Mahasiswa Ideal
Hemmmmmm.... Sudah berapa kali ya saya gonta-ganti blog... Tak terhingga kayaknya... Kali ini saya mau post tulisan saya yang awalnya saya tulis untuk buletin di kampus, terus di blog-blog sebelumnya... Cekidooot yo!Mahasiswa. Bukan lagi sekadar siswa yang berseragam putih merah, putih biru, atau putih abu-abu. Telah dibumbui dengan penambahan ‘maha’ di awal. Ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang lebih pada diri mahasiswa. Tingkat pendidikannyakah? Tidak hanya itu. Mahasiswa berada pada tingkat usia yang dinilai telah mengalami pematangan pemikiran. Di usia-usia mahasiswa daya kritis mulai muncul. Mahasiswa juga dinilai sebagai kaum intelektual yang di atas selainnya. Usia mahasiswa adalah usia yang sangat produktif. Mereka memiliki ‘otak’ yang fresh, fisik yang kuat, dan idealisme. Akan produktif ketika mahasiswa itu sendiri dapat mengarahkan dan mengelola segenap potensinya beriring waktu yang terus berjalan. Ketika mereka mampu berpacu dengan waktu dalam mengoptimalkan produktifitasnya, jadilah mahasiswa dengan tiga perannya: agen perubahan, penjaga nilai, dan cadangan pemimpin masa depan. Jika kita melihat ke belakang, sebuah perubahan kerap bahkan selalu dimotori oleh kaum muda, katakanlah pada masa ini para mahasiswa. Sebuah tonggak sejarah baru Bangsa Indonesia pada tahun 1998 dimotori oleh para mahasiswa. Reformasi. Penataan Indonesia baru. Ya, yang memulainya adalah para pendahulu kita. Sejatinya beginilah mahasiswa seharusnya. Mahasiswa yang memiliki kepekaan sosial. Ada untuk kesejahteraan rakyat. Berorientasi untuk kemajuan dan kejayaan negeri. Akan tetapi kita melihat yang sering terjadi pada mahasiswa aktivis masa lalu adalah julukan ‘Nasakom’ yang disematkan pada mereka. Bukan ‘Nasakom’ Ideologi. Tapi Nasib Satu Koma. Beginilah adanya. Terlalu sibuk sampai-sampai akademik pun terkesampingkan. IP yang jeblok menjadi resiko yang dipilih. Ibarat peperangan, IP yang anjlok ibarat martir dalam peperangan. Dan hari ini saatnya berubah dan menyempurnakan peran mahasiswa! Ada yang mengatakan, “Hari ini aksi dan demonstrasi bukan zamannya. Akan tetapi inovasi dan kreativitas yang harus kita kembangkan.” Bukan seperti ini yang saya maksud. Kita tidak berubah dengan mengambil satu aspek kemudian membuang aspek lainnya. Semacam aksi atau demonstrasi itu harus tetap ada sebagai sarana kontrol birokrasi. Setidaknya mahasiswa tidak kehilangan kepekaan dan kepeduliannya terhadap realitas sosial. Tetap, negeri ini masih butuh mahasiswa yang idealis, sebab mahasiswa dinilai masih bersih dari berbagai kepentingan. Perubahan pada diri mahasiswa hari ini adalah dengan menyempurnakan perannya yang sempat hilang. Katakanlah mahasiswa zaman ini harus bagus nilainya. Akan tetapi yang terjadi hari ini adalah perubahan paradigma. Mahasiswa tidak menyempurnakan, melainkan mengambil satu aspek kemudian membuang aspek lain. Mereka mulai kehilangan kepekaan dan kepedulian sosialnya. Mereke lebih berorientasi pada besarnya IPK. Menjadi apatis. Ini tidak bisa dibenarkan. Seharusnya mahasiswa itu idealnya ialah mereka yang mampu memanajemen dirinya dengan baik. Aktivis iya. Akademik iya. Kritis iya. Inovatif dan kreatif iya. Pun akhlaknya juga iya.
0 komentar: