TERHANGAT

Selamat datang, Sobat! Jangan malu-malu untuk baca, komentar, dan share ya. Semoga coret-coretan ini bisa bermanfaat ya. Salam kenal. :)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya) dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Senin, 13 Februari 2012

#1


Malam ini aku baru berani menulis, menuliskan segala yang muncul dalam benakku. Setelah sekian lama aku bergerak, dan itu semua sekarang tinggal serpihan-serpihan sejarah terbalut waktu yang tak terekam. Padahal dalam pada itu banyak cerita-cerita yang luar bisaa, banyak pikiran-pikiranku yang ingin kusampaikan kepada dunia.
Aku sadar, banyak sekali yang terlewat untuk kutulis. Tapi apa salahnya jika aku memulainya kini. Aku harap goresan-goresan penaku dapat diambil manfaatnya oleh generasi setelahku. Adik-adikku, hingga anak-anak dan cucu-cucuku. Tak lebih. Siapa aku berani berharap lebih?
Februari 2012. Di ruang waktu ini aku berada sekarang. Tiga semester telah kulalui di almamaterku, Universitas Diponegoro. Dan setelah 20 tahun aku terlahir aku baru berani menggoreskan penaku. Tak apalah, daripada tidak sama sekali.
Malam ini, aku ingin menuliskan siapa aku. Satu hal yang utama seperti yang diajarkan ibu, ayah, dan guru-guruku, bahwa aku adalah hamba dari Allah yang menciptakan kehidupan ini.  Selalu, tidak akan pernah berhenti. Identitas sebagai hamba-Nya akan selalu tersemat dalam hati, lisan, dan tindakanku. Ini sumpahku.
Kemudian aku beralih pada sisi lain, jelas aku adalah anak dari dua insan yang ditakdirkan aku terlahir dari keduanya. Dari sel sperma dan sel telur ayah dan ibuku, yang dipertemukan-Nya. Tentang keduanya, maka merekalah orang tua terbaik yang pernah ada di bumi. Hadirnya mereka memberi makna dalam hidup dan kehidupanku. Banyak anak yang resah berkata, “Orang tuaku tak sempurna.” Ada kurangnya. Aku tak mengiyakan juga tak menyangkalnya. Aku hanya berkata, “Keduanya akan dan selalu mencintaimu dengan sempurna.”
Entah apa namanya, sebut saja status atau identitas. Statusku yang baru tiga semester kusandang adalah mahasiswa. Jujur aku bangga. Dan sejujurnya aku lebih nyaman jika disebut pemuda. Karena dengan demikian aku merasa menjadi satu dengan seluruh anak negeri, bahkan anak bumi. Sebab tak semua pemuda beruntung bisa duduk di bangku perguruan tinggi yang katanya dihuni orang intelek. Tapi sebenarnya kita tak butuh mahasiswa. Yang kita butuh adalah pemuda-pemuda terpelajar yang tak pernah berhenti dari geraknya untuk sebuah kejayaan. Yang tak hanya bisa duduk dan belajar kemudian beroleh IP tinggi lalu kemudian mencari kerja, dan kaya. Yang tak hanya bisa berpikir, rapat, dan teriak-teriak di jalanan. Tapi kita butuh pemuda dan mahasiswa yang peduli dan peka. Dengan dirinya, keluarga, kampus, masyarakat, bangsa dan negaranya, bahkan dunia. Dan bukan berarti unsur kecerdasan akademis dan leadership serta daya kritis tak kita butuhkan. Justru ini menjadi motor utama yang menjiwai identitas kita.
Aku muak. Dunia indahnya tak seperti surga, memang. Dan negeriku indahnya tak seperti lagu Koes Ploes, Kolam Susu yang Orang bilang tanah kita tanah sorga. Atau tak seperti kata-kata yang aku tak memahami seluruhnya, negara gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Atau aku memang terlahir di zaman yang kacau-balau? Kalau begitu betapa sialnya aku.
Tapi tidak. Dunia memang selalu begini. Tampaknya mustahil kebenaran dan keadilan dapat menumpas habis kejahatan dan keserakahan sampai habis. Sebab aku mendengar cerita sejarah yang selalu saja bergilir antara keduanya. Cerita-cerita kehidupan sejak zaman Adam selalu saja berebut antara kebenaran dengan kebathilan. Antara kejujuran dan keserakahan. Selalu saja. Aku tak ingin menjadi naïf dan menutup mata dengan realitas ini. Dan memang inilah faktanya. Sampai kapanpun, putih akan tetap menjadi putih, apapun orang menyebutnya. Hitam akan tetap menjadi hitam, apapun orang menyebutnya. Keduanya akan terus lahir dan mati, tak pernah putus. Ibarat seekor rusa dan harimau. Seekor rusa terbangun di pagi hari, dan ia akan terus berlari menjadi yang tercepat, sebab kalau tidak, habislah ia diterkam harimau. Pun seekor harimau juga bangun di pagi hari, mencoba berlari untuk menjadi yang tercepat, sebab kalau tidak, matilah ia kelaparan kerana tak dapat menangkap satu pun rusa. Hidup, mengharuskan kita untuk memilih antara keduanya untuk kemudian bertarung melawan salah satunya.
Sebagai pemuda, aku memang pantas muak. Tapi aku tak boleh kecewa dengan keadaan kemudian berlari pergi menjauh. Karena aku yakin setelah mati nanti aku akan dibangkitkan sekali lagi untuk ditanya, “Kau gunakan apa hidupmu?” Aku mencoba menengok cermin. Kudapati fisikku yang prima, rupa yang elok lagi betapa segarnya. Akalku yang sempurna tak kurang satu apapun. Aku beruntung. Kufur? Aku tak ingin menjadi orang yang kufur dengan semua yang kumiliki. Seburuk apapun diriku, aku masih orang beriman.
Mencoba mengambil sudut pandang lebih luas tentang kehidupan, maka aku adalah manusia. Hadirnya diriku ke dunia hendaknya mampu memberi makna. Makna akan hidup dan kehidupan itu sendiri. Untuk diriku, dan untuk orang lain. Setidaknya kehadiranku dapat terasa oleh manusia. Sebab aku memanusiakan manusia. Biarlah orang tak mengenal namaku, itu tak penting. Tapi satu hal yang tak bisa tidak, hadirnya diriku haruslah menuai manfaat bagi orang lain.
Sekali lagi aku muak. Sangat muak dengan kebejatan dan keserakahan manusia. Dalam hidupku aku memilih untuk berpihak kepada “putih”. Meski aku sadar bahwa terlalu banyak noda di tubuhku. Tapi aku lebih sadar bahwa putih akan membuatku putih. Bersih, tanpa noda. Tak perlu aku menunggu sampai menjadi putih untuk memperjuangkan putih melawan hitam. Sebab aku tak akan menjadi putih kalau aku tak mencoba dan terjun. Namanya proses. Aku percaya bahwa noda-noda hitam yang menempel di tubuhku perlahan akan hilang tertindih goresan-goresan putih yang kubuat. Aku kembali.
Sejak dulu aku ingin punya sayap. Ibarat burung yang bisa terbang tinggi kemana saja. Melihat dunia dari atas. Bebas. Bernyanyi, berkicau, bermanuver dengan kepakan-kepakan sayap yang seirama dalam rombongan terbangnya.
Dan terbang.
13-02-2012, Lampung.


1 komentar:

  1. Blog ini mungkin sepi, atau telah ditinggalkan, tapi menyenangkan bisa membaca dan terinspirasi banyak karenanya. Terimakasih.
    2012 ke 2017, bukan kah waktu terasa cepat?
    Saya termasuk yang menantikan dengan sabar (sekaligus penasaran) bagaimana kelanjutan perjalanan seorang Taufik Aulia.
    Selamat berjuang dan semoga berhasil!

    BalasHapus