TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Kamis, 10 April 2014

Euforia Pemilu, Pencerdasan Politik Terabaikan

                Adalah hal yang sangat penting ketika kita menyoroti semakin besarnya persentase masyarakat yang memilih golput pada pemilu 5 tahunan di negara ini. Pada pemilu 1999 tercatat 10% yang tidak menggunakan hak pilihnya. Pemilu 2004 meningkat dua kali lipatnya sebesar 23,34%. Dan terakhir pada pemilu 2009 juga meningkat dua kali lipatnya sebanyak 40%. Inilah yang dituturkan Gamawan Fauzi yang saya kutip dari salah satu portal berita online.
                Dalam diskusi Ungkap Caleg (3/4) yang diadakan BEM KM Undip, Bapak Susilo Utomo, panelis, memaparkan data yang menunjukkan mayoritas masyarakat menentukan pilihannya karena faktor figuritas dan uang. Yang paling santer diberitakan media, itulah yang dipilih masyarakat. Tidak peduli setidak rasional apapun. Yang paling getol memberi uang saweran atau serangan fajar, dialah yang dipilih.
                Semua sepakat bahwa Indonesia jika benar ingin sejahtera dan menjadi negara adidaya, negara ini harus dipimpin oleh seorang yang mumpuni, memiliki visi dan gagasan pasti, serta teruji. Demokrasi yang kita anut memberi ruang semacam kompetisi untuk menjadi pemimpin negeri ini. Ini yang sedang kita hadapi di depan mata tepat, Pemilu. Di depan sana sudah banyak orang mengantri dan menjajaki diri untuk memimpin negeri ini.
                Salah satu fungsi partai politik adalah melakukan sosialisasi politik yang akan membentuk sikap dan orientasi politik masyarakat. Dengan kata lain partai politik juga memiliki tanggung jawab melaksanakan pencerdasan politik. Hanya saja hal ini belum banyak dilakukan karena banyak partai politik yang disibukkan dengan urusan pemilihan umum dan menyelesaikan konflik internal. Partai politik juga belum mampu memberi suri tauladan bagi perilaku politik yang etis dan sesuai dengan nilai budaya bangsa yang bermartabat.
                Dan pada gilirannya masyarakat jadi bulan-bulanan. Terjadi kegamangan di tengah masyarakat. Yang selalu jadi makanan bagi masyarakat adalah berita-berita negatif dunia politik negeri ini sehingga banyak kekecewaan muncul. Wajar jika semakin banyak yang apatis.
Belum lagi sangat marak politik pencitraan akhir-akhir ini. Lewat media-media yang dikuasai oleh satu atau beberapa orang, sangat mudah mencitrakan pihak-pihak yang memiliki ambisi untuk menguasai negeri ini. Yang paling laku adalah sosok spesial yang ‘suka blusukan’ dan turun langsung ke tengah masyarakat. Hal ini jelas terjadi sebab masyarakat sangat merindukan pemimpin seperti ini. Pencitraan jelas boleh, tapi kalau berlebihan dan mengenyampingkan sisi rasionalitas rasanya ini sudah masuk ke dalam kategori pembohongan publik.
Masyarakat kita secara umum, tertutama kalangan menengah ke bawah, masih terlalu lugu untuk bisa menyaring segala informasi yang masuk. Maka, jadilah semua ditelan mentah-mentah dan gampang disetir wacananya. Skarang lembaga survei semakin marak dan berjamuran. Tentunya ini lahan yang sangat komersial, apalagi jelang pemilu. Tanpa mengurangi kesantunan saya kepada semua lembaga survei, saya katakan disini amat besar peluang terjadinya penyelewengan data sehingga lagi-lagi sangat mudah menyetir wacana. Dan kita sangat mafhum bahwa negara ini meyakini bahwa kekuasaan di negara ini dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka, apa jadinya jika rakyat yang merupakan penguasa sah negara ini sangat mudah dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu?
Kembali pada bahasan sebelumnya bahwa pencerdasan politik ini penting agar masyarakat tidak jadi bola yang mudah digiring kemana pun perginya. Masyarakat harus mengerti tentang kondisi riil hari ini. Masyarakat harus mampu memilah dan memilih secara rasional di antara pilihan yang ada. Jangan sampai terbutakan hanya karena wacana media.
Pada kasus pemilu ini masyarakat hendaknya mampu melihat mana pemimpin yang memang siap sebagai pemimpin, lengkap dengan gagasannya. Bukan sekadar pencitraan lewat blusukan. Sebab blusukan bukanlah prestasi, tapi sekadar kebiasaan baik yang amat jarang. Hendaknya pula masyarakat mampu melihat mana pihak-pihak yang bersih dan profesional dalam mengemban tugasnya.
Ketika kondisi hari ini seperti penjabaran di atas dimana partai politik amat acuh dengan pencerdasan masyarakat dan terkesan memanfaatkan keluguan masyarakat, serta media telah kehilangan porsinya sebagai media netral lewat pencitraan lebay-nya, maka pencerdasan politik menjadi tanggung jawab siapa?

Tulisan ini hendak memaksa pemerintah, parpol, dan media, melakukan pencerdasan politik yang mencerdaskan. Lebih dari itu tulisan ini ingin mengetuk hati dan menggerak rasionalitas kita untuk mampu melakukan satu dua hal demi terwujudnya masyarakat yang cerdas dalam menentukan pilihan. Tidak disetir figuritas terlalu dalam dan uang sepeser. 
02.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Minggu, 23 Maret 2014

Tekan Tombol F5 untuk Gerakan Aku Cinta Undip!

Pernah dengar Gerakan Aku Cinta Undip? Pertama, saya ulas sedikit sejarahnya. Pada tahun 2011 lalu dicetuskan Gerakan Aku Cinta Undip sebagai manifestasi dari cinta dan semangat civitas akademika membangun almamater. Gerakan ini lahir dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada almamater tanpa dibatasi sekat apapun, yang pada muaranya adalah semangat berjuang, berkorban, memajukan Universitas Diponegoro.
Awalnya gerakan ini dirancang dengan 3 fase gerakan: penyadaran dan implementasi (2011), dan pengembangan (2012). Tulisan ini bukan untuk memberi justifikasi tentang Gerakan Aku Cinta Undip yang hari ini sedikit mandek, tentu hal ini perlu jadi catatan. Tulisan ini membawa semangat untuk merevitalisasi gerakan ini ke dalam bentuk yang relevan untuk hari ini dan beberapa tahun mendatang.
Karena cinta, rela lakukan apa saja
Kiasan ini yang nampaknya jadi jiwa paling kuat dari Gerakan Aku Cinta Undip. Cinta Undip berarti rela lakukan apa saja untuk kemajuan Undip. Rasa cintalah yang menjadi ruh dari apapun perjuangan dan kontribusi kita membangun almamater. Rasa cinta pula yang menjadi sumber energi kita berjibaku bersimbah peluh dalam persembahkan kado terindah untuk almamater. Sederhananya, karena cinta kemudian lahir rasa memiliki, bangga, dan semangat untuk berkorban demi yang dicinta.
Pun kita mengerti bahwa cinta jadi bahan bakar dalam setiap kerja-kerja yang kongkrit, dari yang ringan sampai yang berat. Dan kita lebih mengerti bahwa cinta adalah penawar dari pahit dan getirnya perjuangan, bahkan cinta menyulap semuanya jadi manis. Inilah substansi yang ditawarkan Gerakan Aku Cinta Undip. Dari sini kita sangat berharap kelak akan lahir Diponegoro Muda-Diponegoro Muda yang gagah berlaga memajukan almamater lewat apapun passionnya.
Gelar Diponegoro
Nama ini adalah pemberian dari Presiden Soekarno pada 9 Januari 1960. Kita harusnya bangga dengan nama besar Diponegoro yang disematkan pada nama kampus kita. Siapa yang tidak tahu sepak terjang pahlawan nasional yang satu ini? Pangeran Diponegoro sangat dikenal dengan karakter yang kuat prinsipnya, dekat dengan rakyatnya, berani dalam melawan kelaliman, paling tangguh dalam tiap perjuangan. Dalam kaitannya dengan Gerakan Aku Cinta Undip, hal inilah yang menginspirasi kita untuk segera mengokohkan rasa cinta pada almamater.
Sejatinya cinta, ia datang tanpa perlu pretense
Salah kalau cinta muncul karena dipaksa. Justru cinta muncul tanpa butuh banyak alasan. Tak perlu dibuat-buat. Juga tak benar jika cinta ada hanya meminta. Justru cinta menegaskan banyak memberi. Maka, inilah yang harus kita sepakati. Hendaknya Cinta Undip sudah muncul sejak nama kita pertama kali terpampang di pengumuman lolos seleksi masuk. Cinta yang otomatis. Bukan karena dipaksa ‘senior’ atau dipaksa ‘rektor’. Jika iya, maka itu hanya terpaksa. Jadi, yuk coba kembali kita murnikan cinta kita, cinta yang tanpa paksa, tanpa beban.
Karena cinta, warna-warna jadi pelangi
Di Undip banyak organisasi, komunitas, paguyuban, dan club yang macam-macam coraknya. Masing-masing punya budaya dan alur kaderisasi sendiri-sendiri. Ini potensi yang harus terus kita olah dan kembangkan. Akan tetapi seringnya proses pengkaderan yang ada secara tak sengaja memberi porsi lebih banyak pada cinta kepada organisasi atau komunitas masing-masing. Rasa cinta Undip kian tertutupi, bahkan terkikis. Yang pada gilirannya akan muncul fanatisme berlebih dan muncul banyak jurang-jurang pemisah. Lebih ngeri lagi adalah ego yang menyeruak tak beraturan dan berpotensi menimbulkan konflik.
Lewat Gerakan Aku Cinta Undip kita hanya ingin merefresh cinta kita di kampus ini. Cinta yang saling melandasi dan menguatkan. Sehingga ada pola hubungan yang konstruktif dari setiap entitas yang ada. Karena kita adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro.
Menanti rektor baru yang juga cinta Undip
Gerakan Aku Cinta Undip sangat selaras dengan visi Undip. Gerakan Aku Cinta Undip lahir untuk menyokong visi, misi, dan milestone yang telah Undip rencanakan. Maka, jelas ini bukan hanya menjadi gawean mahasiswa. Seluruh civitas akademika harus terhagemoni oleh Gerakan Aku CInta Undip. Dan kita berharap banyak pada pemilihan rektor nanti. Disini akan ditentukan seperti apa wajah dan tubuh Undip empat tahun ke depan. Kita jelas berharap para calon rektor memiliki gagasan yang kongkrit dan support yang kuat untuk membangun dan mengembangkan Gerakan Aku Cinta Undip. Ya, kita nantikan saja.
Akhirnya, 2014 ini adalah momentumnya. Momentum saat cinta dan gerakannya kita revitalisasi. Gerakan Aku Cinta Undip kali ini bukan hanya milik BEM KM Undip, atau BEM Fakultas, atau organisasi saja, akan tetapi milik seluruh mahasiswa dan civitas akademika yang ada. Kalau dulu gerakan ini masih berkutat pada sosialisasi dan penggunaan simbol, kali ini kita akan kongkritkan lagi dalam kerja-kerja nyata yang mengedepankan kolaborasi. Siapapun bebas berekspresi sesuai passionnya dalam mengaktualisasikan rasa cinta kepada almamater.
“Kita ingin Undip bahagia dengan prestasi, kerja, dan karya. Kita ingin semua tersenyum, meletakkan cinta pada almamater dan Indonesia.” (Diponegoro Muda)
07.50 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 05 Desember 2013

Curahan Hati, Momen Akhir Tahun dan Tahunan

                Politik kampus, kok kesannya serem ya? Selalu saja saat Pemira menjelang isu yang diangkat adalah kepentingan yang dibawa organisasi ekstra yang juga turut serta. Hingga muncullah rekan-rekan yang mengaku independen. Dan bertebaranlah opini tentang kepentingan organisasi ekstra kampus yang begini dan begitu.
                Organisasi ekstra kampus adalah realitas dan entitas yang tidak bisa dielakkan dari kampus itu sendiri. Yang aneh adalah muncul bahasan bahwa organisasi ekstra kampus harus dihapuskan atau dilarang. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah siapa yang berhak melarang? Sebab dalam UUD ’45 jelas diatur kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, yang menjadi hak semua warga Negara.
                Kemudian yang menjadi realita adalah bahwa organisasi ekstra kampus juga turut serta berpartisipasi dalam pemilihan raya atau dalam pemilihan pemimpin sebuah lembaga. Perlu digaris bawahi, bukan organisasi ekstra yang turut serta secara kelembagaannya, tapi kader-kadernya yang juga sebagai kader lembaga internal yang turut serta. Adakah yang tau bahwa ada organisasi ekstra yang memiliki visi untuk melahirkan kader-kader pemimpin? Maka wajar jika rekan-rekan kader organisasi ekstra memiliki motivasi dan wawasan lebih dalam hal kepemimpinan. Apakah salah? Tentu tidak.
                Politik nilai atau politik kekuasaan? Tentu ini kembali kepada masing-masing. Yang saya alami dan amati adalah lebih banyak diskusi tentang nilai-nilai yang dibawa dan dijunjung tinggi daripada diskusi untuk memenangkan sebuah pemira. Bahkan dalam rapat tim sukses pun, dibuka dengan tilawah dan taushiyah (nasehat) yang menjadi pengingat dan pelurus niat.
                Saya sempat mengelus dada ketika melihat sebagian orang bicara tentang politik dinasti di kampus. Istilah politik dinasti sepertinya memang sedang digandrungi. Tapi mahasiswa harusnya cerdas dalam beropini. Kalau yang disebut politik dinasti itu ketika pemimpin lembaga internal kampus yang terpilih seringnya atau bahkan hampir selalu merupakan kader organisasi ekstra, maka saya katakan pernyataan ini tidak rasional. Sebab semua pasti paham bahwa biasanya yang disebut politik dinasti itu karena hubungan darah atau kerabat. Kalau estafet kepemimpinan masih bergilir pada mahasiswa yang merupakan kader internal sekaligus eksternal, maka jangan salahkan organisasi ekstra kampus mana pun. Semua harus paham bahwa di kampus kita masih menjunjung tinggi aturan dan mekanisme yang sah. Semua memiliki kesempatan yang sama. Selagi memiliki kapasitas dan gagasan, dan sesuai aturan/mekanisme yang berlaku, maka tak ada masalah. Dan pertanyaan yang harusnya muncul adalah apakah hanya kader organisasi ekstra kampus saja yang memiliki motivasi, wawasan, dan kapabilitas di atas rata-rata?
                Ketika aturan dipertanyakan objektivitas dan keadilannya, maka silahkan lihat siapa yang berwenang membuat aturan itu. Jangan serta-merta dikatakan ada kepentingan organisasi ekstra kampus di dalamnya, karena belum tentu yang berwenang di lembaga legislatif juga merupakan kader organisasi ekstra dan melakukan rekayasa. Kemudian juga silahkan lihat langsung ke dalam konten aturan, jika ada yang janggal, maka silahkan komunikasikan dengan yang berwenang membuat aturan. Sederhana sebenarnya.
                Terakhir, saya benar-benar miris ketika isu organisasi ekstra kampus dan kepentingan selalu diangkat pada momen-momen pemira. Yang kasihan adalah rekan-rekan yang dikenai tuduhan ini-itu, namun tak ada bukti, hanya berdasar asumsi dan prasangka. Kesan yang muncul adalah isu organisasi ekstra sengaja diangkat untuk menyudutkan salah satu pihak dan mendiskreditkan mereka. Seakan-akan kalau dia adalah kader organisasi ekstra, maka segala hal tentangnya seperti selalu ada kepentingan dan konspirasi. Zhalim ini namanya.
                Sekadar sharing saja, sempat terjadi diskusi tentang sambutan yang saya sampaikan untuk membuka acara yang notabene itu adalah program dari organisasi yang saya pimpin. Dikatakan di dalamnya ada pencitraan. Sehingga ada panitia atau partisipan (bukan pengurus) yang menolak jika saya memberi kata sambutan. Saya hanya miris, sangat tidak cerdas, apalagi predikatnya mahasiswa. Saya sarankan, sebagai pemuda yang terpelajar kita harus belajar lebih banyak lagi tentang apa yang kita sebut dengan respect.
                Maka, yuk, mari bersikap dewasa! Organisasi ekstra itu di luar kampus. Tidak ada hubungannya dengan lembaga internal kampus sehingga perlu dibawa-bawa ke dalam, apalagi dengan tujuan menyudutkan. Saya kira kita sepakat, semua mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tak ada masalah jika sama-sama menjunjung tinggi dan mengakkan aturan yang berlaku.
                Bicara kontribusi, semua punya hak yang sama. Maka jangan dibedakan. Diskusi dan perdebatan yang muncul sepantasnya bukan lagi bicara masalah organisasi ekstra atau golongan/kelompok, tapi tentang seberapa besar dan luar biasa ide dan gagasan yang dibawa, seberapa baik kapabilitas dan kapasitas yang dimiliki, dan seberapa yakin impian dan harapan itu akan terwujud.
                Sederhana sebenarnya jika semua mampu berpikir dan bertindak dewasa. Kalau kampus tidak mencetak kita sebagai orang yang rasional dan dewasa, maka dua kemungkinannya: kampusnya gagal atau kita yang stagnan.


Salam hangat untuk setiap niat baik dan hati yang bersih.
Tetap tersenyum, meski malam masih panjang. Yakin siang ‘kan datang.
Tembalang, 5 Desember 2013
01.58 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Sabtu, 23 November 2013

CAHAYA tetaplah CAHAYA *repost tulisan seorang adik yang hebat


Ini tulisan dari adik saya bernama Abdur Rozak Kodarif, Bandung. Saya baru sadar, ternyata kami yang sama-sama anak dari kampung ini, juga sama-sama terobsesi dengan cahaya. Sila kunjungi blognya disini.
      Para bintang sedang berkumpul dalam persidangan dan saling berselisih faham dalam persidangan tentang siapa yang akan menerangi bumi. Setiap bintang ber-argumentasi mengungkapkan kelebihannya dan kemampuannya. Namun, hanya satu bintang yang tetap tenang dan diam dalam perselisisihan, ia adalah matahari. Sang matahari tetap kokoh dalam posisinya dan tidak ikut dalam perselisihan itu, ia hanya memperhatikan teman - temannya sembari tersenyum.      Lalu salah satu bintang yang bernama bintang biru bertanya pada matahari “ Hai matahari kenapa kau hanya diam saja ? Disini sedang bersidang untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan kedudukan agung untuk menerangi bumi tapi kau hanya diam saja dari tadi sembari tersenyum – senyum tidak jelas.”      Lalu sang matahari menjawab sembari tersenyum “ Aku tidak merasa harus berselisih tentang ini sahabatku.”     Merasa geram bintang birupun menanggapi dengan ketus “ Jika kau tidak peduli silahkan keluar dan dengan itu berarti kau tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh tempat yang agung itu.”      Lalu sang matahari tersenyum dan memegang tangan sang bintang biru. Dalam senyuman itu ia menatap erat si biru lalu berkata “ Jika kau dan mereka ingin mendapatkan kedudukan itu maka perjuangkanlah kawan, aku tidak menginginkan kedudukan itu tapi yang harus kalian pahami, menjadi cahaya bukan tentang kita berkedudukan dimana, tapi menjadi cahaya adalah seberapa guna kita menerangi dan menentramkan sesuatu dalam keadaan gelap gulita dan menghangatkan dalam keadaan dingin.”      Semua bintangpun sontak terdiam mendengar perkataan matahari kepada bintang biru. Lalu mereka sadar tentang tugasnya sebagai bintang yaitu sebagai sumber cahaya yang mempunyai tugas mulia menjadi penerang kehidupan tak peduli ia dimana ditempatkannya, cahaya tetaplah cahaya. Akhirnya persidangan diakhiri dengan penobatan matahari sebagai penerang bumi. Namun, matahari mengajukan permintaan kepada para bintang yang lain untuk mengajak sahabatnya bulan untuk menemaninya.      Para bintangpun terheran – heran dengan permintaan matahari lalu bertanya “ Mengapa kau harus mengajak bulan ? dia bukanlah bintang seperti kita ia hanyalah pemantul cahaya, jika kau takut tidak bisa menerangi semua sisi maka ajaklah salah satu dari kami agar kami dapat membantu dalam menerangi bumi.”     Mataharipun menjawab “ Apa yang kalian katakan adalah benar sahabatku, tapi aku tidak ingin penduduk bumi justru merasa silau dan akhirnya tidak bisa melihat karena terkena cahayaku terus menerus. Dan aku tidak ingin rasa hangat yang aku berikan menjadi rasa panas yang membakar karena terus – menerus mereka rasakan . Biarkanlah mereka merasakan keteduhan dalam hari – hari mereka agar mereka tidak terlena dengan adanya cahayaku yang menyinarinya terus lalu membuat mereka menjadi buta dan tak tahu arah. Bukankah tugas kita sebagai cahaya ialah menjadi penunjuk arah bagi mereka sahabatku ?”     Para bintangpun semakin takjub dengan kebijaksanaan sang matahari. Akhirnya sidangpun diakhiri dan pergilah matahari dan bulan untuk bersama menerangi bumi. Matahari sebagai sumber cahaya utama dan bulan sebagai pemantul cahaya sang matahari agar para penduduk merasakan kedamaian dalam gelapnya.       Lalu dari cerita diatas apa yang bisa kita ambil sahabatku ? Penulis ingin mengatakan bahwa pemimpin itu adalah cahaya diantara rakyatnya dan seorang pemimpin tidak akan memaksakan kehendaknya untuk menjadi pemimpin. Tapi, ia akan membiarkan sesuatu menjadi pemantul cahanyanya agar rakyatnya dapat merasakan ketentraman.

20.30 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Jumat, 22 November 2013

Maka Saksikanlah! *hanya meluapkan rasa


         Dan benar menggenggam bara api itu tetaplah panas. Sebaik apapun kita memegangnya, tetaplah panas. Apalagi ketika memutuskan untuk turun tangan dan ikut berperan. Semakin banyak caci dan prasangka menyasar. Kadang sering dalam hati mengeluh, “Aku lelah, Yaa Allah.” Tapi kembali keluh itu hapus oleh kalam-Mu yang menjadi inspirasi mottoku “Bergerak atau tergantikan”.
         Pernah juga terpikir, kata caci apa yang pernah lisan ini keluarkan, keputusan apa yang pernah dibuat dengan landasan tendensi yang menyimpang dari keadilan dan kebenaran. Sampai diri ini berani bersaksi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Hingga mengapa masih ada maki yang suka menyapa.
         Tapi barangkali karena mereka semua peduli dan memerhati, tapi dengan cara yang berbeda. Dan pada akhirnya aku mengerti mengapa Kau menjadikannya pada peringkat pertama dari orang-orang yang Engkau berikan naungan pada hari tidak ada naungan selain naungan-Mu. Pemimpin yang adil. Ternyata begitu berat. Tak pantas dicari. Hanya bisa jadi obsesi. Bukan ambisi. Sambil terus isi kapasitas dan kualitas diri. Karena visinya buka predikat sebagai pemimpin, tapi sebagai manusia yang Kau pilih jadi peringkat pertama beroleh naungan-Mu pada hari dimana tak ada naungan selain naungan-Mu.
         Do’a kami,
Yaa Muqallibalqulub tsabbit qalbi ‘aladdinik.
Jadikanlah pada niat kami  keikhlasan, bukan karena perhiasan, atau karena kemilau ciptaan-Mu.
Jadikanlah pada perilaku kami kesahajaan dan keteladanan.
Jadikanlah pada tekad kami kesabaran untuk menetapi jalan-Mu.
Jadikanlah pada awal, tengah, dan akhir usia kami keridhaan-Mu.
Jadikanlah pada hati, wajah, perkataan, dan perbuatan kami, cahaya-Mu.
Jadikanlah benar, bahwa akhirat di hati kami, dan dunia dalam genggaman tangan kami.
Lindungi kami dari segala nifaq.
Sesungguhnya kami terlampau zhalim dan Engkau Maha Pengampun. Kami terlampau bodoh untuk banyak prasangka dan Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang nyata dan tersembunyi.
Aamiin.
         Tulisan ini bukan untai kata gombal. Jika kau yang membaca merasa begitu, maka tak usah dibaca. Jika tidak, maka bantu kami untuk mengamini.

Abu Hurairah ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجَلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنَّى أخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأخفَاهَا حتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَلِيْلً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. 
Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan arasyNya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya. Pemimpin yand adil; pemuda yang masanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; 2 lelaki yang berkasih sayang dan bertemu dan berpisah kerana Allah SWT; lelaki yang digoda oleh perempuan cantik dan berpengaruh untuk melakukan maksiat tetapi dia menolak dengan mengatakan Aku Takutkan Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehinggakan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT.” (HR. Muslim)

Tembalang, 22 November 2013.
#Senyum ini masih ingin tersimpul hingga mati. Agar tak tergantikan kecuali ajal menjemput.

22.53 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Minggu, 03 November 2013

Segenggam semangat untuk Mas Dwi

Jenak-jenak waktu yang kita tuliskan cerita di atasnya
Biarkan ia bercerita, tentang masa yang tak terlupa
Bahwa hati ini menyatu, lewat ide, karya, dan inspirasi
Bahwa berani bermimpi, berani berkarya, dan berani menginspirasi
Itu yang utama.

Kawan, tunggu kami di depan sana. Di gerbang kesuksesan.
Lalu kita berjibaku lagi dalam karya dan inspirasi yang lebih besar.
Untuk Indonesia.
Insyaallah.

               Wah baru dapet kesempatan sekarang buat nulis ini. Terharu dan bersyukur banget kemaren sudah ada dari fungsio BEM FT KM Undip yang wisuda. Beliau namanya M. Dwi Khoirun Adhim, Diploma III Teknik Kimia angkatan 2010. Mas Dwi juga jadi litbang BEM FT KM Undip, untuk Departemen Kebijakan Publik.
                Tulisan ini ingin menyampaikan rasa bahagia yang sama, dan ucapan selamat teriring do’a semoga di fase hidup yang baru ini dimudahkan segala langkahnya dan diberkahi. Masih inget dulu awal tahun saya sama Bang Heri meminang Mas Dwi untuk berkarya bersama di BEM FT KM Undip. Alhamdulillah dapat respon yang positif banget dari Mas Dwi.

                Kita kumpul-kumpul, ngobrol bareng, ketawa bareng, sedih bareng, evaluasi bareng, banyaklah yang udah kila lakuin. Semoga menjadi amal jariyah. Ga kerasa ya waktu cepat sekali berputar. Mas Dwi sudah wisuda. (Saya menyusul segera insyaallah J hehe).

                Lewat tulisan ini saya juga ingin meyampaikan terimakasih yang banyaknya tak hingga atas setiap ide, karya, dan inspirasi, yang sudah Mas Dwi berikan satu tahun terakhir ini. Mas Dwi sudah jadi bagian penting dalam hidup saya dan keluarga di BEM FT Undip tahun ini. Berat rasanya melepas. Bukan karena periode kepengurusan yang tersisa dua bulan ini. Bukan. Tapi karena kekeluargaan yang sudah kita bangun. Tapi karena cerita tentang karya dan inspirasi yang kita tuliskan.
                Mas Dwi, meski sudah wisuda, jarak mungkin memisah, tapi tetap Mas Dwi adalah bagian dari keluarga BEM FT KM Undip 2013. Sampai kapan pun. Kekeluargaan ini abadi. Aamiin. J

                Barakallahu fik, Mas Dwi.
Senyumnya bahagia sekali. Jadi ikutan bahagia. :)

17.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 2