TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Sabtu, 06 Oktober 2012

Peran Kita yang Setia dengan Idealismenya


Peran yang Setia dengan Idealismenya
Oleh: Taufik Aulia Rahmat

Dunia kampus benar-benar memberi pemahaman yang sangat berbeda dibanding ketika dulu masih duduk di bangku sekolah. Pemahaman yang tidak lagi berkutat pada ‘aku’. Tapi pemahaman yang mulai peduli tentang ‘mereka’ dan ‘kita’ sebagai manusia dan bangsa. Pemahaman ini memberikan saya kesadaran tentang idealisme khas mahasiswa dan realitas yang kadang membuat idealisme tidak mampu berbicara banyak.
Idealisme khas mahasiswa yang saya maksud adalah sama seperti pemahaman dan keyakinan anak-anak muda generasi 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998, dimana mereka adalah orang yang bebas dan merdeka dalam berpikir, mengekspresikan ide dan gagasannya sebagai kaum intelektual. Dan menginginkan kemerdekaan dan kejayaan untuk bangsanya. Yang saya kagumi dari mereka adalah mereka orang-orang dengan kapasitas dan prestasi luar biasa, namun memiliki akar yang kuat, yang tetap menyerap sari-sari pati kehidupan dan kebaikan (grass root understanding but have world competence).
Idealisme tersebut mengakar kuat dalam jiwa dan muncul ke permukaan sebagai integritas dan kredibilitas yang tinggi sebagai anak bangsa. Idealisme ini selalu berlaku tanpa ada masa kadaluarsa, selalu diwariskan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan perubahan yang dinanti. Idealisme ini muncul tanpa dipaksa, murni dari dasar nurani dengan kesadaran tinggi dan kecintaan yang mendalam.
Tanpa perlu pretensi, setiap pemuda mewarisi idealisme ini dengan sepenuh hati. Idealisme yang menjiwai setiap perubahan. Idealisme yang mengajarkan turun ke jalan, bukan hanya sekadar demonstrasi dan orasi. Tapi aksi nyata membangun negeri berupa aksi kongkrit terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat tempat kita dibesarkan sebagai aktualisasi dari gelar kaum intelektual yang disandang. Idealisme ini mengajarkan keberanian dalam bertindak dan tanggung jawab bahwa masa kini dan masa depan negeri ini ada di tangan anak-anak muda.
Hingga sejarah bercerita kepada kita bahwa sejarah negeri ini adalah cerita anak-anak muda. Tahun 1908 menjadi momentum kebangkitan. Tahun 1928 menjadi momentum penyadaran tentang kesamaan(bukan perbedaan), persatuan, dan kesatuan. Tahun 1945 merupakan momentum yang dinanti dari perjuangan panjang untuk mengumandangkan kedaulatan di tanah sendiri. Tahun 1966 merupakan akhir dari PKI di Indonesia dan awal orde baru. Dan pada 1998 terjadi peristiwa besar yang menjadi momentum perantara kita menuju era sekarang.
Pada setiap momentum perubahan, pemuda terpelajar selalu ada di depan dan sangat penting perannya. Mereka menjadi inisiator sekaligus motor perubahan. Bahkan pada titik tertentu mereka menjadi katalisator yang memaksa dan memberi arah perubahan. Setiap jaman ada rijalnya.
Saya sadar betul bahwa rijal atau pemuda terpelajar di zaman ini salah satunya adalah saya. Berbeda ketika dulu di masa sebelum kuliah, saya adalah anak kecil ingusan yang fokus hidupnya hanya seputar ego dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Dan kini saya berada pada fase yang pernah dilalui orang-orang besar pengusung perubahan dulu, yakni mahasiswa.
Sebenarnya sudah sejak SMA saya dikenalkan dengan sesuatu bernama agent of change, iron stock, dan social control. Tapi ketika itu masih belum membekas dan hanya sekadar tahu saja. Dan sekarang saya hadir di lingkungan kampus yang mengajarkan banyak hal, termasuk idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa. Sepertinya saya benar-benar mewarisi idealisme tersebut.
Semakin kesini saya semakin sadar, idealisme warisan itu kini mendapat banyak tantangan seiring perkembangan zaman. Apa jadinya ketika idealisme tak sesuai realita atau realita tak sesuai idealisme?
Globalisasi yang menghantui
Saya sempat tertawa membaca ilustrasi di notes Facebook-nya Bang Ridwansyah Yusuf Achmad, Presiden KM ITB 2009-2010, tentang globalisasi. Seseorang sempat ditanya perihal globalisasi.
Pertanyaan : “Apakah contoh yang paling kongkrit dari Globalisasi?”
Jawaban : “Kematian Lady Diana.”
Penasaran : “Bagaimana bisa seperti itu?”
Jawaban : “Lady Diana adalah orang Inggris yang mempunyai pacar orang Mesir, mengalami kecelakaan di sebuah terowongan di Perancis saat mengendarai mobil buatan Jerman yang mesinnya berasal dari Belanda. Supirnya orang Belgia yang mabuk karena minum whiskey Skotlandia.
Saat terjadinya kecelakaan itu, Sang Putri sedang dikejar-kejar paparazzi asal Italia yang mengendarai sepeda motor buatan Jepang. Sebelum meninggal, Lady Diana dirawat oleh seorang doktor Amerika dengan obat-obatan yang diproduksi di Brazil. Dan tulisan ini mulanya dikirim oleh seorang Armenia menggunakan teknologi Bill Gate.
Ketika Anda sedang membaca tulisan ini kemungkinan menggunakan salah perangkat komputer atau handphone yg memakai chip buatan Taiwan dengan monitor buatan Korea yang dirakit buruh-buruh asal Filipina di sebuah pabrik di Singapura. Diangkut dengan kereta oleh orang India dan dibajak oleh orang Indonesia dan akhirnya dibeli oleh Anda.”
Nah, humor ilustrasi di atas mengambarkan betapa globalisasi seperti meniadakan batas antarnegara. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial tingkat dunia yang mempertemukan erbagai tempat (lokalitas) sedemikian rupa sehingga kejadia-kejadian yang terjadi di suatu daerah dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang berlangsung di tempat-tempat yang sangat jauh dan demikian pula sebaliknya [1].
Globalisasi mempengaruhi tiap aspek kehidupan. Dalam praktiknya arus informasi tiap detiknya dapat diakses kapan saja dan dimana saja, bahkan dalam perdagangan pun sudah diberlakukan kawasan perdagangan bebas (free trade area) yang bagi beberapa negara hal ini menjadi ancaman.
Sebuah konsekuensi logis yang tercipta dari globalisasi adalah jejaring kerjasama yang semakin lebar dan telah melewati batas geografis, etnis, agama, bahkan idealisme. Bagi Indonesia tampaknya hal ini masih menjadi ancaman. Kita semua menyaksikan banyak produk-produk luar negeri masuk ke pasar-pasar Indonesia. Mulai dari barang elektronik berwujud telepon seluler dilengkapi televisi hingga tusuk gigi pun diimpor. Masyarakat ekonomi di negeri ini seperti sangat sulit bersaing dengan produk-produk buatan Cina yang terkenal murah-meriah.
Sisi lain dari globalisasi adalah berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi. Siapapun bisa mengakses informasi yang terjadi di belahan bumi manapun. Berkembangnya jejaring sosial media pun membawa dampak yang luar biasa. Seseorang dapat menjadi sangat terkenal hanya dengan mengunggah video lipsing atau tarian caiyya caiyya ala Norman Kamaru. Bahkan revolusi Mesir hingga menumbangkan Husni Mubarrak tidak lepas dari peran jejaring sosial media.
Zaman sudah berubah, globalisasi memberi warna tersendiri bagi zaman ini dan orang-orangnya. Hadirnya globalisasi hari ini lebih seperti ancaman atau momok yang menakutkan. Semula globalisasi diharapkan mampu menjanjikan masa depan dunia yang lebih indah. Tapi kenyataannya dunia—termasuk Indonesia dipaksa untuk menerima bahwa sistim ekonomi yang paling produktif adalah sistim yang ramah pada pasar. Maka jadilah pasar Indonesia sebagai pasar dengan watak market-friendly. Kita dipaksa lupa bahwa pasar tak pernah punya nurani, seratus persen mencari profit tanpa mempertimbangkan apa pun juga. Bila kita cermati, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin cenderung makin menganga lebar. Di akhir dasawarsa 1990-an, 20 persen penduduk dunia yang hidup di negara maju menikmati 86 persen penghasilan dunia, sedangkan 20 persen paling bawah hanya mendapat 1 persen penghasilan dunia. Sekitar 1/6 penduduk dunia berpenghasilan kurang dari satu dolar sehari. [2].
Belum lagi di negeri ini terdapat banyak sekali korporasi-korporasi besar yang mencengkeram kencang tanah-tanahnya, bahkan sampai mencekik leher rakyat-rakyatnya. Korporasi-korporasi besar tersebut dengan mudah mendikte, bahkan kadang-kadang membeli pemerintah meloloskan keinginan mereka. Sebut saja Freeport yang sejak dahulu sudah mengobrak-abrik kesucian ibu pertiwi di Papua. Di sisi lain sumber daya alam kita terus saja dikeruk dan dihabisi. Menurut data British Petroleum Statistical Review, Indonesia hanya memiliki cadangan batubara sebesar 4,3 miliar ton atau 0,5 persen dari total cadangan batubara dunia menjadi pemasok utama batubara China yang memiliki cadangan batubara sebesar 114,5 miliar ton atau 13,9 persen dari total cadangan batubara dunia. Saat ini, Indonesia telah mengekspor 240 juta ton dari rata-rata produksi 340 juta ton per tahun. Di sektor migas, penguasaan cadangan migas juga masih didominasi oleh perusahaan asing. Dari total 225 blok yang dikelola kontraktor kontrak kerjasama non-Pertamina, 120 blok dioperasikan perusahaan asing, 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional, dan 77 blok sisanya dioperasikan oleh perusahaan gabungan asing dan lokal [3].
Globalisasi dapat menjadi ancaman juga sekaligus tantangan. Tergantung darimana sudut pandang kita melihat. Akan lebih baik jika kita memilih pendapat bahwa globalisasi adalah tantangan. Tantangan untuk lebih kreatif agar bisa survive dari serangan produk-produk luar negeri dan mampu bersaing di perdagangan internasional. Tantangan bagaimana pendidikan, riset, dan teknologi, kita mampu menyusul dan melampaui negara-negara maju. Tantangan untuk mampu menguasai teknologi informasi dan mengontrol masuknya nilai-nilai dari luar yang bisa mempengaruhi karakter anak-anak remaja khususnya dan masyarakat secara umum. Tantangan bagaimana membebaskan negara ini dari belenggu-belenggu asing atas penguasaan sumber dayanya.
Dengan demikian kita semua mafhum bahwa globalisasi yang terjadi dengan didukung perkembangan teknologi informasi dan komunikasi benar-benar membawa ekses yang besar bagi dunia. Ia bisa menjadi tantangan, tapi juga bisa menjadi ancaman bak momok yang menakutkan.
Konsolidasikan Gerakan Kita Segera
Kembali kepada idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa dengan realita kekinian yang menghadang di depan. Kemudian kita melihat globalisasi ini juga memiliki pengaruh yang demikian besar pula pada gerakan mahasiswa. Globalisasi juga menjadi tantangan bagi gerakan pemuda dan mahasiswa hari ini. Tapi seketika globalisasi bisa saja menjadi ancaman kala gerakan kita belum mampu membaca trend globalisasi dan masih terjebak pada romantisme masa lalu di jalanan. Globalisasi menuntut gerakan mahasiswa lebih terbuka, inovatif, dan dinamis agar dapat selalu mengikuti ritme perkembangan globalisasi. Memang menjadi sebuah dilema, apakah mahasiswa akan tetap bergerak dengan “gaya lama” yang bisa jadi selama ini telah menuai banyak sejarah romantis yang sulit dilupakan, ataukah mahasiswa bersedia mereposisi, dan merevitalisasi gerakannya agar dapat diterima dan bermanfaat untuk masyarakat. Kunci utama dari perubahan ini adalah: tetap dengan idealisme ala mahasiswa. Ini PR kita bersama.
Nah, berikutnya yang akan kita hadapi adalah mahasiswa itu sendiri. Perkembangan zaman juga telah mempengaruhi dan mengarahkan pola pikir mahasiswa terjebak dalam arus yang cenderung materialistis. Coba saja lakukan survei pada sebagian mahasiswa tentang apa tujuan mereka mencari ilmu di perguruan tinggi. Kebanyakan akan menjawab supaya mendapat pekerjaan yang layak, agar nanti dapat hidup dengan mapan dan nyaman. Tak ada yang salah. Hanya saja yang jelas tampak adalah mahasiswa amat terpikat dengan hal ini sehingga lupa dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Janganlah lupakan tanggung jawab dan idealisme ini!
Setelah idealisme warisan pusaka ini masih tetap terjaga dan terpelihara, selanjutnya gerakan mahasiswa harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan semua peluang dan fasilitas yang ada untuk mendukung idealismenya menjadikan negeri ini sebagai negeri mandiri dan sejahtera. Gerakan mahasiswa sangat diharapkan mampu menstimulus keinginan menyuarakan ide, gagasan, dan opini dari pikiran seseorang ke publik.
Zaman ini juga mengisyarakan bahwa gerakan mahasiswa sekarang tidak melulu adalah sekadar soal politik, kebijakan, dan kekuasaan. Tapi juga yang paling penting adalah menyiapkan diri kita sendiri untuk memberikan kontribusi nyata sesuai bidang-bidang yang ada ketika saatnya tiba kita memimpin.
Mahasiswa dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori minat dan potensi, yakni: aktivis, atlet, seniman, akademisi, dan entrepreneur. Bila setiap kategori ini mampu dibesarkan secara massif, maka potensi yang besar ini setidaknya melegakan kita sementara bahwa kita sudah siap untuk berkontribusi dan memimpin di segala bidang untuk membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Kita percaya Indonesia akan mandiri dan sejahtera manakala kelima potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik.
Jangan sampai gerakan mahasiswa tidak melibatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh mahasiswa yang ada. Karena salah satu tujuan keberadaan gerakan mahasiswa adalah untuk mengoptimalisasi dan mengsinergikan potensi. Bila gerakan mahasiswa hanya didominasi oleh sekelompok kecil mahasiswa yang menghegemoni, maka gerakan tersebut sangat dipertanyakan kredebilitas dan representasinya.
Tentu fokus kita tetap pada bagaimana Indonesia mampu benar-benar meraih kemerdekaannya secara riil sehingga kita bisa hidup mandiri dan sejahtera. Untuk bisa menjadi Indonesia yang mandiri dan sejahtera, ada beberapa parameter yang harus dipenuhi. Pertama, aspek ekonomi. Disini kita butuh sumber daya manusia yang unggul, teknologi tepat guna, dan kesejahteraan sosial.
Kedua, aspek politik. Merupakan hal yang penting dan perlu disegerakan adalah: kestabilan politik dalam dan luar negeri, pemimpin yang tidak terikat dengan rakyat, serta produk politik dan kebijakan poliik yang memakmurkan rakyat.
Ketiga, aspek sosial budaya. Bangsa kita menjadi bangsa yang berkarakter, pendidikan berkualitas dan terjangkau oleh semua kalangan, serta kualitas hidup yang layak.
Keempat, aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Kepercayaan diri untuk menggunakan dan memberikan teknologi buatan anak bangsa kepada masyarakat kita dan dunia, nilai tamah potensi kekayaan alam dan kompetensi kekayaan insani Indonesia, serta sinergisasi kebijakan IPTEK nasional
Di atas sudah dibahas tentang lima minat dan potensi yang harus dikembangkan secara massif untuk menyokong perubahan. Pada tataran berikutnya, dari kelima minat dan potensi ini kita mencoba menyarikan menjadi tiga kekuatan utama untuk membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera: akademisi, bisnis, dan pemerintah. Dan inilah yang disebut konsep Triple Helix yang merupakan konsep sinergi tiga kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi kondusif.
Konsep ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang dilirik asing. Kita berharap kita benar-benar mandiri. Manusia-manusia kita mampu mengolah dan menguasai sendiri sumber daya alamnya. Merancang dan membangun sendiri teknologinya. Mengeluarkan kebijakan yang memproteksi kepentingan rakyat dan sumber dayanya. Dan mampu memberikan sokongan dana serta memasarkan produk-produk dalam negeri secara efektif.
Menurut Global Competitiveness Report terkini, Indonesia duduk di peringkat ke-30 dari 142 negara, ditilik dari kapasitas inovasinya. Ini merupakan keunggulan komparatif yang tak bisa dipandang sebelah mata karena Indonesia bahkan mengungguli negara berekonomi lebih maju, seperti Spanyol di peringkat ke-36 dan Hongkong peringkat ke-39. Namun, ironisnya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia mencapai 1,2 juta orang (2012).
Kondisi ini menunjukkan bahwa belum ada padu padan (link and match) antara kampus dan pasar kerja. Dalam tataran ideal, kampus seharusnya menjadi motor penggerak penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar menghasilkan pencari kerja. Kita terpaksa harus mengakui, perguruan tinggi baru sebatas menjadi ”mesin” yang memproduksi sebanyak mungkin sarjana. Dan inilah yang juga menjadi tantangan kita selanjutnya [4].
Terakhir dalam tulisan ini, tentang peranku dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Secara sangat sadar bahwa saya adalah bagian yang tak terpisahkan dari gerakan anak-anak muda, gerakan dengan idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa yang memperjuangkan kebenaran atas nama rakyat Indonesia. Saya adalah bagian dari gerakan yang mulai meluaskan manuvernya pada sector-sektor vital untuk membangun negeri ini.
Agent of change, iron stock, dan social control, harus dimaknai dengan makna yang meluaskan peranannya. Mencoba mencari-cari peran saya dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera dengan melihat posisi dan amanah saya saat ini maka:
1.      Saya adalah pewaris idealisme yang menjadi semangat perubahan dan kejayaan tiap zamannya. Namun, saya harus jeli dalam melihat tantangan dan menangkap peluang sebab zaman terus berubah dan gerakan yang fleksibel dan adaptif sangat diperlukan.
2.      Saya memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab terhadap sejarah yang telah ditorehkan dan tanggung jawab terhadap masa depan yang akan diukir. Tanggung jawab tentang kesadaran diri dan penyadaraan orang-orang di sekitar saya.
3.      Saya bersyukur ditakdirkan menuntut ilmu di Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Peran saya adalah mengaktualisasikan keilmuan saya ini dan menjadi solusi atas banyaknya sarjana yang menganggur. Sejujurnya saya memiliki mimpi untuk membangun lembah yang akan mengkatalis tumbuhnya perusahaan-perusahaan bidang IT, seperti Stanford University dengan Silicon Valley-nya. Harapan saya adalah pengembangan IT ini mampu menjadi katalisator kemajuan di bidang-bidang lainnya.
4.      Amanah saya sebagai Kepala Departemen Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro mengharuskan saya untuk setia mengawal setiap kebijakan dan produk politik negeri ini sambil sesekali turun ke jalan. Teori Lord Acton mengingatkan saya bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, dan manusia dengan kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya (power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely) [5].

Referensi:
[1]       Rais. Amien, Agenda-agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia,Yogyakarta: PSSK, 2008.
[2]        Ibid.
[3]        Kompas, Rabu, 25 Mei 2011.
[4]       Bakrie. Anindya N, Triple Helix dan Percepatan Inovasi,” September 4, 2012, Available: http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11805.
[5]       X. Sultan Hamengku Buwono, Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, Jakarta: Gramedia, 2008.

0 komentar: