#1
Malam ini aku baru berani menulis, menuliskan segala yang
muncul dalam benakku. Setelah sekian lama aku bergerak, dan itu semua sekarang
tinggal serpihan-serpihan sejarah terbalut waktu yang tak terekam. Padahal
dalam pada itu banyak cerita-cerita yang luar bisaa, banyak pikiran-pikiranku
yang ingin kusampaikan kepada dunia.
Aku sadar, banyak sekali yang terlewat untuk kutulis. Tapi
apa salahnya jika aku memulainya kini. Aku harap goresan-goresan penaku dapat
diambil manfaatnya oleh generasi setelahku. Adik-adikku, hingga anak-anak dan
cucu-cucuku. Tak lebih. Siapa aku berani berharap lebih?
Februari 2012. Di ruang waktu ini aku berada sekarang. Tiga
semester telah kulalui di almamaterku, Universitas Diponegoro. Dan setelah 20
tahun aku terlahir aku baru berani menggoreskan penaku. Tak apalah, daripada
tidak sama sekali.
Malam ini, aku ingin menuliskan siapa aku. Satu hal yang
utama seperti yang diajarkan ibu, ayah, dan guru-guruku, bahwa aku adalah hamba
dari Allah yang menciptakan kehidupan ini.
Selalu, tidak akan pernah berhenti. Identitas sebagai hamba-Nya akan
selalu tersemat dalam hati, lisan, dan tindakanku. Ini sumpahku.
Kemudian aku beralih pada sisi lain, jelas aku adalah anak
dari dua insan yang ditakdirkan aku terlahir dari keduanya. Dari sel sperma dan
sel telur ayah dan ibuku, yang dipertemukan-Nya. Tentang keduanya, maka
merekalah orang tua terbaik yang pernah ada di bumi. Hadirnya mereka memberi
makna dalam hidup dan kehidupanku. Banyak anak yang resah berkata, “Orang tuaku
tak sempurna.” Ada kurangnya. Aku tak mengiyakan juga tak menyangkalnya. Aku
hanya berkata, “Keduanya akan dan selalu mencintaimu dengan sempurna.”
Entah apa namanya, sebut saja status atau identitas.
Statusku yang baru tiga semester kusandang adalah mahasiswa. Jujur aku bangga.
Dan sejujurnya aku lebih nyaman jika disebut pemuda. Karena dengan demikian aku
merasa menjadi satu dengan seluruh anak negeri, bahkan anak bumi. Sebab tak
semua pemuda beruntung bisa duduk di bangku perguruan tinggi yang katanya
dihuni orang intelek. Tapi sebenarnya kita tak butuh mahasiswa. Yang kita butuh
adalah pemuda-pemuda terpelajar yang tak pernah berhenti dari geraknya untuk
sebuah kejayaan. Yang tak hanya bisa duduk dan belajar kemudian beroleh IP
tinggi lalu kemudian mencari kerja, dan kaya. Yang tak hanya bisa berpikir,
rapat, dan teriak-teriak di jalanan. Tapi kita butuh pemuda dan mahasiswa yang
peduli dan peka. Dengan dirinya, keluarga, kampus, masyarakat, bangsa dan
negaranya, bahkan dunia. Dan bukan berarti unsur kecerdasan akademis dan
leadership serta daya kritis tak kita butuhkan. Justru ini menjadi motor utama
yang menjiwai identitas kita.
Aku muak. Dunia indahnya tak seperti surga, memang. Dan
negeriku indahnya tak seperti lagu Koes Ploes, Kolam Susu yang Orang bilang
tanah kita tanah sorga. Atau tak seperti kata-kata yang aku tak memahami
seluruhnya, negara gemah ripah loh
jinawi, tata tentrem karta raharja. Atau aku memang terlahir di zaman yang
kacau-balau? Kalau begitu betapa sialnya aku.
Tapi tidak. Dunia memang selalu begini. Tampaknya mustahil kebenaran
dan keadilan dapat menumpas habis kejahatan dan keserakahan sampai habis. Sebab
aku mendengar cerita sejarah yang selalu saja bergilir antara keduanya. Cerita-cerita
kehidupan sejak zaman Adam selalu saja berebut antara kebenaran dengan
kebathilan. Antara kejujuran dan keserakahan. Selalu saja. Aku tak ingin
menjadi naïf dan menutup mata dengan realitas ini. Dan memang inilah faktanya.
Sampai kapanpun, putih akan tetap menjadi putih, apapun orang menyebutnya.
Hitam akan tetap menjadi hitam, apapun orang menyebutnya. Keduanya akan terus
lahir dan mati, tak pernah putus. Ibarat seekor rusa dan harimau. Seekor rusa
terbangun di pagi hari, dan ia akan terus berlari menjadi yang tercepat, sebab
kalau tidak, habislah ia diterkam harimau. Pun seekor harimau juga bangun di pagi
hari, mencoba berlari untuk menjadi yang tercepat, sebab kalau tidak, matilah
ia kelaparan kerana tak dapat menangkap satu pun rusa. Hidup, mengharuskan kita
untuk memilih antara keduanya untuk kemudian bertarung melawan salah satunya.
Sebagai pemuda, aku memang pantas muak. Tapi aku tak boleh
kecewa dengan keadaan kemudian berlari pergi menjauh. Karena aku yakin setelah
mati nanti aku akan dibangkitkan sekali lagi untuk ditanya, “Kau gunakan apa
hidupmu?” Aku mencoba menengok cermin. Kudapati fisikku yang prima, rupa yang
elok lagi betapa segarnya. Akalku yang sempurna tak kurang satu apapun. Aku
beruntung. Kufur? Aku tak ingin menjadi orang yang kufur dengan semua yang
kumiliki. Seburuk apapun diriku, aku masih orang beriman.
Mencoba mengambil sudut pandang lebih luas tentang
kehidupan, maka aku adalah manusia. Hadirnya diriku ke dunia hendaknya mampu
memberi makna. Makna akan hidup dan kehidupan itu sendiri. Untuk diriku, dan
untuk orang lain. Setidaknya kehadiranku dapat terasa oleh manusia. Sebab aku
memanusiakan manusia. Biarlah orang tak mengenal namaku, itu tak penting. Tapi
satu hal yang tak bisa tidak, hadirnya diriku haruslah menuai manfaat bagi
orang lain.
Sekali lagi aku muak. Sangat muak dengan kebejatan dan
keserakahan manusia. Dalam hidupku aku memilih untuk berpihak kepada “putih”.
Meski aku sadar bahwa terlalu banyak noda di tubuhku. Tapi aku lebih sadar
bahwa putih akan membuatku putih. Bersih, tanpa noda. Tak perlu aku menunggu
sampai menjadi putih untuk memperjuangkan putih melawan hitam. Sebab aku tak
akan menjadi putih kalau aku tak mencoba dan terjun. Namanya proses. Aku
percaya bahwa noda-noda hitam yang menempel di tubuhku perlahan akan hilang
tertindih goresan-goresan putih yang kubuat. Aku kembali.
Sejak dulu aku ingin punya sayap. Ibarat burung yang bisa
terbang tinggi kemana saja. Melihat dunia dari atas. Bebas. Bernyanyi,
berkicau, bermanuver dengan kepakan-kepakan sayap yang seirama dalam rombongan
terbangnya.
Dan .
13-02-2012, Lampung.

Blog ini mungkin sepi, atau telah ditinggalkan, tapi menyenangkan bisa membaca dan terinspirasi banyak karenanya. Terimakasih.
BalasHapus2012 ke 2017, bukan kah waktu terasa cepat?
Saya termasuk yang menantikan dengan sabar (sekaligus penasaran) bagaimana kelanjutan perjalanan seorang Taufik Aulia.
Selamat berjuang dan semoga berhasil!