” Kalimat ini beberapa hari terakhir sering diucapkan teman saya. Dia bilang nilai C, D, atau E itu harus disyukuri *Alhamdulillah, supaya nikmatnya ditambah. Betul! :D Ikutan semester pendek, terus ngulang, pelan-pelan nanti dari E, jadi D. Dari D, jadi C. Dari C jadi B. Dari B jadi A. Huwaahh… ini dia evolusi yang sesungguhnya. Tuhan, aku berlindung pada-Mu dari hal yang demikian. A! A! Forever!
Fokuuuuussss! Nikmat awal yang kita terima sama, sebagai modal kehidupan. Tengok saja diri kita sendiri dan hitung satu per satu apa yang diri kita dan orang lain punya sedari lahir. Rambut hitam yang klimis *tapi gue keriting, jidat, hidung dengan dua lubang, mulut, tangan, kaki, otak yang ada akalnya, nafsu juga ada. Kumplit. Tidak kurang dan tidak lebih. Inilah modal kita. Tapi menengok keadaan saya sekarang sangat tragis. *hiperbola dikit tak apa lah boy. Karya-karya masih sedikir, belum ada yang berarti malah. Mungkin saya kurang bersyukur. Alhamdulillah. Ya, kalau bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya.
Mahasiswa baru. Indahnya jadi mahasiswa baru. Masa dimana lu boleh bilang “waow” buat dunia baru dengan pernak-perniknya yang baru lu temui. Kalau saya dulu rada deg deg serrr. Dari kampong yang sekitar 3 sampai empat jam dari ibukota propinsi, jadi tinggal di salah satu kota besar Indonesia, Semarang. Dari sekolah yang mungkin luasnya 2000 meter persegi jadi kampus yang sekampung. Waow lah pokoknya.
Saya dulu paling semangat potong rambut, satu cemtimeter. Bahkan lebih pendek dari angkatan saya sampai-sampai pada protes *haduh ini komting sementara malah lebih pendek banget nih rambutnya. Bahkan sampai semester lima ini gaya rambut ala mahasiswa baru ini masih saya pertahankan.
Sejujurnya, saya sangat senang dan bahagia sekali jadi mahasiswa baru. Meski kadang sempet sebel juga dengan OSPEK *sebutan populernya, yang rada-rada gaje, tapi asyik. Bahagianya bukan di situ. Tapi seperti terlahir lagi di dunia. Hah, enaknya. Bisa melihat apa yang belum pernah dilihat. Bisa mendengar apa yang belum pernah didengar. Bisa bertemu siapa yang belum pernah ditemui. Bisa hadir di acara-acara besar. Bisa mendapat inspirasi dari orang-orang terbaik.
Banyak sekali cerita tentang awal mula saya masuk kampus dan jadi mahasiswa baru. Berhalaman-halaman Ms. Word rasanya tak akan cukup menampungnya. *lebay. Tapi insyaallah aka nada banyak hal yang akan saya share-kan ke pembaca sekalian, khususnya adik-adik saya, mahasiswa baru, di tulisan-tulisan berikutnya.
Pada tulisan kali ini, tujuannya hanya satu:
SELAMAT DATANG DI DUNIA KAMPUS, DUNIA YANG AKAN BISA MENGUBAH SEGALANYA! TRUST ME!
Selamat datang juga untuk adik-adikku, mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2012, istimewanya buat anak-anak Fakultas Teknik, dan lebih istimewa lagi buat anak-anak Jurusan Teknik Sistem Komputer!

02.06 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Minggu, 26 Agustus 2012

Merah Putihku, Merah Putihmu, Merah Putih Kita


Setiap 17 Agustus maka pasti Indonesia yang hijau berubah warnanya menjadi merah-putih. Lautnya yang biru membentang sejenak menjadi lautan merah-putih yang berkibar. Hampir setiap rumah memancangkan tiang-tiang nan kokoh tempat berkibar Sang Merah Putih di depan pekarangan. Hampir setiap kendaraan dipasangi kain kecil berwarna merah-putih di kaca spionnya. Ketika akan mendekati tanggal 17 layar televisi pun segera dihiasi dua warna istimewa ini. Puncaknya adalah ketika putra-putri terbaik Indonesia yang terpilih dari tiap provinsi mengibarkan Sangsaka Merah Putih di istana negara, Jakarta.
Pun begitu dengan tiap-tiap daerah. Baik provinsi, kabupaten, hingga tingkat kecamatan, serentak mengibarkan merah-putih.  Pada hari itu Sang Merah-putih sangat gagah berkibar di langit yang mengharu-biru diiringi dengan lagu ciptaan Wage Soepratman yang membahana ke seluruh alam raya, Indonesia Raya.
Saya sangat bangga pernah menjadi bagian dari barisan putih-putih yang gagah itu. Sampai hari ini pun saya tetap menjadi bagiannya. Selamanya. Meski paling tinggi saya hanya bisa mengibarkan di tingkat kabupaten. Tak masalah mengibarkannya dimana saja. Semangat dan niatnya yang utama. Dua kali dalam dua tahun berturut-turut menjadi komandan pasukan di Kecamatan Tumijajar-2007 (Bersama Pak Kardion, Acong, Jailangkung, Tukul, Inem, dkk) dan Kabupaten Tulang Bawang-2008 (Bersama Pak Suwardi, Kak Albari, Syaiful, Dora, Yeyen, Fiska, Kartika, dkk) merupakan kebanggan yang amat dalam buat saya. Masih sangat jelas dalam ingatan pada tahun 2007 kami menggunakan formasi U dan pada 2008 menggunakan formasi V. Ada rasa puas bercampur haru ketika perjuangan seleksi, berlatih, membentuk kekompakan dan kebersamaan selama kurang lebih 3 minggu akhirnya mampu mengibarkan Sang Merah-putih dalam waktu kurang lebih 15-20 menit. Seperti konyol memang, waktu hampir sebulan hanya untuk 15 menit. Tapi ini perjuangan kami!
Cukup dulu sekapur sirih dan seulas pinangnya ya. Tulisan ini akan mengajak pembaca sekalian berpikir dan merenungi sesuatu yang baru-baru ini saya rasakan. Sejujurnya, kesedihan yang mendalam buat saya melihat merah-putih hari ini berkibar. Tanya Kenapa?
Saya hanya ingin bicara soal sejarah—meski saya anak teknik. Tentang bagaimana merah-putih itu menjadi bagian bangsa kita dan kondisi kekinian kita sekarang. Merupakan hal yang berat untuk mengibarkan merah-putih itu. Bukan usahanya, tapi tanggung jawabnya yang berat. Tanggung jawab kepada orang-orang di masa lalu bangsa ini dan orang-orang di masa depan bangsa ini. Setelah paragraf ini, sejarah akan bercerita kepada kita, dan setelah itu akan saya sampaikan perenungan saya.
Bicara tentang sesuatu yang menjadi milik bangsa ini akan membutuhkan banyak sekali waktu serta referensi untuk menelusurinya jauh ke belakang. Maka pasti di dalamnya terdapat jejak-jejak sejarah yang menjadi sebab akibat mengapa sesuatu tersebut menjadi milik Indonesia.
Dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta berkumpullah putera-puteri Indonesia yang berasal dari berbagai keragaman—saya enggan menyebutnya perbedaan. Seperti yang kita ketahui dalam mata pelajaran Sejarah di bangku sekolah dulu, pada hari itu dihasilkan dan diikrarkanlah Soempah Pemoeda yang mengaku bertumpah darah yang satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Dalam pada itu, pada tempat dan waktu yang sama, disepakatilah dua piranti kemerdekaan. Pertama, Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Kedua, Sang Saka Merah Putih sebagai bendera nasional.
Sebagaimana bahasa Indonesia yang sebelumnya sudah disepakati dan ternyata berasal dari bahasa melayu pasar, Sang Saka Merah Putih pun begitu. Merah-putih punya ceritanya sendiri. Bukan muncul secara tiba-tiba atau hanya karena usulan dari seseorang lalu disepakati begitu saja oleh forum kala itu. Bukan. Tulisan ini tidak bercerita tentang bagaimana Bunda Fatmawati menjahitkan Bendera Pusaka. Tapi jauh sebelum itu.
Pendiri-pendiri negara ini amat pintar dan jeli dalam menyarikan dan merancang bangsa ini. Mereka mengambilkan dasar-dasar dari apa yang memang sudah mengkristal sejak lama dalam diri bangsa ini—meskipun kala itu belum dikenal istilah nasionalisme dan patriotisme. Merah-putih sudah sejak lama bersanding dalam sanubari bangsa ini.
Di atas sempat saya sebutkan Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Dua frase warisan orang-orang tua kita ini tampaknya sudah terlalu tua untuk digunakan di masa ini. Tapi inilah warisan pendahulu kita. Cobalah buka buku-buku lama, maka akan sering kita temukan dua frase tersebut menjadi judul dari pembuka. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah dan apabila buah pinang dibelah akan terlihat di dalamnya berwarna putih?
Cendikiawan bangsa ini muncul bukan hanya ketika anak-anak priyai disekolahkan dan dikirim ke Belanda. Tapi sudah muncul sejak lama ketika Islam menyentuh sanubari bangsa ini dan mengubahnya dari dominasi Kerajaan Hindu-Budha menjadi hagemoni Islam abad ke 7 M. Sebut saja ulama dan santri. Mereka ini yang dulunya mengobarkan semangat kemerdekaan (jauh sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan) dan kebebasan. Bahwa penjajahan itu tidak berkeperikemanusiaan dan perikeadilan. Bahwa kaum-kaum tertindas haruslah melawan! Hingga meletuslah Perang Suci/Perang Sabil yang dipimpin oleh Soeltan Abdoelhamid Eroetjakra Amiroel Moekminin Syaijidin Panatagama Khalifah Rasoeloellah saw ing Tanah Djawa—Pangeran Diponegoro, anak dari Hamengkubuwono III 1825-1830 M.
Para ulama dan santri tersebutlah yang mengajarkan kita menggunakan frase Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Hingga dalam tiap-tiap pembukaan buku zaman dahulu kala selalu kita temukan dua frase tersebut. Namun sekarang kita lebih akrab dengan “editorial” atau “salam redaksi” atau “kata pengantar”. Merah-putih.
Pada saat membangun rumah. Di sahunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari jum’at, mimbar Jum’at di Masjid Agung atau Masjid Raya dihias dengan bendera merah putih. Tampaknya para ulama dan santri berusaha sangat keras untuk membudayakan merah-putih untuk bangsa ini.
Dasar pembudayaan Merah-putih ini bertolak dari ajaran Al-Qur’an. Kita semua mengetahui jasmani manusia diciptakan Allah dari darah. Khalaqal Insaana min ‘alaq (QS. Al-Alaq: 2). Darah ibu dikonsumsi oleh bayi dalam rahim ibu selama Sembilan bulan sepuluh hari dan warnanya merah. Sesudah dilahirkan, bayi masih membutuhkan darah ibu, selama 20 bulan 20 hari, lewat air susu ibu (ASI) yang berwarna putih.
Dalam Al-Qur’an disebutkan Syalasuuna Syahra atau 9 bulan 10 hari ditambah 20 bulan 20 hari, menjadi 30 bulan (QS. Al-Ahqaf: 15). Oleh karena itu, kelahiran dan pemberian nama disertai dengan pembuatan bubuer merah putih sebagai symbol darah ibu yang dikonsumsi oleh seorang bayi, minimal selama 30 bulan. Pemberian ASI dapat dilengkapkan waktunya selama 24 bulan (QS. Al-Baqarah: 233).
Proses kehamilan dan kelahiran dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai pengorbanan akbar yang penuh kesabaran dari ibu yang mengandung dan melahirkan penuh derita selama 9 bulan 10 hari (QS. Luqman: 14 dan Al-Ahqaf: 15). Proses kelahiran pun disertai dorongan darah ibu yang tumpah di saat persalinan.
Kenyataan ini mendorong Wage Soepratman, sebagai seorang pujangga Muslim, untuk menciptakan lagu kebangsaan yang melukiskan tanah air sebagai tanah tumpah darah. Tanah tumpah darah ibu dijadikan tekad untuk menjadi pandu ibuku. Pada teks asli syair Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada Kongres Pemoeda II 28 Oktober 1928 tertulis: “Indonesia tanah airkoe, tanah toempah darahkoe, disanalah akoe berdiri, mendjaga Pandoe Iboekoe.” Pribadi Wage Soeprtaman yang religius dan memahami realitas bahwa masyarakat Probumi adalah Muslim, memengaruhi jiwa syair Indonesia Raya, misalnya, “Marilah kita mendoa: Indonesia bahagia.” Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 kata “mendoa” berubah menjadi berseru.
Mengejutkan buat saya ketika saya mengetahui Rasulullah pernah menyebut merah-putih. Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340, dari Hamisy Qasthalani: Rasulullah saw bersabda: Innallaha zawaliyal ardha—Allah menunjukkan kepadaku dunia
Masyaariqaha wa maghribaha—Allah menunjukkan pula timur dan barat
Wa a’thanil kanzaini—Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku
Al-Ahmar wal Abjadh—Merah putih
Busana Rasulullah yang indah itu juga berwarna merah. Seperti yang disampaikan oleh Al-Barra:
“Pada suatu hari Nabi saw duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah. Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Busana putih juga dikenakan oleh Rasulullah saw. Demikian pula sarung pedang Rasulullah saw dan pedang Sayidina Ali ra pun berwarna merah. Sedang sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah putih.
Semakin kesini, setelah Kerajaan Saudi Arabia dan Raja Ibnu Saud menggunakan bendera berwarna dasar hijau (1924 M), menyebarlah warna hijau menjadi ciri warna Islam pembaharuan atau Wahabisme. Sementara itu, warna merah putih bendera Rasulullah saw tergantikan dengan warna hijau bendera kerajaan Saudi Arabia. Selain itu, warna hijau menjadi warna kubah makam Rasulullah saw. Kemudian terkesan warna merah bukan warna Islami, walaupun Masjid Rasulullah berwarna merah bata dan masjid di Spanyol, disebut Al-Hambra atau Al-Ahmar yang artinya merah. Islam Indonesia meniru menggunakan warna hijau seperti kubah makam Rasulullah saw. Padahal, warna karpet di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah merah. Sedang di Indonesia terjadi hijaunisasi sampai ke warna karpet masjid dan bendera lambing organisasi.
Dampaknya dalam penulisan sejarah, Sang Saka Merah Putih tidak dihubungkan dengan warna bendera Rasulullah saw, Merah Putih. Hal ini karena gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah dan Wahabisme di Arabia beralih ke warna hijau.
Mencoba untuk menelusuri kembali asal-muasal merah putih. Kekhalifahan Islam yang terakhir adalah Kekhalifahan Turki Utsmani. Kerajaan-kerajaan di nusantara amat dekat hubungannya dengan kekhalifahan Turki Utsmani. Dibuktikan dengan kesamaan simbol yang ada. Di bendera Turki ada simbol bulan dan bintang. Dan di kubah-kubah masjid di negeri ini ada simbol bulan dan bintang. Simbol yang sama. Dan warna bendera Turki pun merah dan putih.
***
Setelah penjabaran dan pengungkapan yang cukup detil di atas, saya mengajak pembaca untuk kembali berpikir. Tentang realita hari ini yang jauh dari hubungan sejarahnya. Inilah yang saya sebut berat tanggung jawabnya. Tanggung jawab terhadap sejarah.
Bangsa kita merdeka bukan dengan sekonyong-konyong. Ada perjuangan dan pengorbanan besar di dalamnya. Yang perlu diingat, Indonesia merdeka bukan karena perjuangan dan pengorbanan itu. Tapi Indonesia merdeka karena rahmat Allah.
“Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan dan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Bukan bermaksud menafikan perjuangan dan pengorbanan besar orang-orang dahulu, tapi yang saya tekankan adalah pengakuan para pendiri negara sekaligus pendahulu kita tentang kemerdekaan, tentang bendera merah putih yang berkibar gagah.
Pengakuan bahwa Sang Merah Putih itu bisa berkibar gagah adalah karena rahmat Allah. Bukan karena yang lain. Pertanda dasar pijakannya adalah keimanan dan ketaqwaan yang mendalam.
Bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak diraih dengan sekonyong-konyong oleh satu generasi. Tapi turun-temurun berikut dengan perjuangan dan pengorbanannya. Perjuangan dan pengorbanan yang tiada tara. Perjuangan dan pengorbanan atas nama cinta tanah kelahiran. Perjuangan dan pengorbanan atas nama keimanan.
Kakek kita, Pangeran Diponegoro, Nampak gagah dalam lukisannya. Di atas kudanya, memegang keris, bersorban, dan berbaju gamis, pakaian tanda keimanan. Anak Hamengkubuwono ini dengan gagah mengobarkan peperangan melawan penjajah hingga menimbulkan kerugian yang amat besar di tangan lawan.
Masih ingat Bung Tomo? Orasi dan pekikkan takbirnya tanda keimanan mampu menggelorakan arek-arek Surabaya melawan penjajah.
Yang ingin saya petik adalah bahwa bangsa ini merdeka dengan perjuangan panjangnya yang dilandasi keimanan yang mendalam.
Tapi hal ini menjadi paradoks ketika kita melihat realita. Negara ini carut-marut. Pemerintahnya bobrok. Anak mudanya malah “begini”—silahkan definisikan sendiri. Namun bukan disini tempat saya untuk bicara soal pemerintah dan anak muda secara umum. Saya hanya ingin mengingatkan kepada putra-putri pilihan yang mengibarkan Sang Merah Putih panji pusaka bangsa.
Sudahkah pengibaran tahun ini memenuhi tanggung jawabnya terhadap sejarah?
Menjadi ironi ketika pendahulu kita mengibarkan Sang Merah Putih dengan mati-matian beriring pekikan takbir atas dasar keimanan yang kuat. Sedang kita hari ini (bertepatan dengan Ramadhan pula—persis seperti pada tahun 1945!) seperti apa? Melupakan pijakan keimanannya. Melupakan frase “Atas berkat rahmat Allah”. Kita asyik latihan, tapi lupa puasa—semoga tak ada yang begini. Kita latihan sampai malam tapi lupa tarawih—semoga pula taka da yang begini. Maka apa arti berkibarnya Merah Putih?
Jangan sampai Sang Merah Putih enggan untuk berkibar di tangan kita dan menolak.
Yang saya khawatirkan di masa depan orang-orang bilang perjuangan kita untuk mengibarkan Sang Merah Putih tiap tahunnya itu bullshit. Dan inilah tanggung jawab kita terhadap masa depan.


Tanah airku, 22 Agustus 2012
Untuk pasukanku dan adik-adikku.
20.47 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Sabtu, 07 Juli 2012

Gala Gala KL....



Akan menjadi cerita dan kenangan indah… Wuuuhuuu… Kalimat ini tiba-tiba terlintas di kepala yang beberapa hari kemarin seperti hamper pecah kerana kurang darah… Eh salah, kerana kepleset… Hehee peace… Take sangobion first please…hehee
03.26 am. Sudahlah tak ape, kite sempakkannlah sikik waktu di malam terakhir EDMAT 34th ni lah tuk bagi cerita.hehe
Emang anak-anak binal…hehe… Tengah malem pulang Galla Dinner yang super wah plus bawa koper kostum bukannya malah cape dan istirahat, eh malah berbinal-binal ria di kamar E214 dengan pakaian hitam-hitam dan music yang diputer dari Speaker barunya Mas Sadam yang super gede (tapi belum ngalahin My Lovely MITO, right?)hahaa… Sangking binalnya, sampe budak sebelah kamar datang dan gebrak-gebrak pintu. Eh tapi pas diliat ke luar dia udah ga ada? Mistis! And dramatis! Kebayang, dia buru-buru gebrak-gebrak pintu, terus buru-buru lagi balik ke kamarnya boleh kerana takut atau malu.heheee…. Tapi Alhamdulillah Yaa Rabb orang-orang binal ini nyadar, oo sudah malam rupanya, budak-budak lain di kamar udah pada tidur. Jadi volume dikecilin sikik sambil terus ketawa-ketiwi teriak-teriak…haha Eh datang lagi itu budak gebrak-gebrak pintu… Dasar Kamboja! Hahaa… Pada akhirnya, subhanallah banget yah, salah kalo orang-orang ini disebut binal aja, lebih pas kalo orang-orang binal beriman.wkwkwk… sebab mereka menutup majelis malem ni pake mentoring dulu bahas fiqih sholat berjama’ah…hehee good job! Don’t break my heart Benzene! :-D Tapi ya masih aja si Arbat dan Bang Ali suaranya kedengeran bergema di lorong-lorong dorm yang gelap gulita penuh hantu gentayangan… Binal binal… Sumpah, baru tadi saya ngeliat anak-anak pada serius banget hilang kebinalannya waktu perform yang kurang lebih 15 menit, tapi punya nilai promosi yang tinggi… Semua tampak tegang, tapi kita cuba relax haa.. Mbak Diah dan Mak Izza mulai bercakap sebagai MC… Mas Aria dipanggil, datang dengan pakaian khas Kalimantan dengan bulu-bulu panjang di topinya plus congor, eh maksudnya paruh, burung rangkong di atasnya… Terus main solo Suling Bambu ala Kalimantan… Amazing! Paling seneng pas disebut MC: “Original from Kalimantan-Indonesia”… Tepok tangan sorak sorai menggema dengan gemerlap lampu stage warna-warni… Tak lame, dipanggillah Si Kecak, tari original Bali. Sudah siap kite bebaris macam budak-budak yang biasa maen Kecak. Arbat malah menghilang nyari Mbak Diar(padahal Mbak Dinar udah siap), haiyaaa seng pao laa… hehe tapi Arbat dateng pada saat yang tepat. Mas Aria masih tiup itu suling bamboo, sambil kasih kode ke Wildan, dan Wildan pun langsung maju dengan gaya khas mata melotot, tangan dua ke atas sikik, dan berlenggok sikik. Dan “Cak!”, kite prajurit semua maju sambil tangan ke atas sikik pule, cakap “Pong Ji, Pong Ji, Pong Ji…” Sambil pusing-pusing di atas stage mengelilingi Mbak Dinar  yang berpakaian khas Jawa untuk nari…
Wildan kasih aba-aba, “Cak..” semua prajurit yang berpakaian hitam-hitam berhias jarik yang melingkar indah di pinggang segera duduk sambil menyahut, “Cak! Cak! Cak!” Duduklah semua, lalu Ali screamed, “Cak!” “Cak! Cak! Di!”, tandas prajurit… (Nah lhoo… kenapa tandas?)hahaa Semua komat kamit sambil lenggak-lenggok kanan kiri (paling seronok tu lenggokan Mas Sadam..haha)… Terus sekejap jadi mixer music “Cak Cak Cak” pake mulut, teriak memecah suasana yang gemerlap dan membuat ternganga teman-teman Malaysia, Cina, Jepang, dan Vietnam (yoa gak coy?)… Keren juga, sambil tengok aba-aba Arbat… Sudah itu, Mbak Dinar beraksi, gemulai tarinya membuat semua terpukau dan semua applause sambil beriring suling bamboo mas Aria… Cool! Teroretreroret Jreng Jreng… Gambang Semarang diputer (bukan pake MITO superb), Pasukan Kecak segera duduk dan berdiri… Ambil langkah seribu sambil Pasukan Tari Kipas berpakaian Saman masuk stage. Paten kali braai! Kipas digoyang-goyang kanan-kiri… Kemudian membuat atraksi kipas bersati melingkar berputar (bayangin dah)… Kipas yang kinclong meling-meling kena sorotan lampu kerlap-kerlip. So beautiful! Habis tu mereka nari Saman dengan lagu Jawa… Sumpah performance kita mix banget, tapi oke!
Terakhir Mas Sadam, Rani, Mbak Dinar, dan Rani, masuk satu per satu nyanyi “Heeeeyyy Yamko Rambe Yamkooo… Aronawaaa Kombee…” diselipin Wildan nari Kecak sikik. Disusul pasukan ke tengah stage dengan gaya Tari Tor-tor sambil MC sebut Tor-tor Original from Sumatera Utara (yuhuuuu)… Mbak Anggi datang dengan bendera merah putih gagah di tiang dipegang di tangan… Sambil teriak, “Wuwuwuwuwuwuuwuwuwuuwuuuu…” pake baju adat papua (kalo ga salah..hehee) … Choir.. Meriah! Cewe    : “Hongke hongke, hongke riro…” Cowo    : “Hongke riro…” etc. dan ditutup dengan teriakan kita rame-rame: Hey! Dan selesai… semua tepuk tangan… kita keluar stage… semua bersyukur banget, ga percuma latihan sampe tengah malem… ada yang matanya sampe berkaca-kaca malah… because we love Indonesia… J Mau narsis dikit ah. Saya dua kali naik stage.. Pertama, sewaktu mewakili Indonesia ambil sertifikat penghargaan. Kedua, sewaktu mewakili Indonesia memberikan plakat ke Dean of Faculty Engineering UM… peace… Tapi serius, Allah itu melipatgandakan nikmat hambanya kala ia bersyukur ya…
Rani (Leader of Krypton) jadi best female participant… Mas Ali (Leader of DC) dapet award best performance… Mbak Aisa (Leader of Benzene) dapet award runner up best performance… Dan…. Emmm… modus-modus yang ditampakkan di stage…hahaa moduuuuuss… Mbak Anggi paling seneng….
Banyak cerita sebenernya…. Tapi saye nak tido dulu ya…hehee Kebersamaan ini tak ‘kan pernah berakhir… Dengan kawan-kawan beda Negara… So nice.. (merek sosis).. Dengan kawan-kawan satu Negara, satu keluarga Engineering Diponegoro… Kita bukan team, Kawan! Kita keluarga! Kalian mengajarkan saya banyak hal… Tentang tanggung jawab, senyum, dan kebinalan..hahaaa peace… to be continued…

Kuala Lumpur, July 6th 2012, at 04.32 am.
05.47 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Selasa, 08 Mei 2012

Apresiasi, aku butuh itu...


Man jadda wajada…
Super sekali tampaknya ungkapan Arab satu ini ya. Siapa yang bersungguh-sungguh maka pasti ia akan dapat. Super! Ini tulisan niatnya mau saya tulis kemarin malam pukul 02.00 tengah malam sepulang dari Salatiga, sekadar berbagi pengalaman.
Ini cerita mulanya ketika sebulan yang lewat kira-kira ada pengumuman bahwa dibuka kompetisi proposal pada Program Fasilitasi Pendidikan Tinggi Jateng 2012 ini. Ada rancang bangun teknologi, kewirausahaan, inovasi dan penelitian, dll—lupa. Nah, saya bareng seorang teman saya yang datang jauh-jauh dari Bima NTB, Akbar, iseng-iseng—padahal niat banget, ngirimin proposal rancang bangun teknologi. Ada ide untuk buat teknologi sederhana, sederhanaaa banget, berupa aplikasi ilmu anak SMP tentang sifat pembiasan atau pembelokan cahaya oleh lensa pada penerang ruangan siang hari.
Hari-hari berlalu, minggu pun berganti minggu—helloooow, ini bukan nulis novel lho yha..
Coba-coba lihat webnya BAK Undip—bak.undip.ac.id, masih belum ada juga pengumumannya.. Udahlah, tunggu aja, ntar juga kan pasti dihubungin kalo lolos.
Nah lagi nih ya, subhanallah banget, alhamdulillah banget, allahuakbar banget, hari jum’at, 4 Mei 2012, sekitar jam 1 lewat 15 saya ga sengaja buka webnya BAK Undip. Dan, luar biasanya ada nama si Akbar kepampang. Waow! Alhamdulillah! Terus, yang paling nyesekkin dada itu tulisan: kepada peserta yang lolos harap datang ke Minarik tanggal 3 Mei.
Whuaaaaaatttt???????
Sekarang tanggal 4 Mei, Pak De! Lewat satu hari nho. Busseett dah, astaghfirullooohh… Musti gimana ini kita? Sebut aja menggalau siang itu. Gimanaaa coba?
Bar, proposal kita lolos!
Alhamdulillah, si Akbar balesnya dingin n tanpa ekspressi (plis deh, kan lewat sms..)
Bruan k minarik skrg bar! Km dmn? Disuruh kmpul tgl 3 kemaren. Cb aja tny k minarik dlu
Berhubung sy ga punya motor, jadi Cuma kasi instruksi aja,hahaa…
Ok
***
Pik, jadwal kita presentasi jam 8 tadi di salatiga.., gmn ni?
Hah? Terus?
Tapi jam 5 nanti masih ada yg bidang inovasi n penelitian… kita brgkat aja dlu gmn?
Siap! Ppt kita buat di tempat brarti. Tapi jurinya sama apa beda?
Ga tau..
Ya udah, ayo!
Ayo! Km kutunggu d wisma, pake baju rapi, aku nambal ban dulu.
Ya…
Bener-bener dah. Pikiran kacau, tapi gak balau. Masih jernih. Akhirnya sadar, sampai step ini merupakan pertolongan Allah. Maka ga ada yang sia-sia. Buktinya aja Allah masih menghendaki saya buka web dan liat pengumuman dengan ketidaksengajaan. Pasti ada sesuatu di balik ini. Dan pesan dari Allah yang saya baca adalah: majulah! Aku menolongmu.
Oke, terus kita nekat. Berangkat jam setengah tiga. Saya buru-buru ke wisma Al-Fath. Akbar ga ada.
“Akbar mana, Mas?”
“Lagi nambal ban.”
“Ooh.”
Haduh, perut laper banget, belum makan. Beli tempe dua di ibu warung. Lumayan. Si Akbar dateng. Terus saya pinjem helm & jeket almamaternya Dwi. Oh iya, saya juga minjem sepatunya Ihsan. Hahahaa… Berjuang dengan modal pinjaman…
Entah kekuatan apa yang menggerakkan kami. Ujuk-ujuk, tanpa direncanakan sebelumnya, kami segera berangkat ke Salatiga untuk presentasi. Kekuatan mimpi dan keyakinan. Benar-benar nekad. Kami yakin dengan kekuasaaan Allah dan cerita indah yang Dia tuliskan untuk kami. Dan takdir itu harus dijemput dan diperjuangkan! Oke, kita berangkat. Target pertama adalah sampai Salatiga, lalu cari alamat Jl. Bukit Sawo No. 9. Haduuuhhh dimana ini?
Di jalan Akbar cerita-cerita tentang dialognya dengan petugas di Minarik.
Jadi gimana untuk kami, Pak?
Ya, mas sudah terlambat. Harusnya berangkat tadi pagi.
Pak, boleh liat suratnya? Si Akbar liat jadwalnya.
Kalau kami ikut yang jam 5 ini gimana, Pak..
Wah saya ga tau ik mas. Maaf kami Cuma bisa bantu sampai sini.
Miris sekali, sedih saya ndenger cerita Akbar. Visi 2020 siapa yang punya sih?
Udahlah, dengan atau tanpa support lebih—tepatnya standar, dari penjenengan kami akan terus maju dengan tekad membara dan semangat Diponegoro!
Terus, si Akbar kan ban motornya bocor. Udah gitu, pelek racingnya tiga jeruji(aduh apa namanya saya lupa)nya patah. Akbar coba cari pinjem ke orang-orang di wisma. Tapi nihil! Ga dikasih. Dan rupanya Allah benar-benar mengasah tekad kami.
Dengan berbagai keterbatasan: barang pinjaman, tanpa persiapan, PPT yang belum jadi, pelek motor yang patah penyangganya tiga biji, bismillah kami berangkat.
Sampai di Salatiga pukul 16.30. Shalat ashar. Kemudian menemui ketua pelaksananya, alhamdulillah sambutannya baik. Ramah, senyum.
Iya, Mas. Kami mengerti. Sampean kan udah sampe sini dan dateng jauh-jauh dari Semarang. Tunggu ya mas, nanti acaranya jam 7. Saya akan coba minta juri bidang inovasi dan penelitian untuk menjurikan sampean. Semoga ada yang berkenan. Sekarang registrasi dulu, terus bisa istirahat dan makan snack disana.
Wah, ramah ya bapaknya. Andai saja bapak-bapak di rumahku juga begitu. Bukan ramahnya, tapiapresiasinya.
Oh iya, miris lagi nih. Tengok ke kanan, tengok ke kiri. Ada mobil-mobil dengan logo beberapa universitas. Ada yang tetangga. Tengok lagi kanan kiri. Ada dosen-dosen yang mendampingi.
Ups.. Aku cemburu..
Tak apalah dengan bis butut, yang penting ada kepedulian dan apresiasi. Tak apalah tak didampingi, toh kan mahasiswa itu mandiri, tapi yang penting jangan sampai ada ‘Maaf mas, kami Cuma bisa bantu sampe sini’.
Hiks..hiks…. Oh iya, ada temen-temen lain seuniversitas juga disini. Suara kami sama. Suara kecemburuan.
Belum lagi beberapa hari yang lewat di KRI dan KRCI. Kita punya SDM yang sangat baik, anak-anak dengan semangat dan intelektualitas yang tinggi. Tapi….. Visi 2020 itu serasa jauh panggang daripada api… Iya nggak?
Udahlah, itu urusannya mereka yang peduli. Aku? Aku tak peduli!
PPT akhirnya selesai dibuat, meski dengan tampilan dan isi seadanya. Kami tampil pertama kali pada pukul 19.00! Dan yeah! Sukses! Tinggal tunggu pengumuman dan kejutan berikutnya. Saya disini satu ruangan dengan Makruf dan Deni dari Teknik Kimia… Suara kami sama, suara generasi terbarukan, dan suara kcemburuan… Oh iya, ketemu juga dengan Mas Aribat MIPA…. Dan akhirnya pukul 23.30 presentasi usai. Saya dan Akbar tak pikir panjang, satu kata: PULANG. Mengingat ada banyak kegiatan yang menanti besoknya: monev, sekolah pembicara, departemen cup, dan rapat akbar TANYA FT 2012…
Oke, ini ceritaku. Apa ceritamu? 

21.55 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0