TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Sabtu, 11 April 2015

Hujan Malam Hari

Ketika hujan turun di pertengahan malam, dan senyap buyar sejenak. Ini rahmat yang mengucur dari langit, mengguyuri bumi malu-malu. Sepertinya baru saja hujan hampir deras. Sekarang tersisa titik-titik gerimis. Kaukah itu, Sayang, turun bersama hujan dari kahyangan, membawa sejuk merasuk dalam jiwa yang kepanasan?
Rinai hujan masih terdengar, meski lamat-lamat ia seperti malas-malas untuk jatuh berdebam ramai-ramai ke atas bumi sekitarku. Kaukah itu, Sayang, perasaan tenteram menjalari gundah-gulana yang sudah lama menghantam?
Malam kemarin langit cerah secerah harapan kita. Tidak ada satupun awan menghalangi pandangan. Bintang-gemintang tersebar rata sepenjuru langit. Berkedip sedikit genit kepada kita, kita yang dinaungi langit yang sama. Kaukah itu, Sayang, keindahan yang disertai malam lengkap dengan bulan yang penuh purnamanya?
Kata-kata mengalir begitu derasnya. Apalagi rasa yang tak lagi bisa dibendung. Menanyai angin, apa mimpi dalam tidurmu sekarang? Ingin rasanya aku menelusup lembut seperti angin berbisik, lalu masuk dalam mimpimu. Dan kita jumpa. Seperti perjumpaan kekasih yang lama tak bertemu. Padahal kita dekat.
Andai malam ada matahari. Kalau hujan begini, aku ingin melihat pelangi. Tapi matahari hanya menemaniku dua belas jam sehari.
Sayang, maukah kau menjadi matahari dalam setiap waktuku, agar saat hujan malam hari aku bisa melihat pelangi?
Semarang
00.48 11-4-15
00.58 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 08 Mei 2014

Relativitas Langit

Jika aku menggantungkannya di langit,
aku takut tanganku tak akan sampai.
Sebab aku dan langit berada pada jarak yang cenderung konstan.
Lalu aku gantungkan pada-Mu saja, Tuhan.
Meski Kau jauh di atas langit sana, jarakku dengan-Mu cenderung berubah-ubah.
Sehingga setiap hari aku harus selalu datang mendekat kepada-Mu.
01.37 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Buah kebaikan dan buah keburukan.

Percaya gak kalau kebaikan itu buahnya juga kebaikan, sementara keburukan (dosa) itu buahnya minimal adalah terhalangnya kebaikan yang lain? Bayangin, dengan berbuat kebaikan, kita jadi punya semangat dan rasa percaya diri untuk terus kontinyu dan melakukan akselerasi kebaikan-kebaikan lain. Tapi jika ada keburukan yang dilakukan, maka akan muncul perasaan bersalah, sebab kita tahu itu buruk. Kemudian kita merasa tertahan untuk melakukan kebaikan lain sebab keburukan yang lalu telah jadi beban. Lalu jika keburukan itu tetap kontinyu, maka akan muncul rasa tak percaya diri dan perasaan tak pantas untuk lakukan kebaikan yang lain atau lakukan akselerasi kebaikan.
Maka jika ini terjadi dan kita menyadarinya, lakukanlah lompatan! Lupakan masa lalu, tatap masa depan apa yang kita ingin capai, kemudian kita berlari dengan akselerasi semakin besar untuk lakukan kebaikan dan perbaikan! Stop merasa tidak pantas! Kamu yang sekarang adalah kamu yang baru.
00.49 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 25 April 2014

Ah...

Mencemburui masa lalu
Menanyai tiap detik berliku
Mencari jawab pada dinding-dinding membisu
Meneriaki rasa hati terpedaya candu
Mengirim mata-mata pada cerita lama
Jelas lawanku prasasti terukir
Dan kini aku berkongsi dengan secuil nyali
Tak peduli
Masa bodoh
Aku tahu aku bodoh
Hanya aku, hanya aku, Manis,
diam didekap rasa membuncah
hanya aku, Manis,
tertawa sembunyi cinta
hanya aku, Manis,
merintih menahan rasa
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Hanya aku, menyumpahi diri sendiri
Plak! Plak! Plak!
Hanya aku, menampari pipi si bodoh ini
Bukan aku tak tau apa harus dilaku,
Hanya saja hati butuh tempat melepas rindu
Jadilah kata-kata bodoh ini, dan
anggap saja aku tak tahu kau dimana
aku kehilanganmu
bahagialah disana
Aku punya Dia. Suatu saat nanti.
Ah... Rupanya hanya kata penyamar rasa
tersipu malu di sudut waktu
menikmati sensasi yang bukan fantasi

Selamat datang, Pagi!
03.33 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Selasa, 22 April 2014

Progresif!

Padahal kita yang selalu bertekad untuk jauh dari kejumudan (kebekuan akal). Bahkan dalam tiap deklarasi dan do’a selalu disampaikan. Kadang dinamika yang ada membuat kita tenggelam dalam satu stagnasi yang susah dimengerti.
Kadang kalau tak kuat-kuat menahan nafsu, bisa juga kita tergoda dengan segala rayuan setan. Bukan cuma rayuan berbuat dosa. Tapi rayuan untuk malas berbuat kebaikan, sekecil apapun. Rayuan untuk malas melakukan kerja-kerja kecil yang baik dan membaikkan. Rasa malas menjadi musuh bersama.
Seringnya kalau kita coba telisik, kepuasan kadang mengantar kita pada zona nyaman. Hingga akhirnya kita jadi merasa tak perlu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Begini-begini saja tanpa kita sadari. Kita terjebak pada kata biasa yang menghalangi kita dari luar biasa.
Sebenarnya sudah lekat dalam ingatan seuntai kata mulia garis hidup para nabi bahwa hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini hendaknya. Maknanya adalah apapun kondisinya tetaplah harus memiliki visi yang dalam dan jauh ke depan, serta diikuti dengan kerja-kerja yang progresif. Tak luntur semangat oleh derasnya hujan dan teriknya matahari, atau hanya sekedar cuaca yang biasa-biasa saja. Kita harus tetap menjadi pendaki yang pelaut yang tangguh dan pendaki yang mantap pijakannya.
Lemah, tak boleh lemah! Lelah, tak boleh menyerah. Jika tak bersusah payah, apa namanya? Manja! Bukan tekad baja namanya. Lalu buat apa kita ada jika hanya begini-begini saja dan mudah kalah?
Karena kita tercipta spesial, maka renungilah bahwa hidup yang sekali di dunia harus dijadikan berarti! Jelas disini berlaku hubungan sebab akibat. Untuk mencapai kecemerlangan, ada harga yang harus dibayar. Relatif. Jika murah, bisa jadi hanya dapat permata imitasi. Jika mahal, jelas didapat yang intan permata yang berkelas. Harga ini yang kita namakan perjuangan dan pengorbanan.
Akumulasi dari terkurasnya tenaga, pikiran, waktu, dan materi, inilah yang menjadi harga berbanding lurus dengan keberhasilan. Mau berhasil? Sungguh-sungguh dan bersusah-payahlah! Meski berderai air mata, bersimbah peluh, beribu luka, lihatlah gerbang kemenangan telah menganga di depan sana!
“Kita yang menganggap orang lain terlalu keras usahanya, atau kita yang sebenarnya kurang optimal?” -ICS
02.40 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Jumat, 18 April 2014

Kisah Adik Kecil yang Tak Biasa

Hanya ingin berkisah tentang yang tak biasa.
Pada suatu siang tepat saat matahari berada di atas kepala, seorang lelaki baru saja mendapat rezeki. Ia bergegas pulang, mengejar waktu untuk bisa menunaikan shalat zuhur di masjid kampungnya.
Siang itu matahari sangat terik, membakar tanpa ampun permukaan. Lampu merah menyala. Sang lelaki berhenti di barisan paling depan sebelum garis marka, tepat di sisi tiang lampu merah.
Di tiang lampu merah itu tampak seorang anak lelaki, perkiraan usianya belum sampai usia sekolah. Masih kecil. Duduk bersandar pada tiang lampu merah. Kulitnya hitam dengan baju kedodoran yang memudar. Seperti kelelahan setelah setengah hari menodong untuk barang sedikit saja berbagi rejeki kepada mobil-mobil yang bagus itu yang bahkan ia belum pernah naiki. Lima ratus, alhamdulillah. Seribu rupiah, senang. Lima ribu rupiah, senang bukan kepalang.
Lelaki yang juga lelah ini memerhatikan dengan seksama, menerawang pada banyak sudut pandang. Seperti otomatis, tiba-tiba saja tangannya merogoh saku bajunya, mengeluarkan amplop putih.
“Adek, rumahnya dimana? Ini buat kamu. Kasih ke Ibu kalian, ya.” Sambil menyodorkan amplop putih berisi lembaran uang bergambar dua proklamator negara ini.
Ternyata meski telah tiada, dua bapak bangsa ini masih ramah menyapa anak negeri yang terlantar.
“Jauh, Om. Apa ini, Om?” timpal anak lelaki tersebut.
“Ini uang buat kalian, tapi dikasih ke Ibu, ya.”
“Uang apa ini, Om? Enggak mau, ah, Om. Nanti enggak laku.”
Sang lelaki terkejut dengan jawaban dan ekspresi anak tersebut. Bukan mereka menolak. Tapi mereka tak pernah melihat uang yang begini. Disangka tak laku. Tak pernah. Tak biasa.
***
Hening.

Masih 60 detik lagi sebelum lampu hijau menyala.
"Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara." (Pasal 34 (1) UUD 1945)
10.57 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 10 April 2014

Euforia Pemilu, Pencerdasan Politik Terabaikan

                Adalah hal yang sangat penting ketika kita menyoroti semakin besarnya persentase masyarakat yang memilih golput pada pemilu 5 tahunan di negara ini. Pada pemilu 1999 tercatat 10% yang tidak menggunakan hak pilihnya. Pemilu 2004 meningkat dua kali lipatnya sebesar 23,34%. Dan terakhir pada pemilu 2009 juga meningkat dua kali lipatnya sebanyak 40%. Inilah yang dituturkan Gamawan Fauzi yang saya kutip dari salah satu portal berita online.
                Dalam diskusi Ungkap Caleg (3/4) yang diadakan BEM KM Undip, Bapak Susilo Utomo, panelis, memaparkan data yang menunjukkan mayoritas masyarakat menentukan pilihannya karena faktor figuritas dan uang. Yang paling santer diberitakan media, itulah yang dipilih masyarakat. Tidak peduli setidak rasional apapun. Yang paling getol memberi uang saweran atau serangan fajar, dialah yang dipilih.
                Semua sepakat bahwa Indonesia jika benar ingin sejahtera dan menjadi negara adidaya, negara ini harus dipimpin oleh seorang yang mumpuni, memiliki visi dan gagasan pasti, serta teruji. Demokrasi yang kita anut memberi ruang semacam kompetisi untuk menjadi pemimpin negeri ini. Ini yang sedang kita hadapi di depan mata tepat, Pemilu. Di depan sana sudah banyak orang mengantri dan menjajaki diri untuk memimpin negeri ini.
                Salah satu fungsi partai politik adalah melakukan sosialisasi politik yang akan membentuk sikap dan orientasi politik masyarakat. Dengan kata lain partai politik juga memiliki tanggung jawab melaksanakan pencerdasan politik. Hanya saja hal ini belum banyak dilakukan karena banyak partai politik yang disibukkan dengan urusan pemilihan umum dan menyelesaikan konflik internal. Partai politik juga belum mampu memberi suri tauladan bagi perilaku politik yang etis dan sesuai dengan nilai budaya bangsa yang bermartabat.
                Dan pada gilirannya masyarakat jadi bulan-bulanan. Terjadi kegamangan di tengah masyarakat. Yang selalu jadi makanan bagi masyarakat adalah berita-berita negatif dunia politik negeri ini sehingga banyak kekecewaan muncul. Wajar jika semakin banyak yang apatis.
Belum lagi sangat marak politik pencitraan akhir-akhir ini. Lewat media-media yang dikuasai oleh satu atau beberapa orang, sangat mudah mencitrakan pihak-pihak yang memiliki ambisi untuk menguasai negeri ini. Yang paling laku adalah sosok spesial yang ‘suka blusukan’ dan turun langsung ke tengah masyarakat. Hal ini jelas terjadi sebab masyarakat sangat merindukan pemimpin seperti ini. Pencitraan jelas boleh, tapi kalau berlebihan dan mengenyampingkan sisi rasionalitas rasanya ini sudah masuk ke dalam kategori pembohongan publik.
Masyarakat kita secara umum, tertutama kalangan menengah ke bawah, masih terlalu lugu untuk bisa menyaring segala informasi yang masuk. Maka, jadilah semua ditelan mentah-mentah dan gampang disetir wacananya. Skarang lembaga survei semakin marak dan berjamuran. Tentunya ini lahan yang sangat komersial, apalagi jelang pemilu. Tanpa mengurangi kesantunan saya kepada semua lembaga survei, saya katakan disini amat besar peluang terjadinya penyelewengan data sehingga lagi-lagi sangat mudah menyetir wacana. Dan kita sangat mafhum bahwa negara ini meyakini bahwa kekuasaan di negara ini dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka, apa jadinya jika rakyat yang merupakan penguasa sah negara ini sangat mudah dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu?
Kembali pada bahasan sebelumnya bahwa pencerdasan politik ini penting agar masyarakat tidak jadi bola yang mudah digiring kemana pun perginya. Masyarakat harus mengerti tentang kondisi riil hari ini. Masyarakat harus mampu memilah dan memilih secara rasional di antara pilihan yang ada. Jangan sampai terbutakan hanya karena wacana media.
Pada kasus pemilu ini masyarakat hendaknya mampu melihat mana pemimpin yang memang siap sebagai pemimpin, lengkap dengan gagasannya. Bukan sekadar pencitraan lewat blusukan. Sebab blusukan bukanlah prestasi, tapi sekadar kebiasaan baik yang amat jarang. Hendaknya pula masyarakat mampu melihat mana pihak-pihak yang bersih dan profesional dalam mengemban tugasnya.
Ketika kondisi hari ini seperti penjabaran di atas dimana partai politik amat acuh dengan pencerdasan masyarakat dan terkesan memanfaatkan keluguan masyarakat, serta media telah kehilangan porsinya sebagai media netral lewat pencitraan lebay-nya, maka pencerdasan politik menjadi tanggung jawab siapa?

Tulisan ini hendak memaksa pemerintah, parpol, dan media, melakukan pencerdasan politik yang mencerdaskan. Lebih dari itu tulisan ini ingin mengetuk hati dan menggerak rasionalitas kita untuk mampu melakukan satu dua hal demi terwujudnya masyarakat yang cerdas dalam menentukan pilihan. Tidak disetir figuritas terlalu dalam dan uang sepeser. 
02.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Minggu, 23 Maret 2014

Tekan Tombol F5 untuk Gerakan Aku Cinta Undip!

Pernah dengar Gerakan Aku Cinta Undip? Pertama, saya ulas sedikit sejarahnya. Pada tahun 2011 lalu dicetuskan Gerakan Aku Cinta Undip sebagai manifestasi dari cinta dan semangat civitas akademika membangun almamater. Gerakan ini lahir dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada almamater tanpa dibatasi sekat apapun, yang pada muaranya adalah semangat berjuang, berkorban, memajukan Universitas Diponegoro.
Awalnya gerakan ini dirancang dengan 3 fase gerakan: penyadaran dan implementasi (2011), dan pengembangan (2012). Tulisan ini bukan untuk memberi justifikasi tentang Gerakan Aku Cinta Undip yang hari ini sedikit mandek, tentu hal ini perlu jadi catatan. Tulisan ini membawa semangat untuk merevitalisasi gerakan ini ke dalam bentuk yang relevan untuk hari ini dan beberapa tahun mendatang.
Karena cinta, rela lakukan apa saja
Kiasan ini yang nampaknya jadi jiwa paling kuat dari Gerakan Aku Cinta Undip. Cinta Undip berarti rela lakukan apa saja untuk kemajuan Undip. Rasa cintalah yang menjadi ruh dari apapun perjuangan dan kontribusi kita membangun almamater. Rasa cinta pula yang menjadi sumber energi kita berjibaku bersimbah peluh dalam persembahkan kado terindah untuk almamater. Sederhananya, karena cinta kemudian lahir rasa memiliki, bangga, dan semangat untuk berkorban demi yang dicinta.
Pun kita mengerti bahwa cinta jadi bahan bakar dalam setiap kerja-kerja yang kongkrit, dari yang ringan sampai yang berat. Dan kita lebih mengerti bahwa cinta adalah penawar dari pahit dan getirnya perjuangan, bahkan cinta menyulap semuanya jadi manis. Inilah substansi yang ditawarkan Gerakan Aku Cinta Undip. Dari sini kita sangat berharap kelak akan lahir Diponegoro Muda-Diponegoro Muda yang gagah berlaga memajukan almamater lewat apapun passionnya.
Gelar Diponegoro
Nama ini adalah pemberian dari Presiden Soekarno pada 9 Januari 1960. Kita harusnya bangga dengan nama besar Diponegoro yang disematkan pada nama kampus kita. Siapa yang tidak tahu sepak terjang pahlawan nasional yang satu ini? Pangeran Diponegoro sangat dikenal dengan karakter yang kuat prinsipnya, dekat dengan rakyatnya, berani dalam melawan kelaliman, paling tangguh dalam tiap perjuangan. Dalam kaitannya dengan Gerakan Aku Cinta Undip, hal inilah yang menginspirasi kita untuk segera mengokohkan rasa cinta pada almamater.
Sejatinya cinta, ia datang tanpa perlu pretense
Salah kalau cinta muncul karena dipaksa. Justru cinta muncul tanpa butuh banyak alasan. Tak perlu dibuat-buat. Juga tak benar jika cinta ada hanya meminta. Justru cinta menegaskan banyak memberi. Maka, inilah yang harus kita sepakati. Hendaknya Cinta Undip sudah muncul sejak nama kita pertama kali terpampang di pengumuman lolos seleksi masuk. Cinta yang otomatis. Bukan karena dipaksa ‘senior’ atau dipaksa ‘rektor’. Jika iya, maka itu hanya terpaksa. Jadi, yuk coba kembali kita murnikan cinta kita, cinta yang tanpa paksa, tanpa beban.
Karena cinta, warna-warna jadi pelangi
Di Undip banyak organisasi, komunitas, paguyuban, dan club yang macam-macam coraknya. Masing-masing punya budaya dan alur kaderisasi sendiri-sendiri. Ini potensi yang harus terus kita olah dan kembangkan. Akan tetapi seringnya proses pengkaderan yang ada secara tak sengaja memberi porsi lebih banyak pada cinta kepada organisasi atau komunitas masing-masing. Rasa cinta Undip kian tertutupi, bahkan terkikis. Yang pada gilirannya akan muncul fanatisme berlebih dan muncul banyak jurang-jurang pemisah. Lebih ngeri lagi adalah ego yang menyeruak tak beraturan dan berpotensi menimbulkan konflik.
Lewat Gerakan Aku Cinta Undip kita hanya ingin merefresh cinta kita di kampus ini. Cinta yang saling melandasi dan menguatkan. Sehingga ada pola hubungan yang konstruktif dari setiap entitas yang ada. Karena kita adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro.
Menanti rektor baru yang juga cinta Undip
Gerakan Aku Cinta Undip sangat selaras dengan visi Undip. Gerakan Aku Cinta Undip lahir untuk menyokong visi, misi, dan milestone yang telah Undip rencanakan. Maka, jelas ini bukan hanya menjadi gawean mahasiswa. Seluruh civitas akademika harus terhagemoni oleh Gerakan Aku CInta Undip. Dan kita berharap banyak pada pemilihan rektor nanti. Disini akan ditentukan seperti apa wajah dan tubuh Undip empat tahun ke depan. Kita jelas berharap para calon rektor memiliki gagasan yang kongkrit dan support yang kuat untuk membangun dan mengembangkan Gerakan Aku Cinta Undip. Ya, kita nantikan saja.
Akhirnya, 2014 ini adalah momentumnya. Momentum saat cinta dan gerakannya kita revitalisasi. Gerakan Aku Cinta Undip kali ini bukan hanya milik BEM KM Undip, atau BEM Fakultas, atau organisasi saja, akan tetapi milik seluruh mahasiswa dan civitas akademika yang ada. Kalau dulu gerakan ini masih berkutat pada sosialisasi dan penggunaan simbol, kali ini kita akan kongkritkan lagi dalam kerja-kerja nyata yang mengedepankan kolaborasi. Siapapun bebas berekspresi sesuai passionnya dalam mengaktualisasikan rasa cinta kepada almamater.
“Kita ingin Undip bahagia dengan prestasi, kerja, dan karya. Kita ingin semua tersenyum, meletakkan cinta pada almamater dan Indonesia.” (Diponegoro Muda)
07.50 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Kamis, 05 Desember 2013

Curahan Hati, Momen Akhir Tahun dan Tahunan

                Politik kampus, kok kesannya serem ya? Selalu saja saat Pemira menjelang isu yang diangkat adalah kepentingan yang dibawa organisasi ekstra yang juga turut serta. Hingga muncullah rekan-rekan yang mengaku independen. Dan bertebaranlah opini tentang kepentingan organisasi ekstra kampus yang begini dan begitu.
                Organisasi ekstra kampus adalah realitas dan entitas yang tidak bisa dielakkan dari kampus itu sendiri. Yang aneh adalah muncul bahasan bahwa organisasi ekstra kampus harus dihapuskan atau dilarang. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah siapa yang berhak melarang? Sebab dalam UUD ’45 jelas diatur kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, yang menjadi hak semua warga Negara.
                Kemudian yang menjadi realita adalah bahwa organisasi ekstra kampus juga turut serta berpartisipasi dalam pemilihan raya atau dalam pemilihan pemimpin sebuah lembaga. Perlu digaris bawahi, bukan organisasi ekstra yang turut serta secara kelembagaannya, tapi kader-kadernya yang juga sebagai kader lembaga internal yang turut serta. Adakah yang tau bahwa ada organisasi ekstra yang memiliki visi untuk melahirkan kader-kader pemimpin? Maka wajar jika rekan-rekan kader organisasi ekstra memiliki motivasi dan wawasan lebih dalam hal kepemimpinan. Apakah salah? Tentu tidak.
                Politik nilai atau politik kekuasaan? Tentu ini kembali kepada masing-masing. Yang saya alami dan amati adalah lebih banyak diskusi tentang nilai-nilai yang dibawa dan dijunjung tinggi daripada diskusi untuk memenangkan sebuah pemira. Bahkan dalam rapat tim sukses pun, dibuka dengan tilawah dan taushiyah (nasehat) yang menjadi pengingat dan pelurus niat.
                Saya sempat mengelus dada ketika melihat sebagian orang bicara tentang politik dinasti di kampus. Istilah politik dinasti sepertinya memang sedang digandrungi. Tapi mahasiswa harusnya cerdas dalam beropini. Kalau yang disebut politik dinasti itu ketika pemimpin lembaga internal kampus yang terpilih seringnya atau bahkan hampir selalu merupakan kader organisasi ekstra, maka saya katakan pernyataan ini tidak rasional. Sebab semua pasti paham bahwa biasanya yang disebut politik dinasti itu karena hubungan darah atau kerabat. Kalau estafet kepemimpinan masih bergilir pada mahasiswa yang merupakan kader internal sekaligus eksternal, maka jangan salahkan organisasi ekstra kampus mana pun. Semua harus paham bahwa di kampus kita masih menjunjung tinggi aturan dan mekanisme yang sah. Semua memiliki kesempatan yang sama. Selagi memiliki kapasitas dan gagasan, dan sesuai aturan/mekanisme yang berlaku, maka tak ada masalah. Dan pertanyaan yang harusnya muncul adalah apakah hanya kader organisasi ekstra kampus saja yang memiliki motivasi, wawasan, dan kapabilitas di atas rata-rata?
                Ketika aturan dipertanyakan objektivitas dan keadilannya, maka silahkan lihat siapa yang berwenang membuat aturan itu. Jangan serta-merta dikatakan ada kepentingan organisasi ekstra kampus di dalamnya, karena belum tentu yang berwenang di lembaga legislatif juga merupakan kader organisasi ekstra dan melakukan rekayasa. Kemudian juga silahkan lihat langsung ke dalam konten aturan, jika ada yang janggal, maka silahkan komunikasikan dengan yang berwenang membuat aturan. Sederhana sebenarnya.
                Terakhir, saya benar-benar miris ketika isu organisasi ekstra kampus dan kepentingan selalu diangkat pada momen-momen pemira. Yang kasihan adalah rekan-rekan yang dikenai tuduhan ini-itu, namun tak ada bukti, hanya berdasar asumsi dan prasangka. Kesan yang muncul adalah isu organisasi ekstra sengaja diangkat untuk menyudutkan salah satu pihak dan mendiskreditkan mereka. Seakan-akan kalau dia adalah kader organisasi ekstra, maka segala hal tentangnya seperti selalu ada kepentingan dan konspirasi. Zhalim ini namanya.
                Sekadar sharing saja, sempat terjadi diskusi tentang sambutan yang saya sampaikan untuk membuka acara yang notabene itu adalah program dari organisasi yang saya pimpin. Dikatakan di dalamnya ada pencitraan. Sehingga ada panitia atau partisipan (bukan pengurus) yang menolak jika saya memberi kata sambutan. Saya hanya miris, sangat tidak cerdas, apalagi predikatnya mahasiswa. Saya sarankan, sebagai pemuda yang terpelajar kita harus belajar lebih banyak lagi tentang apa yang kita sebut dengan respect.
                Maka, yuk, mari bersikap dewasa! Organisasi ekstra itu di luar kampus. Tidak ada hubungannya dengan lembaga internal kampus sehingga perlu dibawa-bawa ke dalam, apalagi dengan tujuan menyudutkan. Saya kira kita sepakat, semua mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tak ada masalah jika sama-sama menjunjung tinggi dan mengakkan aturan yang berlaku.
                Bicara kontribusi, semua punya hak yang sama. Maka jangan dibedakan. Diskusi dan perdebatan yang muncul sepantasnya bukan lagi bicara masalah organisasi ekstra atau golongan/kelompok, tapi tentang seberapa besar dan luar biasa ide dan gagasan yang dibawa, seberapa baik kapabilitas dan kapasitas yang dimiliki, dan seberapa yakin impian dan harapan itu akan terwujud.
                Sederhana sebenarnya jika semua mampu berpikir dan bertindak dewasa. Kalau kampus tidak mencetak kita sebagai orang yang rasional dan dewasa, maka dua kemungkinannya: kampusnya gagal atau kita yang stagnan.


Salam hangat untuk setiap niat baik dan hati yang bersih.
Tetap tersenyum, meski malam masih panjang. Yakin siang ‘kan datang.
Tembalang, 5 Desember 2013
01.58 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Sabtu, 23 November 2013

CAHAYA tetaplah CAHAYA *repost tulisan seorang adik yang hebat


Ini tulisan dari adik saya bernama Abdur Rozak Kodarif, Bandung. Saya baru sadar, ternyata kami yang sama-sama anak dari kampung ini, juga sama-sama terobsesi dengan cahaya. Sila kunjungi blognya disini.
      Para bintang sedang berkumpul dalam persidangan dan saling berselisih faham dalam persidangan tentang siapa yang akan menerangi bumi. Setiap bintang ber-argumentasi mengungkapkan kelebihannya dan kemampuannya. Namun, hanya satu bintang yang tetap tenang dan diam dalam perselisisihan, ia adalah matahari. Sang matahari tetap kokoh dalam posisinya dan tidak ikut dalam perselisihan itu, ia hanya memperhatikan teman - temannya sembari tersenyum.      Lalu salah satu bintang yang bernama bintang biru bertanya pada matahari “ Hai matahari kenapa kau hanya diam saja ? Disini sedang bersidang untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan kedudukan agung untuk menerangi bumi tapi kau hanya diam saja dari tadi sembari tersenyum – senyum tidak jelas.”      Lalu sang matahari menjawab sembari tersenyum “ Aku tidak merasa harus berselisih tentang ini sahabatku.”     Merasa geram bintang birupun menanggapi dengan ketus “ Jika kau tidak peduli silahkan keluar dan dengan itu berarti kau tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh tempat yang agung itu.”      Lalu sang matahari tersenyum dan memegang tangan sang bintang biru. Dalam senyuman itu ia menatap erat si biru lalu berkata “ Jika kau dan mereka ingin mendapatkan kedudukan itu maka perjuangkanlah kawan, aku tidak menginginkan kedudukan itu tapi yang harus kalian pahami, menjadi cahaya bukan tentang kita berkedudukan dimana, tapi menjadi cahaya adalah seberapa guna kita menerangi dan menentramkan sesuatu dalam keadaan gelap gulita dan menghangatkan dalam keadaan dingin.”      Semua bintangpun sontak terdiam mendengar perkataan matahari kepada bintang biru. Lalu mereka sadar tentang tugasnya sebagai bintang yaitu sebagai sumber cahaya yang mempunyai tugas mulia menjadi penerang kehidupan tak peduli ia dimana ditempatkannya, cahaya tetaplah cahaya. Akhirnya persidangan diakhiri dengan penobatan matahari sebagai penerang bumi. Namun, matahari mengajukan permintaan kepada para bintang yang lain untuk mengajak sahabatnya bulan untuk menemaninya.      Para bintangpun terheran – heran dengan permintaan matahari lalu bertanya “ Mengapa kau harus mengajak bulan ? dia bukanlah bintang seperti kita ia hanyalah pemantul cahaya, jika kau takut tidak bisa menerangi semua sisi maka ajaklah salah satu dari kami agar kami dapat membantu dalam menerangi bumi.”     Mataharipun menjawab “ Apa yang kalian katakan adalah benar sahabatku, tapi aku tidak ingin penduduk bumi justru merasa silau dan akhirnya tidak bisa melihat karena terkena cahayaku terus menerus. Dan aku tidak ingin rasa hangat yang aku berikan menjadi rasa panas yang membakar karena terus – menerus mereka rasakan . Biarkanlah mereka merasakan keteduhan dalam hari – hari mereka agar mereka tidak terlena dengan adanya cahayaku yang menyinarinya terus lalu membuat mereka menjadi buta dan tak tahu arah. Bukankah tugas kita sebagai cahaya ialah menjadi penunjuk arah bagi mereka sahabatku ?”     Para bintangpun semakin takjub dengan kebijaksanaan sang matahari. Akhirnya sidangpun diakhiri dan pergilah matahari dan bulan untuk bersama menerangi bumi. Matahari sebagai sumber cahaya utama dan bulan sebagai pemantul cahaya sang matahari agar para penduduk merasakan kedamaian dalam gelapnya.       Lalu dari cerita diatas apa yang bisa kita ambil sahabatku ? Penulis ingin mengatakan bahwa pemimpin itu adalah cahaya diantara rakyatnya dan seorang pemimpin tidak akan memaksakan kehendaknya untuk menjadi pemimpin. Tapi, ia akan membiarkan sesuatu menjadi pemantul cahanyanya agar rakyatnya dapat merasakan ketentraman.

20.30 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Jumat, 22 November 2013

Maka Saksikanlah! *hanya meluapkan rasa


         Dan benar menggenggam bara api itu tetaplah panas. Sebaik apapun kita memegangnya, tetaplah panas. Apalagi ketika memutuskan untuk turun tangan dan ikut berperan. Semakin banyak caci dan prasangka menyasar. Kadang sering dalam hati mengeluh, “Aku lelah, Yaa Allah.” Tapi kembali keluh itu hapus oleh kalam-Mu yang menjadi inspirasi mottoku “Bergerak atau tergantikan”.
         Pernah juga terpikir, kata caci apa yang pernah lisan ini keluarkan, keputusan apa yang pernah dibuat dengan landasan tendensi yang menyimpang dari keadilan dan kebenaran. Sampai diri ini berani bersaksi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Hingga mengapa masih ada maki yang suka menyapa.
         Tapi barangkali karena mereka semua peduli dan memerhati, tapi dengan cara yang berbeda. Dan pada akhirnya aku mengerti mengapa Kau menjadikannya pada peringkat pertama dari orang-orang yang Engkau berikan naungan pada hari tidak ada naungan selain naungan-Mu. Pemimpin yang adil. Ternyata begitu berat. Tak pantas dicari. Hanya bisa jadi obsesi. Bukan ambisi. Sambil terus isi kapasitas dan kualitas diri. Karena visinya buka predikat sebagai pemimpin, tapi sebagai manusia yang Kau pilih jadi peringkat pertama beroleh naungan-Mu pada hari dimana tak ada naungan selain naungan-Mu.
         Do’a kami,
Yaa Muqallibalqulub tsabbit qalbi ‘aladdinik.
Jadikanlah pada niat kami  keikhlasan, bukan karena perhiasan, atau karena kemilau ciptaan-Mu.
Jadikanlah pada perilaku kami kesahajaan dan keteladanan.
Jadikanlah pada tekad kami kesabaran untuk menetapi jalan-Mu.
Jadikanlah pada awal, tengah, dan akhir usia kami keridhaan-Mu.
Jadikanlah pada hati, wajah, perkataan, dan perbuatan kami, cahaya-Mu.
Jadikanlah benar, bahwa akhirat di hati kami, dan dunia dalam genggaman tangan kami.
Lindungi kami dari segala nifaq.
Sesungguhnya kami terlampau zhalim dan Engkau Maha Pengampun. Kami terlampau bodoh untuk banyak prasangka dan Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang nyata dan tersembunyi.
Aamiin.
         Tulisan ini bukan untai kata gombal. Jika kau yang membaca merasa begitu, maka tak usah dibaca. Jika tidak, maka bantu kami untuk mengamini.

Abu Hurairah ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجَلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنَّى أخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأخفَاهَا حتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَلِيْلً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. 
”Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan arasyNya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya. Pemimpin yand adil; pemuda yang masanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; 2 lelaki yang berkasih sayang dan bertemu dan berpisah kerana Allah SWT; lelaki yang digoda oleh perempuan cantik dan berpengaruh untuk melakukan maksiat tetapi dia menolak dengan mengatakan Aku Takutkan Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehinggakan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT.” (HR. Muslim)

Tembalang, 22 November 2013.
#Senyum ini masih ingin tersimpul hingga mati. Agar tak tergantikan kecuali ajal menjemput.

22.53 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Minggu, 03 November 2013

Segenggam semangat untuk Mas Dwi

Jenak-jenak waktu yang kita tuliskan cerita di atasnya
Biarkan ia bercerita, tentang masa yang tak terlupa
Bahwa hati ini menyatu, lewat ide, karya, dan inspirasi
Bahwa berani bermimpi, berani berkarya, dan berani menginspirasi
Itu yang utama.

Kawan, tunggu kami di depan sana. Di gerbang kesuksesan.
Lalu kita berjibaku lagi dalam karya dan inspirasi yang lebih besar.
Untuk Indonesia.
Insyaallah.

               Wah baru dapet kesempatan sekarang buat nulis ini. Terharu dan bersyukur banget kemaren sudah ada dari fungsio BEM FT KM Undip yang wisuda. Beliau namanya M. Dwi Khoirun Adhim, Diploma III Teknik Kimia angkatan 2010. Mas Dwi juga jadi litbang BEM FT KM Undip, untuk Departemen Kebijakan Publik.
                Tulisan ini ingin menyampaikan rasa bahagia yang sama, dan ucapan selamat teriring do’a semoga di fase hidup yang baru ini dimudahkan segala langkahnya dan diberkahi. Masih inget dulu awal tahun saya sama Bang Heri meminang Mas Dwi untuk berkarya bersama di BEM FT KM Undip. Alhamdulillah dapat respon yang positif banget dari Mas Dwi.

                Kita kumpul-kumpul, ngobrol bareng, ketawa bareng, sedih bareng, evaluasi bareng, banyaklah yang udah kila lakuin. Semoga menjadi amal jariyah. Ga kerasa ya waktu cepat sekali berputar. Mas Dwi sudah wisuda. (Saya menyusul segera insyaallah J hehe).

                Lewat tulisan ini saya juga ingin meyampaikan terimakasih yang banyaknya tak hingga atas setiap ide, karya, dan inspirasi, yang sudah Mas Dwi berikan satu tahun terakhir ini. Mas Dwi sudah jadi bagian penting dalam hidup saya dan keluarga di BEM FT Undip tahun ini. Berat rasanya melepas. Bukan karena periode kepengurusan yang tersisa dua bulan ini. Bukan. Tapi karena kekeluargaan yang sudah kita bangun. Tapi karena cerita tentang karya dan inspirasi yang kita tuliskan.
                Mas Dwi, meski sudah wisuda, jarak mungkin memisah, tapi tetap Mas Dwi adalah bagian dari keluarga BEM FT KM Undip 2013. Sampai kapan pun. Kekeluargaan ini abadi. Aamiin. J

                Barakallahu fik, Mas Dwi.
Senyumnya bahagia sekali. Jadi ikutan bahagia. :)

17.17 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 2

Minggu, 27 Oktober 2013

Mau Jadi Bintang, Kunang-kunang, Apa Black Hole? *tulisan di dinding kamar

Ceritanya saya lagi ga bisa tidur. Kangen rumah, banyak masalah, banyak amanah, kepala pengen pecah, uneg-uneg pengen tumpah. Malam ini saya kepikiran sesuatu. Tentang bagaimana kita memandang hidup dan diri kita. Tentang bagaimana kita punya tujuan akan masa depan kita. Intinya kita mau bagaimana dan jadi apa.
Judul tulisan saya ini “Mau jadi black hole, kunang-kunang, apa bintang?” maksudnya apa, sih? Ini cuma renungan saya saja. Kalau ada baiknya bisa kita ambil dan simpan dalam kepala, lalu terapkan lewat raga.

Mertuanya Ali bin Abi Thalib ra pernah berwasiat. Eh, tau ga siapa mertua Ali? *hehe. Beliaulah Rasullullah, Muhammad SAW. Wasiatnya begini *catet*, Khairukun Afa’ahum Linnas, Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat kepada sesama. Kira-kira begitu. Maaf kalau transliterasi Arab-Latin sama terjemahannya kurang pas, maklum, Cuma setahun belajar bahasa Arab di SMA. Baru kenal ‘huwa’, ‘huma’, ‘hunna’, ‘hum’, doing, sih.
Ini kaitannya dengan visi yang kita bawa dalam hidup kita. Bukan berarti pas kita lahir dari Rahim ibu kita *jebret* terus kita sampein visi-misi kayak orang kampanye, bukan. Tapi selayaknya, untuk bisa dibilang kita hidup sebener-bener hidup, kita harus punya sesuatu yang diyakini, dipegang dalam hidup, jadi prinsip, yang otomatis itu semua juga perlu tujuan.

Bicara manfaat, jelas kita sepakat, bahwa orang paling baik itu ya yang paling bermanfaat. Nah, pertanyaannya sekarang tujuan hidup kita sama manfaat diri kita sudah sinkron belum, sih? Sudah bener-bener punya dan jadi tujuan belum, sih? Sejauh dan sekuat apa tujuan kita? Jawabnya ada pada hati dan karya-karya kita. Monggo dijawab.

Lihat bintang. Matahari salah satunya. Anak SD juga tau. Dengan solar cell, energi matahari bisa jadi listrik. Matahari jadi sumber energi di bumi. Fotosintesis *duh, hampir lupa sama kata ini, 3 tahun lebih ga ngejamah Biologi tercinta* ambil energi dari matahari. Singkat cerita matahari dan bintang ini punya manfaat besar sekali. Menggerakkan kehidupan, menginspirasi gerak-gerak kehidupan. Nah, mau jadi bintang? Manfaatnya besar banget. Dia juga tampak tepat di atas kepala manusia seluruh dunia. Bahkan berbagi keindahan lewat lidah apinya di kutub utara dan selatan berupa aurora yang memesona. Tapi dia ga kufur, ga sombong, ga songong. Dia tetap melaksanakan titah Tuhannya. Berputar, reaksi fusi, gerak semu, dan lain-lain.

Lihat juga kunang-kunang. Ilmu kunang-kunang ini saya ambil dari keluarga Forum Indonesia Muda. Bangga bisa jadi bagian dari FIM *J*. Untuk bermanfaat, ga harus jadi bintang atau matahari yang selalu tampak, bahkan sangat besar di mata manusia. Jadi ada namanya pahlawan di jalan sunyi. Itulah kunang-kunang. Bercahaya, menerangi, tapi tak banyak orang tau. Justru keikhlasannya di sini lebih terjaga. Pengen deh jadi kunang-kunang. Mau?

Tapi jangan seneng dulu. Perkenalkan, ada yang namanya Black Hole atau lubang hitam di langit sana. Katanya sih bintang mati, terus jadi hitam dan menyedot segala yang ada di sekitarnya. Ngeri kali. Artinya kalau kita analogikan, bukannya memberi, tapi malah meminta, bahkan memaksa *menyedot*. Bukan cahaya, eh malah gelap. Kamu mau jadi seperti black hole? Na’udzubillahi min dzalik.
Ya, bisa jadi bahan renungan untuk kita semua. Kita mau seberapa manfaat diri kita. Mau jadi seperti bintang, kunang-kunang, apa black hole?
*tulisan ini dibuat bukan untuk mengingkari manfaat yang pasti ada dari black hole, karena Allah menciptakan sesuatu itu pasti ada tujuan dan manfaatnya. Maaf ya, black hole.

Tembalang, 27 Oktober 2013.
02.55 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Rabu, 23 Oktober 2013

Ada yang menarik dari tweetnya @udayusuf (*


@udayusuf? Saya cukup kenal dengan beliau. Di tahun pertama saya jadi mahasiswa beliau pernah datang ke Undip. Saya pernah berbincang dengan beliau. Bahkan waktu itu saya juga dikasih buku tulisan beliau. Hehe
Beliau beberapa waktu yang silam adalah Presiden Mahasiswa KM ITB. Setahun kemarin beliau adalah sekjen PPI Belanda. Yang penasaran, bisa lihat video beliau disini http://www.youtube.com/watch?v=Pl7zUd1iZPg.

Ada hal yang menarik nih temen-temen, terkhusus untuk anak-anak BEM. Perlu dan patut jadi renungan. Bahkan bukan sekadar renungan, tapi juga cambuk untuk berubah dan terus bergerak. Beliau dalam tweetnya mengkritik BEM ITB. Tapi secara umum hampir sama sepertinya dimana-mana. Ada nilai yang berubah dan hilang.

Sebelum saya kutipkan tweet beliau, ada hikmah yang bisa kita ambil dari sini. Bahwa BEM harusnya bukan lagi sekadar fokus pada pelayanan. Tapi juga gerakan. Kalau hanya pelayanan kan sudah ada HM. Kalau bicara pelayanan, jelas ga ada habisnya. Malah saya sekarang bertanya-tanya, pelayanan kongkrit apa sih seharusnya? Bukankah yang sudah kita lakukan selama ini sudah pelayanan? Dan memang seperti itulah. Jangan ciut dan melemah hanya karena kerja-kerja kita kurang diapresiasi dan lebih banyak kritik. Karena memang sudah lumrahnya begitu. Justru dengan kritik itu kita bisa lebih cepat berbenah. Kita jawab kritik itu dengan kerja.

Ga akan ada habisnya kalau bicara pelayanan. Sebab semua orang jelas ingin dilayani dengan sempurna, tanpa cela. Jelas, langkah kita masih dan terus mengarah kesana. Tapi ada satu titik kritis yang harus segera kita benahi. Tentang gerakan kita sebagai BEM. Salah satu yang saya amati adalah, pisau kita begitu tumpul dengan yang namanya kebijakan, baik kampus, daerah, dan nasional. Ga melulu ngomongin politik. Ngomongin sosial juga. Ngomongin pesan-pesan dan nilai-nilai yang kita bawa untuk disebarluaskan dan membangun opini khalayak juga.

So, ke depan, buat pengurus tahun depan, buat anak-anak BEM tahun ini, buat semua yang peduli dengan BEM, ga harus anak BEM. Ini bisa jadi renungan dan cambuk untuk bergerak.

  • saya dengar mereka cuma duduk duduk aja refleksi gitu di kampus. itu mah bisa tiap malam dilakukan. alasannya sih 'pencerdasan' dan UTS. ah!

  • dulu saya ada kali 30an kali aksi selama setahun di keluarga mahasiswa itb. anan-anak sekarang males ya turun ke jalan.

  • generasi berubah. zaman berubah. pola aktivitas pun juga berubah.

  • pait ya kalau BEM udah cem EO aja. mau gimana masa depan Indonesia hehe

  • kalau BEM cuma jadi EO, ganti aja namanya jadi Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK). nah itu lebih cocok lah.

  • karena pemimpinnya mungkin terlalu banyak bergaul sama generasi tua. jadi deh sok sokan berhati-hati dan gak mau main di jalan

  • emang sih almamater jadi wangi kalau di pakai untuk hadiri acara, makan malam, atau sekedar acara menanam pohon di pinggir jalan

  • nah tapi kan mahasiswa perlu mikir juga apa sih pola pergerakan yang hanya cocok dan bisa dilakukan oleh mahasiswa. ya lakukan itu aja

  • jadi gerakan mahasiswa itu setidaknya meliputi dua hal :sosial dan politik. lainnya? itu cuma pelengkap. strategi untuk menghimpun massa aja

  • lalu gimana dengan urusan IPK dan penelitian?itu mah emang kewajiban jd mahasiswa.gak perlu pakai BEM hehe.udah sewajarnya mahasiswa belajar

  • emang kalau ngurus sosial politik , IPK mahasiswa jd jeblok. tengok tuh bang @FaldoMaldini si tukang nutup stasiun aja bisa ke UK S2

  • liat juga tuh si akang @rihandaulah yg kerjaan bikin release demo, orasi dengan toa.. eh sekarang terdampar di TU Delft. pinter kan doi

  • jadi , gak ada korelasinya antara mahasiswa peduli bangsa dengan IPK. tidak terbukti mitos itu hehe

  • udah #bubarinBEM aja lah . . kalau cuma bisa jadi EO. sewa aja EO profesional , dan mahasiswa cukup jd peserta. gak perlu buang2 waktu

  • kita lihat lah perkembangan beberapa pekan kedepan, kalau masih lembam. kita buat gerakan #BubarinBEM ajalah.

  • udah di bubarin aja semua BEM. udah lembam. ganti jadi OMIK (organisasi mahasiswa intra kampus) #BubarinBEM

  • mahasiswa jangan cuma duduk duduk aja di kelas dan nongkrong di lab. perbanyak tuh duduk diskusi bangsa, nulis yang banyak ttg Indonesia

  • mahasiswa tuh kurang apa sih, kampus nyaman, fasilitas lengkap. tinggal mikirin bangsa aja ribet bener. pake berkilah belum cerdas lah

  • udah #BubarinBEM aja lah. ngapain tiap tahun gontok2an karena calon presiden nya kalah. cuma buat jadi bos EO kampus doank hehe

  • coba deh , satu kampus, #BubarinBEM setahun aja. pasti gak ada dampaknya. sama aja buat kehidupan mahasiswa. kenapa? krn BEM emang lembam

  • karena kelas menengah ngehe makin banyak, BEMngehe juga makin banyak jadi nya deh hehe udah #BubarinBEM ajalah ya. semua kampus

  • tahun ini gw ngomong #BubarinBEM , jangan sampai 3 tahun lagi gw ngomong #BubarinPPI wkwkwk

  • sekarang gw mau tanya, apa manfaat BEM buat kamu ? ada gak? #BubarinBEM

  • itu mahasiswa sekarang kok gak keras yee. lembut bener sama pemerintah. jadilah pemerintahnya suka suka jidad kelola negeri.

  • world class university harusnya juga ada kriteria mahasiswa nya peduli akan isu sosial politik bangsa :-) hehe

  • Pengurus BEM cuma jadi budak proker aja #BubarinBEM

  • Pengurus BEM pengecut sama MPM/Kongres, takut di kasih memorandum dan dan diturunin. #BubarinBEM

  • gerakan BEM cuma ecek-ecek, basa-basi, gak berisi, jago bikin acara kayak anak SMA hobi buat Pensi. ckck #BubarinBEM

  • dulu aja kite-kite galak smaa pemerintah, pemerintahnya masih kacau. apalagi kaalu sekarang mahasiswa nya duduk manis hehe kasus lah yee

  • Pengurus BEM cuma demen bikin rancangan garis besar, rencana - rencana abstrak. tapi gak membumi dalam gerakan #BubarinBEM

  • kok pada kesel sama gw sih? kalau mau protes ya ke BEM masing-masing donk. elo pengurus BEM? coba refleksi deh. jgn esmosi getho

  • Gw ekstrim? kalau gw aja ekstrim berarti eloh belum kenal apa itu pergerakan. gw masih dikenal lembut padahal dalam bergerak hehe


Berbenah internal harus. Tapi jangan lupa eksternal. @udayusuf bilang jangan takut sama DPM/kongres mahasiswa. Jelas. Ga ada alasan untuk takut. Ga usah gusar hanya karena nilai LPJ. Ga usah gusar hanya karena LPJ diterima atau ditolak. Ga usah gusar bakal dibekuin atau enggak. Bukan itu point nya dari aktivitas kita di ormawa. Kita tau sendiri seperti apa lembaga legislatif di kampus kita. Pengawasan, terus LPJ. Sudah. Budgeting, terus ACC, pencairan. Sudah. Advokasi, begitu. Aspirasi, gitu juga. Nah, selain berbenah ke dalam BEM. Yuk kita bantu rekan kita juga. Minimal ada kritik dan saran yang juga kita berikan. Karena kita #BerkaryaMenginspirasi. #Berkarya apa saja, dimana saja, kapan saja. #Menginspirasi semua.

*buru-buru nulisnya, menjelang UTS melanda. haha
08.55 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Kamis, 17 Oktober 2013

Naive

Kalimat "politik itu kotor" terlalu naif. Sangat tipis perbedaannya antara peduli dan tak ingin peduli. Politik itu bisa kotor, bisa juga bersih. Sebagaimana sepakbola di negeri ini yang penuh kemelut. Saya pun begitu, enggan dekat-dekat dengan yang kotor. Yang bersih, itu yang kita inginkan. Tak akan terwujud tanpa usaha. Bergerak atau mati?
19.44 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Selasa, 17 September 2013

Damn! IPK damn!


     IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) mahasiswa merupakan parameter keerhasilan mahasiswa dalam dunia akademik di kampus. Parameter ini dapat memberikan gambaran bagaimana dia sudah menjalani mata kuliah yang sudah ditempuh. Sekarang ini, IPK demikian penting. Apalagi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, atau untuk mencari pekerjaan.
     Fenomena menarik yang saya ingin cuatkan dalam tulisan ini adalah bahwa IPK bukan segalanya, tapi IPK bisa jadi gerbang segalanya. Mengapa?
Contoh yang paling dekat dengan kita adalah saat melamar pekerjaan. Sebagian besar lowongan karyawan mencantumkan IPK minimal sebagai syarat administratif. Yaitu sebagai parameter awal untuk diterima atau tidaknya. Biasanya IPK>2.75 untuk karyawan biasa. Sedangkan di posisi yang lebih tinggi dan penting seperti Management Trainee (MT) IPK>3.00 karena mereka disiapkan untuk menduduki level management dan pimpinan. Contoh lain seperti beasiswa pendidikan juga sangat tergantung kepada IPK sebagai gerbang awal.
     Bukan berarti IPK kecil berarti bodoh dan tidak memiliki potensi apa-apa. Hanya saja sudah menjadi kesepakatan dan rahasia umum bahwa IPK menjadi parameter utama dan pertama dalam banyak hal. Status sebagai mahasiswa atau fresh graduates pastinya akan selalu dikaitkan dengan IPK-nya. Setidaknya itu menggambarkan kemampuan intelektual dan kesungguhannya.

IPK, penting atau ga penting?
    Jawabannya ada dua: penting dan tidak penting. Penting, karena IPK menjadi gerbang awal yang memberikan gambaran tentang kapasitas seseorang. Bicara IPK artinya juga bicara kapasitas. Jika IPK bagus, maka kapasitasnya diharapkan lebih bagus. Apalagi jika semasa kuliah adalah seorang aktivis sebuah organisasi. Maka sangat terlihat kapasitasnya yang besar. Jika seorang aktivis, tapi IPK di bawah standar, maka kapasitasnya masih diragukan. Jika bukan aktivis, dan IPK di bawah standar, maka kapasitasnya lebih diragukan lagi.
      Tidak penting, karena IPK hanya menjadi syarat administrative di awal segalanya. Setelah lewat tahap itu, maka IPK sudah tidak penting lagi. Setelah itu biasanya akan melihat banyak aspek untuk menilai. Pengalaman, track record, kepribadian, pemikiran, emosional, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, dan sebagainya.
        Penting dan tidak penting. These are the rules. 
        Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi besarnya IPK. Tapi di kantor-kantor dan lembaga yang profesional, tidak banyak toleransi. Semakin banyak toleransi, integritas yang dipertanyakan. Bahkan lebih cenderung perfeksionis, baik aturan dan kualifikasi, proses, dan hasil. Dan hari ini adalah hari dimana persaingan amat terbuka dan sengit, semua berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Akan terus begitu. Dan ini adalah tantangan yang harus ditaklukkan.
       Akhirnya, kepada para mahasiswa, jagalah IPK-mu! Jangan sampai suatu hari berteriak, “Damn! IPK damn!” Pepatah lama mengatakan:
“Semakin tinggi fase yang dilalui, syarat yang dipenuhi pun semakin banyak dan tinggi.”

02.11 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 1

Jumat, 13 September 2013

Junior yang kini dewasa

Senior, senior.
Kau begitu angkuh, hanya karena tahun kita berbeda.
Dan kau lebih tua.
Kau tak menyapa kalau tak disapa.
Kau mengamati, tapi kau diam. Menunggu ditanya baru menjawab.
Kau datang dengan vonis dan serapahmu. Justifikasimu buatku gamang.
Hanya kali ini, ya baru kali ini kau datang, tanpa basa-basi keluar semua isi perutmu.
Kau senior, bukan kakakku.
Karena kakak
akan datang tanpa dipanggil.
akan menasehati tanpa diminta.
Bukan tetiba datang, lalu muntah-muntah.

Untuk senior 5 pekan yang lalu.
15.02 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Senin, 02 September 2013

Terpaksa kami sebut birokrasi.

Bahkan pergeseran nilai tanpa ampun memaksa birokrasi untuk menutup mata dari kebaikan-kebaikan kaderisasi. Memaksa birokrasi menutup mata dari perbaikan-perbaikan yang terus dilakukan oleh pengurus lembaga kemahasiswaan. Memaksa birokrasi menutup mata dari realitas pembelajaran yang kuat dalam interaksi dan proses yang terjadi dalam organisasi. Pengalaman dan softskill didengung-dengungkan, tapi mahasiswa baru tak lebih dari sekadar diajak bermain seperti anak TK.
15.43 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Minggu, 18 Agustus 2013

World Must See and Do Something #R4BIA | Simbol Perlawanan

Berikut ini adalah gambar yang menjadi simbol perjuangan melawan tirani yang membantai ribuan orang di Mesir. Dan saya kembali dibuat kagum. Bahwa simbol ini mendunia. Ini menjadi simbol perjuangan dan perlawanan seluruh dunia.

Perdana Menteri, Erdogan, 'melaunching' simbol 4 jari sebagai simbol untuk mengenang markas demonstran Pro Mursi di Rabi'ah yang telah dibumi hanguskan oleh junta militer. Secara sederhana simbol 4 jari untuk menunjuk icon Rabi'ah (dalam bahasa Arab, Rabi'ah/arba'ah = Empat). Rab'ah (angka 4) dijadikan sebagai Simbol Keteguhan dann Perlawanan untuk seluruh dunia yang mencintai kebebasan. 

Simbol 4 jari dan hashtag #R4BIA ini sudah ramai dipakai oleh pengguna social media (twitter, fb) mulai Sabtu kemarin. #R4BIA menjadi simbol keteguhan, kekuatan, perlawanan dan persatuan. Rab'ah berarti 4, maka simbolnya jari angka 4.

Silahkan gambar ini diunduh, lalu digunakan sebagai display picture dari akun-akun sosial media.
World must see and do something. #R4BIA

Gambar di bawah menunjukkan simbol 4 jari #R4BIA yang dipakai untuk melawan kesewenang-wenangan tirani.

09.30 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0

Pagi, nikmat yang disegerakan.

Adzan sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Bersama teman kontrakan lekas keluar rumah setelah sebelumnya antree berwudhu. Pagi ini indah. Udaranya segar. Tembalang masih sepi. Maklum, hari ini belum genap dua minggu setelah lebaran. Bintang masih terlihat sedikit di langit. Lebih jelas daripada malam tadi ketika langit masih tertutup polusi. Pagi ini sedikitnya lebih bersih. Maka bintang lebih jernih untuk dipandangi.

Pagi. Menjadi nikmat yang disegerakan Allah untuk hamba-Nya setiap hari. Betapa tidak, pagi menjadi tolok ukur kebaikan pada suatu hari. Jika paginya baik, maka setelahnya akan ikut. Karena kita memahami bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan. Ketika kita menanam banyak hal-hal baik di pagi hari, maka siang dan malam di hari itu insyaallah akan memanen kebaikan.

Di masjid, memandangi wajah orang satu per satu. Bersih. Bersinar. Wajah-wajah di pagi hari bebas tekanan. Bisa jadi karena belum ada dosa yang diperbuat. Wajah-wajah itu berbinar, dengan balutan kesucian.

Shalat subuh usai. Di jalan dari masjid menuju kontrakan, sengaja memperlambat langkah. Di jalanan yang masih lengang, dengan berani mengambil bagian tengah jalan untuk dilalui. Jarang-jarang bisa sebebas ini menikmati bagian tengah jalan di siang dan malam hari. Sekali lagi udara semakin sejuk. Bintang-bintang masih ada. Sedikit. Tersamar oleh semburat cahaya dari Timur.

Suara begitu hening. Jernih untuk dinikmati dengan seksama karena belum ada polusi suara. Mesin kendaraan bermotor saja belum dipanasi.

Sampai di kontrakan, seorang teman menyetel mp3 murattal Syaikh Misyari Rashid Al-Afasy. Semakin sempurna saja kesan pagi ini. Al-Qur’an sudah memanggil-manggil. Tepatnya hati ini yang rindu untuk membacanya. Seperti sejuknya pagi ini, bacaan Al-Qur’an menjadi embun bagi hati-hati yang kering, menjadi penyejik jiwa yang meronta-ronta oleh kerasnya dunia.

Pagi adalah nikmat yang disegerakan. Pagi adalah pusaran energi setiap hari. Bersama fajar dan tegasnya mentari saat mendaki ke langit, pagi datang dengan kesahajaan dan sapanya yang ramah. Teringat, di kampung sana, pedagang sayuran di pasar tradisional sudah ramai kala pagi menjelang. Semangat ulet dan gigihnya membersamai pastinya mentari yang mendaki. Cerah harapannya secerah langit yang mulai merekah. Semoga sejahtera dan dilimpahi barakah.

Pagi adalah keajaiban, saat langit benar-benar terhubung dengan bumi. Seperti senja, saat amal-amal di angkat ke langit. Aku kagumi pagi dengan segala cerita di dalamnya.

 اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).”
08.09 Diposting oleh Taufik Aulia Rahmat 0